Wednesday, May 22, 2024
HomePolitikaBantu Kritikus Terhindar Dari UU ITE, Mahasiswa Ini Gagas Aplikasi Advokasi Politik

Bantu Kritikus Terhindar Dari UU ITE, Mahasiswa Ini Gagas Aplikasi Advokasi Politik

Mahasiswi Unair Surabaya, Devira Hannum Harahap menunjukkan aplikasi advokasi politik karyanya, Animoo. (foto: istimewa)

SURABAYA – Seorang mahasiswi bernama Devira Hannum Harahap, menggagas inovasi bernama Animoo (Anonymous Opposition Opinion). Animoo merupakan sebuah aplikasi komunikasi dan advokasi politik. Aplikasi tersebut memberikan akses bagi masyarakat untuk memberikan kritik, advokasi, dan beropini pada pemerintah beserta jajarannya.

“Aku mengajukan sebuah aplikasi yang menawarkan kenyamanan bagi pengguna untuk mengkritik, mengadvokasi, dan memberikan opininya. Hal itu khususnya tertuju kepada pemerintah, lembaga pemerintahan, pejabat pemerintahan, atau elit-elit politik lain,” papar Devira sapaan akrabnya pada media ini.

Munculnya inovasi itu, kata Devira, bermula dari keprihatinan atas maraknya kasus jeratan hukum akibat penerapan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Undang-undang tersebut membuat masyarakat enggan menyampaikan kritik pada pemerintah lantaran takut potensi jeratan hukuman penjara.

“Gagasan ini berawal dari maraknya tersangka yang terjerat UU ITE ketika menyampaikan opininya tentang pemerintah ke ranah publik. Sehingga, muncullah gagasan Animoo akronim dari Anonymous Opposition Opinion,” terang Devira.

Ia melanjutkan, aplikasi Animoo memiliki keunggulan di mana identitas pengguna tidak akan terungkap pada khalayak. Sesuai namanya, Animoo mewadahi masyarakat untuk melakukan advokasi dan kritik tanpa merasa terancam.

Selain itu, Animoo juga memiliki layanan aduan khusus. Layanan ini berfungsi untuk menilai lembaga formal, baik pada tingkat daerah maupun pusat. Adanya layanan ini harapannya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengevaluasi pemerintahan.

“Animoo ini juga punya Layanan Aduan untuk memberikan penilaian terhadap lembaga formal pada tingkat pusat hingga daerah. Hal ini memungkinkan partisipasi dari masyarakat dalam mengevaluasi pemerintahan,” imbuhnya.

Melihat keunggulan dari aplikasi yang ia gagas, Devira berharap agar inovasinya itu dapat terimplementasi secara nyata. Pasalnya, aplikasi yang ia canangkan itu relevan dengan permasalahan politik serta partisipasi masyarakat saat ini.

“Harapannya semoga gagasan ini tidak hanya menjadi naskah saja. Semoga saya dapat merealisasikan dan mengimplementasikan aplikasi ini secara langsung kepada masyarakat,” harapnya.

(pkip, mar, bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular