
“Ini pertama kalinya aku berpuasa. Aku senang, tapi aku khawatir teman-temanku tidak akan mengerti kenapa aku tidak makan siang.” — Reem Faruqi, penulis buku anak-anak pemenang penghargaan, fotografer, dan pendidik tinggal di Atlanta, Georgia, dalam Lailah’s Lunchbox: A Ramadan Story (2015)
Dinamika puasa Ramadan 1447 H. atau 2026 M, di tengah ancaman krisis global perang Amerika, Israel vs Iran, makin menegaskan krisis ekoteologi nyaris tanpa de-eskalasi.
Dengan kata lain, berpuasa, dalam kerangka praksis ekoteologi Islam, tampil bukan sekadar ritual tahunan di bulan Ramadhan, melainkan latihan spiritual yang menyatukan manusia dengan alam dan sesamanya.
Reem Faruqi dalam Lailah’s Lunchbox: A Ramadan Story menggambarkan dengan jernih bagaimana seorang anak Muslim belajar mengekspresikan identitasnya melalui puasa di lingkungan baru.
Dari kisah sederhana itu tampak bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membentuk keberanian, solidaritas, dan penerimaan sosial.
Nilai-nilai ini, bila ditarik ke ranah ekoteologi, menjadi pelajaran tentang hidup selaras dengan keterbatasan, sebuah sikap yang relevan di tengah krisis ekologis modern.
Sejarah panjang puasa, sebagaimana ditelusuri oleh Randi Fredricks dalam Fasting: An Exceptional Human Experience, menunjukkan bahwa praktik ini ditemukan di hampir semua agama besar.
Islam dengan ṣawm, Kristen dengan Lent, Yahudi dengan tzom, Hindu dengan upavāsa, Buddhisme dengan uposatha, hingga Taoisme dengan zhai, semuanya menempatkan puasa sebagai sarana transformasi spiritual.
Fredricks menekankan bahwa puasa adalah pengalaman universal yang melintasi batas agama, budaya, dan sejarah, dengan dimensi spiritual, psikologis, medis, bahkan politik.
Kajian mutakhir oleh Singh dan Saha menambahkan dimensi kesehatan bahwa puasa memberi manfaat metabolik, kardiovaskular, neurologis, dan psikologis. Dengan demikian, puasa adalah jembatan antara tubuh dan jiwa, antara manusia dan alam.
Perspektif ekoteologi praksis menemukan fondasi filosofisnya dalam karya Seyyed Hossein Nasr Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968). Nasr, filsuf Islam kelahiran Teheran, menegaskan bahwa krisis ekologi berakar pada krisis spiritual manusia modern yang telah mendesakralisasi alam.
Alam dipandang sekadar objek eksploitasi, kehilangan makna sakralnya sebagai ciptaan Tuhan.
Ia menawarkan solusi berupa resakralisasi ilmu dan alam, mengembalikan pandangan bahwa alam adalah ayat Tuhan yang harus dihormati.
Dalam kerangka ini, puasa menjadi praktik yang mengingatkan manusia pada keterbatasan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap ciptaan.
Puasa, dengan demikian, adalah pengalaman lintas agama yang bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga latihan ekologis.
Ia mengajarkan manusia untuk hidup dengan kesadaran, menahan diri dari konsumsi berlebihan, dan menghormati alam sebagai ciptaan yang sakral.
Dari kisah anak kecil seperti Lailah hingga refleksi filosofis Nasr, dari penelitian Fredricks hingga kajian kesehatan Singh dan Saha, puasa menjadi simbol universal bahwa krisis batin dan krisis ekologi dapat dijawab dengan resakralisasi hidup.
Dengan demikian, puasa melalui praktik sederhana namun mendalam: menahan diri, menghormati alam, dan menemukan harmoni dengan ciptaan.
#coverlagu: “Kemarau” adalah lagu Pas Band yang dirilis pada 2 November 2004 sebagai bagian dari album Stairway to Seventh. Lagu ini memaknai kemarau bukan sekadar musim kering, melainkan simbol kekosongan, keterasingan, dan pencarian makna hidup di tengah kerasnya realitas sosial. Pas Band, kelompok musik rock asal Bandung yang berdiri sejak 1991, dikenal dengan gaya alternatif yang memadukan hard rock, punk, rap, dan metal.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



