Wednesday, April 17, 2024
HomePolitikaFahd BAPERA: Indonesia Bisa Jadi Poros Tengah Dan Juru Damai Konflik Rusia-Ukraina!

Fahd BAPERA: Indonesia Bisa Jadi Poros Tengah Dan Juru Damai Konflik Rusia-Ukraina!

Ketum DPP BAPERA Fahd El-Fouz A Rafiq dalam acara pelantikan pengurus DPD BAPERA beberapa waktu lalu. Ia meminta Indonesia bisa jadi penengah konflik Rusia-Ukraina sehingga tak sampai terjadi perang yang memakai senjata nuklir berhulu ledak besar. (foto: Sofyan)

JAKARTA – “Indonesia harus menjadi negara netral dan poros tengah terkait konflik global, khususnya di kawasan Eropa Timur.  Logisnya Indonesia tidak memihak negara manapun yang berperang akan meskipun perang dalam bidang apapun ujungnya akan menimbulkan pertumpahan darah yang secara langsung akan mengurangi populasi manusia,” tandas Fahd El Fouz A Rafiq saat ditanya mengenai posisi Indonesia di tengah pusaran konflik dunia saat ini, Kamis, (26/1/2023) di Jakarta.

Ketua Umum DPP Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) memaparkan fakta terkait perang di dunia selama ini telah memakan korban ratusan juta nyawa manusia di 75 negara.

“Perang Dunia I korbannya 18 juta jiwa, Pemberontakan Taiping 20 juta, Penaklukan Dinasti Qing 25 juta, Perang Sino Jepang II menewaskan 25 juta warga sipil, penaklukan Spanyol atas Amerika 56 juta orang dan 70 juta korban tewas karena Perang Dunia II. Belum lagi perang–perang kecil setelahnya. Jika dihitung sejak abad 10 total 500 juta jiwa korbannya,” papar putra penyanyi dangdut ternama A Rafiq itu.

Menurut Fahd, saat ini Amerika Serikat berkuasa di dunia tepat 75 tahun dan ia menilai ada riak-riak menuju Perang Dunia III yang dimulai dari konflik Rusia-Ukraina.

“Dari situ (konflik Rusia-Ukraina, red.) muncul ramalan perang dan statement yang masih menghiasi media internasional terkait perang Rusia Ukraina dimana pihak Rusia mengatakan bahwa Ukraina mengkhianati perjanjian Minks,” tukasnya mantan Ketum PP-AMPG itu.

Fahd menjelaskan bahwa Perjanjian Minks adalah upaya damai berupa gencatan senjata antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia. Tapi Perjanjian Minks, lanjut Fahd, memiliki dua perspektif yang berbeda di kedua negara tersebut.

Pihak Rusia meyakini bahwa Perjanjian Minks memberikan otonomi khusus kepada Luhansk dan Donetsk sebelum dipersatukan kembali dengan Ukraina dengan Rusia tetap mempertahankan pengaruhnya atas dua negara itu.

Sementara itu, Fahd melanjutkan bahwa versi Ukraina, Perjanjian Minks berarti, sepenuhnya kedaulatan itu milik Ukraina dengan kekuasaan tertentu yang diberikan kepada Luhansk dan Donestk.

“Jadi terdapat dua sudut pandang yang berbeda disini. Upaya untuk mengamankan gencatan senjata antara pasukan Pemerintah Ukraina dan separatis yang didukung Rusia di timur Ukraina,” katanya.

Menurut mantan Ketum DPP KNPI itu, aksioma sederhana dalam peperangan modern yang sangat popular yaitu disintegrasi kekuatan nuklir kuat merupakan permainan catur yang berakhir dengan kematian.

“Kekuatan nuklir yang diketahui dengan tepat kapan skakmat datang, maka kiamat bagi umat manusia,” tegasnya.

Fahd menilai, dalam konflik Rusia-Ukraina, pihak Amerika Serikat dan NATO mengambil keuntungan dari konflik militer sehingga ada kesan dibiarkan dan dirawat, agar Rusia bisa menghilang dari percaturan politik global.

“Karena bangsa Anglo-Saxon hobinya adalah berperang, maka sangat wajar jika benua Eropa negerinya terpecah-pecah karena faktor alam dan survivalitas hidup yang sangat keras di sana. Contoh Yugoslavia, Cekoslovakia, Austria-Hungaria, Jerman Barat-Timur, dan masih banyak negara lain yang bubar di abad 19 dan 20,” paparnya.

Fahd sependapat dengan mantan Presiden Rusia Dmitri Medvedev yang mengatakan, mimpi kotor orang Anglo Saxon adalah bagaimana memecah Rusia ke dalam beberapa wilayah dan memotongnya menjadi kecil-kecil seperti Yugoslavia.

Di sisi lain, retorika Vladimir Putin itu terukur dimana melakui Jubir kremlin Dmitry Peskov, Rusia akan menggunakan senjata nuklir jika para pemimpin negeri Rusia menghadapi ancaman ekstensial dan integritas territorial.

Karenanya, menurut Fahd, Indonesia harus muncul sebagai kekuatan poros tengah yang tidak boleh berhenti untuk mendinginkan situasi sehingga Rusia dan NATO tidak sampai menggunakan nuklir berhulu ledak besar.

“Eropa Barat yang kontra dengan Rusia jumlahnya 30 negara. Artinya, jika sampai terjadi penggunaan nuklir berhulu ledak besar maka ratusan juta manusia akan kembali jadi korban. Karenanya, saya tegaskan  bahwa belum terlambat bagi Indonesia mengupayakan terjadinya perdamaian dunia dan mencegah penggunaan nuklir untuk perang. Kita  bisa,” pungkas Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar itu dengan penuh optimisme.

(asw/bus)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular