Grand Strategy: Pakistan dan Turki dalam Bidikan Israel Berikutnya?

Dunia baru saja menyaksikan salah satu babak paling dramatis dalam konflik Timur Tengah modern. Iran, yang selama lebih dari empat dekade ditempatkan sebagai “musuh utama” Israel dan negara-negara Barat, pada akhirnya terbukti menjadi sasaran serangan besar-besaran yang dilancarkan Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat, yang menghancurkan sebagian infrastruktur militer strategis serta fasilitas penting Iran.

Sebagian kalangan di dunia internasional menyambutnya dengan optimisme. Mereka beranggapan bahwa ini merupakan titik akhir dari ketegangan panjang. Mereka meyakini bahwa kawasan Timur Tengah akan bergerak menuju stabilitas yang lebih damai.

Sebagai seseorang yang pernah menjalankan tugas sebagai penasihat militer Indonesia di Dewan Keamanan PBB, saya justru melihatnya dari sudut pandang berbeda. Saya perlu menyampaikan secara tegas: jangan terburu-buru menyimpulkan. Ini bukanlah penutup dari sebuah konflik. Ini justru pembuka bagi babak baru yang berpotensi jauh lebih kompleks dan berbahaya.

Dalam praktik intelijen dan strategi militer, terdapat prinsip mendasar yaitu jangan hanya mendengar apa yang dikatakan pihak lawan, tetapi perhatikan ke mana arah langkahnya. Saat ini, meskipun debu konflik di Iran belum sepenuhnya mereda, arah pergerakan Israel telah memperlihatkan pola yang cukup terang. Indikasi kuat menunjukkan bahwa langkah lanjutan tengah disiapkan secara sistematis.

Sasaran berikutnya bukan lagi Hizbullah di Lebanon, bukan Hamas di Gaza, dan bukan pula kelompok-kelompok pro Iran di Suriah maupun Yaman. Fokus berikutnya mengarah kepada dua negara Muslim besar yang memiliki pengaruh strategis di kawasan Asia dan Timur Tengah, yakni Pakistan dan Turki.

Namun demikian, penting untuk dipahami secara tepat. Israel tidak akan melakukan invasi konvensional dengan mengerahkan divisi tank ke Karachi atau Istanbul. Mereka belajar dari pengalaman panjang di Afghanistan, Lebanon, dan Gaza bahwa operasi darat terbuka berisiko tinggi. Sebaliknya, pendekatan yang digunakan akan lebih halus, lebih kompleks, dan lebih sulit dideteksi: invasi proksi.

Konsep “invasi proksi” mungkin belum akrab bagi sebagian masyarakat. Selama ini, invasi kerap dibayangkan sebagai pengerahan tank, jet tempur, dan pasukan terjun payung. Itu adalah model konvensional. Dalam konteks Pakistan dan Turki, pendekatan tersebut tidak lagi relevan.

Invasi proksi adalah strategi menyerang sebuah negara tanpa kehadiran langsung pasukan nasional penyerang. Sebagai gantinya, digunakan berbagai instrumen tidak langsung seperti aliansi regional, transfer teknologi militer, dukungan intelijen, pendanaan kelompok oposisi atau pemberontak, hingga tekanan ekonomi berkelanjutan.

Pendekatan inilah yang selama dua dekade terakhir diterapkan terhadap Iran. Tanpa deklarasi perang terbuka, berbagai tekanan dilakukan secara konsisten mulai dari dukungan terhadap oposisi internal, serangan siber terhadap fasilitas strategis, hingga operasi tersembunyi terhadap ilmuwan nuklir.

Kini, pola serupa tampak mulai diarahkan kepada Pakistan dan Turki. Perbedaannya terletak pada skala dan kompleksitas, mengingat kedua negara ini memiliki kapasitas pertahanan yang lebih kuat.

Pakistan menjadi kasus yang sangat krusial. Negara ini diyakini sebagai satu-satunya negara Muslim yang memiliki kemampuan nuklir yang kredibel. Meskipun tidak secara terbuka diakui, kapasitas tersebut telah lama menjadi faktor penyeimbang strategis di kawasan.

Namun, pendekatan yang digunakan untuk melemahkan Pakistan tidak dilakukan secara langsung. Strateginya adalah menjepit dari dua arah sekaligus.

