Tuesday, January 13, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiKesehatanDisebut “Silent Killer”, REKAN Indonesia: Diabetes Mengintai Tanpa Kita Sadari!

Disebut “Silent Killer”, REKAN Indonesia: Diabetes Mengintai Tanpa Kita Sadari!

ilustrasi.

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Penyakit berbahaya tidak selalu hadir dengan gejala mencolok. Sejumlah kondisi serius justru berkembang perlahan tanpa keluhan berarti dan kerap luput disadari. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai silent killer. Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia menilai diabetes melitus merupakan salah satu ancaman paling nyata dari kategori tersebut.

Ketua Umum REKAN Indonesia, Agung Nugroho mengatakan bahwa diabetes kini menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat karena banyak penderitanya tidak menyadari kondisi yang dialami. “Merasa sehat tidak selalu berarti bebas risiko,” ujarnya di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Data nasional menunjukkan prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan pemeriksaan gula darah mendekati 12%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah kasus yang terdiagnosis secara medis, menandakan masih lebarnya kesenjangan antara penderita dan mereka yang mengetahui status kesehatannya.

Indonesia juga termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Tren peningkatan kasus terjadi seiring perubahan pola makan, gaya hidup kurang aktif, serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Menurut Agung, persoalan utama diabetes bukan hanya pada jumlah kasus, melainkan pada sifat penyakit yang sering tidak menimbulkan gangguan berarti pada fase awal. Penderitanya masih dapat beraktivitas normal. Gejala yang muncul seperti sering haus, sering buang air kecil, cepat lelah, atau penurunan berat badan, kerap dianggap wajar dan tidak mendorong pemeriksaan medis.

Masalah serius muncul ketika kondisi tersebut berlangsung lama tanpa disadari. Pada tahap tertentu, kadar gula darah dapat meningkat tajam, sementara sel tubuh tidak mampu memanfaatkannya akibat kekurangan insulin. Tubuh kemudian membakar lemak sebagai sumber energi darurat dan menghasilkan zat keton yang bersifat asam, yang berbahaya bila menumpuk.

Agung Nugroho, Ketua Umum REKAN Indonesia. (foto: dokumen pribadi)

Dalam kondisi ini, tubuh melakukan kompensasi, salah satunya melalui perubahan pola napas menjadi lebih dalam dan cepat. Namun perubahan tersebut tidak selalu dirasakan sebagai sesak, sehingga penderita kerap tetap merasa baik-baik saja meski secara medis berada dalam kondisi gawat darurat.

Agung menilai bahaya silent killer diperparah oleh kebiasaan menormalisasi gejala ringan. Rasa haus dianggap sepele, kelelahan diterima sebagai konsekuensi kesibukan, dan penurunan berat badan kerap dipersepsikan positif. Padahal, perubahan kecil yang terjadi berulang dapat menjadi sinyal awal penyakit serius.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan sederhana dan rutin. Menurutnya, pencegahan bukan semata soal teknologi medis, melainkan kesadaran individu untuk mendengarkan tubuh dan tidak mengabaikan tanda-tanda awal.

“Usia muda bukan jaminan,” kata Agung. Dalam menghadapi penyakit yang bekerja dalam diam, kewaspadaan menjadi kunci. Sebab, pada silent killer, ancaman terbesar sering kali bukan hanya penyakitnya, melainkan keterlambatan menyadarinya.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular