Data Menunjukkan Bahwa Pandemi Covid-19 Tidak Menurunkan Nilai Ekonomi dalam Tradisi Mudik Lebaran

0 157
Ilustrasi mudik di era pandemi Covid-19. (foto: the asian parent)

 

 

SURABAYA – Mudik lebaran menjadi tradisi setiap tahun saat Bulan Suci Ramadan untuk berkunjung ke kampung halaman. Berbeda tahun-tahun sebelumnya, lebaran dua tahun ini terdapat larangan mudik lebaran dari pemerintah. Hal ini dikarenakan Indonesia belum juga bebas dari pandemic Covid-19.

Dr. Ni Made Sukartini, SE., M.Si., MIDEC. pakar ekonomi dari Universitas Airlangga menjelaskan bahwa esensi lebaran dan mudik lebaran ada dua. Pertama, sebagai perayaan hari suci dan momen untuk berinteraksi sosial bersama keluarga. Kedua, implikasi bagi aktivitas ekonomi khususnya di daerah pedesaan sangat tinggi.

Dosen ekonomi publik itu menjelaskan bahwa tradisi mudik sebagai perayaan lebaran mempunyai implikasi yang lebih besar dalam konteks ekonomi. Hal ini terkait dengan aktivitas ekonomi dalam kegiatan berbelanja untuk pertemuan keluarga.

“Kegiatan tersebut tentu saja akan membawa daya ungkit ekonomi cukup besar bagi aktivitas ekonomi secara keseluruhan,” jelasnya.

Menurut Made, meski terdapat larangan dari pemerintah untuk mudik, namun hal ini tidak menurunkan nilai ekonomi dari tradisi mudik.

“Saya rasa tidak (menurunkan nilai ekonomi, Red). Jika hal-hal yang tadinya kita lakukan offline sekarang bisa kita lakukan secara online, maka aktivitas ekonomi juga bisa dilakukan. Kita masih bisa belanja di mana posisi kita sekarang, dan mengirimkannya ke sanak saudara kita di desa,” jelasnya.

Made menegaskan bahwa aktivitas ekonomi kini beralih dari luring ke daring. Masyarakat tetap memiliki banyak pilihan untuk berbelanja secara daring. Misalnya, membeli pakaian lebaran melalui UMKM yang sudah terlibat dalam penjualan daring, dan juga membeli makanan atau kue lebaran secara daring  dan mengirimkannya kepada sanak saudara.

Produk-produk hasil pertanian dan UMKM di desa, lanjut Made, juga bisa dipromosikan secara daring. Surplus produksi yang ada di desa dapat dipromosikan oleh pemuda-pemuda desa melalui karang taruna. Hal ini bertujuan agar keluarga yang tidak mudik ke kampung halaman masih bisa menikmati makanan khas desa.

“Dengan cara ini aktivitas ekonomi baik di kota maupun di desa masih bisa berjalan, walaupun tidak sebanyak dan secepat dalam kondisi normal,” imbuhnya.

Akhirnya, dosen yang juga mengajar mata kuliah matematika ekonomi itu mengimbau agar masyarakat menunda rencana dan kebiasaan mudik tahun ini. Hal ini untuk menghindari potensi keterpurukan yang lebih lama lagi dan memutus persebaran Covid-19.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.