Di sisi timur, hubungan militer antara Israel dan India menunjukkan penguatan signifikan. Kerja sama ini mencakup berbagai bentuk transfer teknologi dan pengadaan persenjataan dalam jumlah besar. Sistem pertahanan udara, pesawat pengintai, drone bersenjata, hingga perangkat siber menjadi bagian dari arsitektur kekuatan baru yang berimplikasi langsung pada keseimbangan militer di Asia Selatan.

Sementara itu, di sisi barat, situasi keamanan di perbatasan Afghanistan masih belum stabil. Kelompok-kelompok bersenjata tetap aktif melakukan serangan, menciptakan tekanan berkelanjutan terhadap stabilitas internal Pakistan. Dalam situasi seperti ini, Pakistan dipaksa membagi perhatian dan sumber dayanya secara simultan.

Kondisi tersebut mencerminkan esensi invasi proksi yaitu melemahkan negara sasaran melalui tekanan berlapis tanpa konfrontasi langsung.

Di sisi lain, Turki menghadapi dinamika yang tidak kalah kompleks. Sebagai anggota NATO sekaligus aktor regional yang vokal dalam isu Palestina, posisi Turki menjadi unik sekaligus rentan.

Israel memperkuat kerja sama dengan Yunani dan Siprus yang merupakan dua negara yang memiliki sejarah ketegangan dengan Turki. Kerja sama ini meliputi pelatihan militer, pengembangan sistem pertahanan, serta peningkatan kemampuan pengawasan kawasan Laut Tengah.

Di saat yang sama, dinamika politik domestik Turki juga menjadi arena lain yang tidak kalah penting. Dukungan terhadap kelompok oposisi, penguatan narasi media, dan pengaruh eksternal menjadi bagian dari strategi tidak langsung untuk melemahkan kepemimpinan yang dianggap tidak sejalan.

Namun demikian, tekanan terhadap Pakistan dan Turki juga memunculkan dinamika baru. Beberapa negara di kawasan mulai memperkuat koordinasi, menciptakan pola kerja sama yang lebih erat dalam bidang keamanan dan diplomasi.

Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Mesir, misalnya, memiliki potensi untuk saling melengkapi dalam berbagai aspek baik militer, ekonomi, maupun geopolitik. Dengan jumlah penduduk besar, posisi geografis strategis, dan sumber daya yang signifikan, keempat negara ini berpotensi menjadi penyeimbang baru dalam dinamika kawasan.

Dalam konteks ini, Indonesia tidak dapat bersikap pasif. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan posisi strategis dalam politik internasional, Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan global.

Jika keseimbangan geopolitik di Timur Tengah dan Asia Selatan berubah secara drastis, dampaknya akan terasa hingga ke Asia Tenggara. Oleh karena itu, kewaspadaan menjadi keniscayaan.

Langkah-langkah strategis perlu dipertimbangkan secara matang. Penguatan diplomasi dengan negara-negara mitra, peningkatan kerja sama pertahanan, serta peran aktif dalam forum internasional menjadi bagian penting dari respons yang diperlukan.

Selain itu, isu invasi proksi perlu mulai dibahas dalam kerangka hukum internasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk konflik modern tidak lagi selalu bersifat konvensional, sehingga membutuhkan pendekatan regulatif yang lebih adaptif.

Tulisan ini bukanlah ajakan untuk berkonfrontasi, melainkan sebuah upaya untuk membaca arah perubahan yang sedang berlangsung. Dunia tengah bergerak menuju konfigurasi baru, di mana strategi tidak langsung menjadi instrumen utama dalam persaingan global.

Pakistan dan Turki, dengan segala kapasitas dan peran strategisnya, berpotensi menjadi titik fokus dalam dinamika tersebut. Indonesia, sebagai bagian dari komunitas global, perlu memposisikan diri secara bijak dimana ia menjadi sikap waspada tanpa provokatif, aktif tanpa konfrontatif.

Karenanya, stabilitas dunia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan membaca arah zaman dan meresponsnya dengan kebijakan yang tepat.

Semoga bangsa Indonesia senantiasa diberikan keteguhan dalam menjaga kepentingan nasional serta berkontribusi bagi perdamaian dunia.(*)

Cisaranten – Bandung, 23 April 2026

 

MAYOR JENDERAL TNI (PURN) FULAD

Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB (2017-2019)