Monday, February 26, 2024
HomeGagasanBM Diah dan Tugas Jurnalistik ke Rusia dan Irak (2)

BM Diah dan Tugas Jurnalistik ke Rusia dan Irak (2)

BM Diah Cakrawarta

Tiga malam di rumah keluarga Svet Zakharov, di Moskow, saya betul-betul diperlakukan dengan baik dan ramah. Hal ini tidak terlepas dari jalinan akrab Svet Zakharov dengan Harian “Merdeka, “apalagi saya ke sana atas rekomendasi BM Diah sebagai penanggung-jawab Grup “Merdeka” (Harian Merdeka, Majalah Keluarga, Majalah Topik dan harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, ” Indonesian Observer).

Di hari-hari yang senggang di Moskow, saya banyak membaca laporan pertemuan BM Diah dengan Mikhail Gorbachev di Kremlin pada 21 Juli 1987.

Sejak memegang pucuk pimpinan di Uni Soviet lebih dua tahun berselang, Mikhail Gorbachev , Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, banyak menarik perhatian dunia. Itu berkat tindakan-tindakan yang cukup mengejutkan, yang tak jarang jauh di luar ramalan pengemat politik sekalipun.

Dengan ramah dan senyum persahabatan, ia memulai membuka kesempatan bagi BM Diah mewawancarainya. Wawancara BM Diah ini sekaligus untuk memperingati satu tahun pidato Gorbachev di Vladivostok yang merupakan angin baru pandangan Uni Soviet bagi kawasan Asia-Pasifik.

Mikhail Sergeyev Gorbachev: “Saya senang ketemu dengan Tuan Diah. Saya mendengar banyak mengenai kegiatan Tuan. Tuan sudah beberapa puluh tahun aktif dalam bidang jurnalistik, bukan ?”

BM Diah: “Saya senang bertemu dengan Tuan Sekretaris Jenderal. Ini suatu kehormatan besar bagi saya. Betul sekali sudah selama 50 tahun saya aktif dalam dunia jurnalistik.”

Mikhail Sergeyev Gorbachev: “Itulah pengalaman yang besar. Dan pengalaman bukan sesuatu beban yang tak diperlukan, apalagi kalau dipergunakan secara benar. Misalnya kami sekarang melaksanakan tugas-tugas baru dalam negeri kami. Dan pada tahap perkembangannya ini, kami terus memperkaya diri atas dasar pengalaman serta pelajaran sejarah.”

BM Diah: “Kami sangat memperhatikan pidato-pidato Tuan serta proses-proses yang sedang terjadi di Uni Republik Sosialis Soviet.”

Mikhail Sergeyev Gorbachev: “Terimakasih. Apakah kata-kata perestroika dan glasnost sudah sampai ke Indonesia ? Dapatkah kata-kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?.”

BM Diah: “Kata-kata itu dikenal baik di negara kami dan tidak perlu diterjemahkan.”

Mikhail Sergeyev Gorbachev: “Sambil menyerahkan kepada Tuan jawaban-jawaban tertulis atas pertanyaan – pertanyaan, saya ingin mendahuluinya dengan catatan-catatan yang tidak besar, tetapi, menurut pendapat saya, esensial. Saya berterimakasih kepada Tuan, dan Redaksi surat kabar Tuan, atas diperhatikannya Hari Ulang Tahun pidato saya di Vladivostok. Pimpinan Soviet memberi arti penting kepada apa yang telah dikatakan di Vladivostok. Waktu itu kami berusaha menguraikan politik kami terhadap kawasan yang didiami oleh ratusan juta manusia. Dalam pada itu kami mengharapkan pengertian yang sewajarnya atas politik kami.

Pertanyaan-pertanyaan yang Tuan kemukakan, saya memandang sebagai bukti bahwa dalam masyarakat Indonesia ada perhatian pada politik kami, pada penilaian-penilaian kami akan keadaan di kawasan Asia Pasifik, pada pemikiran-pemikiran kami mengenai masa depan kawasan ini dalam konteks politik dunia.”

Catatan-catatan saya adalah sebagai berikut:

Kami berusaha memandang dunia modern dari posisi yang benar-benar ilmiah dan realistis. Analisa yang dibuat ini membawa kami pada suatu pandangan dunia yang baru, pada politik yang baru, yang kami proklamasikan pada kongres partai kami.

Analisa ini membantu kami melihat realitas-realitas yang menjadi karakteristik untuk dunia masa kini. Dan dunia sekarang ini berbeda serius dengan dunia 30-40 tahun yang lalu.

Pertama-tama, peradaban manusia menjadi terancam karena persediaan-persediaan senjata nuklir yang luar biasa banyak jumlahnya, ini suatu realitas yang tidak dapat diabaikan. Sebaliknya, penilaian yang benar terhadap realitas tersebut membantu kita menarik kesimpulan bahwa hari ini masalah-masalah dunia tidak dapat diselesaikan melalui jalan-jalan militer, karena jalan ini dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak dapat diramalkan. Itu berarti bahwa perlu ada koreksi dalam pandangan-pandangan pada dunia ini serta dalam politik negara-negara.

Masalah-masalah yang terdapat di dunia ini menuntut penyatuan usaha-usaha semua negara. Dan pada umumnya, kalau kita melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik, maka kemajuan semakin membikin kita saling mendekatkan kita serta mendekatkan kita secara lebih erat dari pada kapan pun juga. Kita semakin banyak saling tergantung, kita semakin banyak saling membutuhkan.

Wawancara BM Diah dengan Mikhail Gorbachev dapat dilihat lengkap dalam buku BM Diah: “Mahkota bagi Seorang Wartawan.” Menurut BM Diah, wawancara ini merupakan tugas puncak yang ia peroleh.

“Kami betul-betul senang dengan pertemuan ini, Tuan Sekretaris Jenderal. Bagi saya pribadi, ini adalah mahkota dari kegiatan jurnalistik saya selama 50 tahun,” ujar BM Diah kepada Mikhail Gorbachev.

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular