Monday, April 15, 2024
HomeHukumBunuh Diri, Faktor Terbesar Polisi Tewas di 2015

Bunuh Diri, Faktor Terbesar Polisi Tewas di 2015

ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) mencatat sepanjang tahun 2015 jumlah polisi tewas di seluruh Indonesia mencapai 18 orang dan 74 luka-luka. Kajian IPW menunjukkan angka itu merupakan korban pengeroyokan, ditembak begal, ditabrak, ditusuk, bentrokan sesama polisi, bentrok dengan TNI, hingga korban bunuh diri. Sedangkan jumlah anggota TNI yang tewas di tahun 2015 ada 10 orang dan 12 luka.

“Jumlah polisi yang tewas ini menurun jika dibanding tahun sebelumnya. Pada 2014 mencapai 41 polisi tewas dan luka-luka 42,” ujar Neta S Pane di Jakarta, Minggu (27/12).

Berdasarkan catatan IPW, pada 2014, polisi tewas akibat ditembak pelaku kriminal atau ditembak sesama polisi menduduki ranking tertinggi sebagai penyebab kematian polisi. “Tapi di 2015 penyebab kematian terbesar akibat bunuh diri sebanyak 7 orang. Selebihnya karena diitembak 4 orang, kecelakaan 3 orang, ditikam 1 orang, dan lain lain 3 orang,” imbuhnya.

Menurut Neta ada yang menonjol dengan data di 2015 adalah adanya anggota polisi yang dikeroyok massa maupun dikeroyok sesama polisi dan TNI. Ibukota Jakarta masih merupakan daerah rawan bagi keselamatan anggota Polri.

“Tahun 2015 ada 15 peristiwa yang membuat satu polisi tewas dan 38 lainnya luka. Selain itu, ada dua polisi yang bunuh diri, dengan cara menembak kepalanya sendiri,” papar Neta.

Jika dibanding 2014, angka polisi tewas menurun. Di 2014 di ibukota ada 12 peristiwa yang menyebabkan 4 polisi tewas dan 9 luka. Menurut Neta melihat data IPW, daerah rawan bagi polisi setelah Jakarta adalah Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 4 peristiwa. “Aceh yang merupakan daerah rawan konflik justru di 2015 ini sangat aman. Tidak ada polisi yang tewas dan luka di Serambi Mekkah ini,” tegasnya.

Menurut Neta, masih tingginya angka kematian polisi saat menjalankan tugas ini perlu dicermati karena trennya mulai meningkat sejak 5 tahun terakhir.

“Yang paling memprihatinkan adalah tren kematian polisi akibat bunuh diri dan ditembak rekannya sendiri. Kasus ini menunjukkan bahwa psikologi sebagian anggota Polri sangat labil dan tidak mampu menahan emosi,” papar Neta.

IPW berharap di 2016, jajaran Polri bisa lebih mawas diri, terlatih, peka, tidak emosional dan arogan, sehingga angka kematian polisi saat bertugas bisa semakin menurun.

“Yang lebih penting, di 2016 diharapkan tidak ada lagi sesama polisi saling serang atau polisi tembak polisi,” pungkasnya.

(bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular