Gus Kikin Silaturahmi ke Nurul Jadid, Perkuat Jejaring Pesantren dan Rawat Qanun Asasi NU

Gus Kikin menyerahkan buku tentang NU dan Qanun Asasi pada Pengasuh Pesantren Nurul Jadid KH Moh. Zuhri Zaini dalam kunjungannya ke ponpes tersebut, Sabtu (22/8/2026). (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

PROBOLINGGO, CAKRAWARTA.com –Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, bersilaturahmi ke Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (22/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum memperkuat hubungan antar pesantren sekaligus membicarakan pentingnya merawat warisan pemikiran ulama Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Kikin diterima Pengasuh Pesantren Nurul Jadid KH Moh. Zuhri Zaini bersama keluarga besar pesantren. Hadir pula KH Abdul Hamid Wahid serta sejumlah pengasuh dan keluarga Pesantren Nurul Jadid.

Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan itu, keduanya membicarakan perjalanan NU dan pentingnya menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi pijakan organisasi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah Qanun Asasi NU, dokumen yang memuat dasar pemikiran dan prinsip perjuangan Nahdlatul Ulama. Upaya menghimpun dan menyusun kembali dokumen tersebut dinilai penting agar warisan pemikiran para pendiri NU dapat dipelajari dan dipahami generasi berikutnya.

KH Moh. Zuhri Zaini mengapresiasi ikhtiar tersebut. Menurut dia, Qanun Asasi tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga dapat menjadi salah satu rujukan dalam memahami dasar dan arah perjuangan NU.

“Qanun Asasi ini sangat penting. Ini menjadi dasar pijakan berjalannya organisasi NU dan sekaligus menjadi bahan kajian,” ujar Zuhri.

Ia mengibaratkan Qanun Asasi sebagai konstitusi bagi NU, sebagaimana Undang-Undang Dasar menjadi landasan penyelenggaraan kehidupan bernegara.

“Seperti halnya Undang-Undang Dasar negara, Qanun Asasi adalah dasar untuk NU,” katanya.

Bagi Gus Kikin, silaturahmi antar pesantren merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan perjuangan ulama. Pesantren, menurut dia, memiliki posisi strategis dalam perjalanan NU karena menjadi tempat tumbuhnya pendidikan keislaman, tradisi keilmuan, pengabdian kepada masyarakat, dan semangat kebangsaan.

Pertemuan dengan keluarga besar Pesantren Nurul Jadid juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antar pesantren. Hubungan tersebut dinilai penting untuk menjaga mata rantai keilmuan dan perjuangan ulama sekaligus memperkuat sinergi pesantren dengan NU.

Selain hubungan kelembagaan, silaturahmi tersebut juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali warisan pemikiran ulama terdahulu dalam menghadapi perkembangan zaman. Dokumen seperti Qanun Asasi, kata para pengasuh pesantren, perlu ditempatkan bukan hanya sebagai arsip sejarah, tetapi sebagai bahan kajian yang dapat membantu generasi NU memahami akar pemikiran organisasinya.

Kunjungan Gus Kikin ke Pesantren Nurul Jadid berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Pertemuan tersebut memperlihatkan kuatnya hubungan antara tradisi pesantren dan NU dalam merawat khazanah keislaman, nilai kebangsaan, serta agenda kemaslahatan umat.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi