Saturday, January 28, 2023
HomePolitikaHarga Beras Disebut Tertinggi Di ASEAN, APT2PHI: Data Bank Dunia Tidak Akurat!

Harga Beras Disebut Tertinggi Di ASEAN, APT2PHI: Data Bank Dunia Tidak Akurat!

Ilustrasi. (foto: new mandala)

JAKARTA – Bank Dunia menyebutkan bahwa harga eceran beras di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN dalam10 tahun terakhir. Hal tersebut disampaikan Bank Dunia dalam laporan bertajuk Indonesia Economic Prospects (IEP) December 2022 pada Senin (19/12/2022).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikutura Indonesia (APT2PHI), Rahman Sabon Nama mengatakan bahwa pernyataan Bank Dunia tidak semuanya benar.

“Karena harga beras di Thailand, Vietnam dan Pakistan beras kualitas medium kelas 3 broken 25% adalah Rp 9.900/kg sedangkan harga beras dengan kualitas yang sama di penggilingan dalam negeri adalah Rp 7.800/kg. Ini jelas jauh lebih murah,” ujar Rahman Sabon Nama pada cakrawarta.com, Rabu (21/12/2022).

Menurut alumnus Lemhanas itu, beras yang diimpor oleh pemerintah pada Desember 2022 misalnya adalah beras medium kualitas 3 broken 25% tetapi herannya, oleh pemerintah dalam hal ini Kepala Bulog dan Kepala Badan Ketahanan Pangan dinyatakan sebagai beras komersial atau premium.

“Artinya pemerintah berbohong!” tegas pria asal NTT itu.

Rahman memaparkan bahwa beras yang diimpor dari harganya diketahui dan dipastikan adalah beras medium kualitas 3 broken 25% dengan harga FOB Bangkok Port Rp 9.900/kg ditambah 12,5% untuk ongkos CIF dan handling cost. Karena itu, menurutnya, harga border di Pasar Induk Cipinang Jakarta menjadi Rp 11.280 dengan hitungan kurs Rp 14.000 per USD.

“Ini bahkan berarti pemerintah memberi subsidi untuk petani luar negeri sebesar Rp 3.480/kg atau dengan kata lain pemerintah rugi sebesar Rp.3.480/kg,” imbuhnya.

Menurut Rahman, harga beras yang disebutkan oleh Bank Dunia dalam IEP Desember 2022 itu merupakan beras medium broken 15% dengan harga eceran di Jakarta adalah Rp 9.800/kg sedangkan beras komersil atau premium broken 10% adalah Rp 11.700-Rp 12.000/kg.

“Artinya data Bank Dunia tidak akurat,” tandasnya.

Rahman menjelaskan, berdasarkan data APT2PHI, justru dampak dari kebijakan pemerintah dengan mengimpor beras pada tahun 2022 menyebabkan terjadinya kejatuhan harga gabah petani dibawah harga dasar HD terendah di bulan panen gaduh Desember 2022. Kejatuhan harga tersebut masih tetap berlangsung hingga 45-50%, setelah pertengahan Desember 2022 sebanyak 200 ribu ton beras impor masuk di berbagai pelabuhan di Indonesia.

(bm/bus/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular