
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Kabar duka kembali mengguncang nurani publik. Seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBR, siswa kelas IV sekolah dasar asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di sebuah pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026). Peristiwa itu terjadi di kebun milik neneknya, Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh seorang warga setempat, KD, yang tengah mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. Saat mendekati lokasi, saksi mendapati YBR telah tak bernyawa, sekitar pukul 11.00 WITA. Kejadian ini sontak mengguncang keluarga dan masyarakat sekitar, meninggalkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar tentang perlindungan anak di wilayah terpencil.
Tragedi ini kembali membuka diskusi luas mengenai kesehatan mental anak, terutama mereka yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan minim dukungan sosial. Sejumlah kalangan menilai, peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan dan struktur sosial yang melingkupi kehidupan anak.
Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menegaskan bahwa kasus seperti ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan negara.
“Anak-anak yang hidup di daerah terpencil kerap luput dari perhatian terhadap aspek psikologisnya. Keterbatasan akses layanan sosial dan kesehatan mental membuat mereka rentan merasa sendirian dan tidak memiliki ruang aman untuk bercerita,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Menurut Bagong, keluarga dan lingkungan sekitar memegang peran kunci dalam mendeteksi perubahan perilaku anak. Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial terhadap tanda-tanda tekanan emosional. “Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas bersama. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas sangat menentukan,” katanya.
YBR diketahui sebagai anak pendiam dan penurut. Sejak berusia sekitar satu tahun tujuh bulan, ia tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2 x 3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya telah merantau ke Kalimantan lebih dari satu dekade lalu dan tidak pernah kembali, sementara ia tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya.
Kondisi tersebut, menurut Bagong, mencerminkan tekanan struktural yang kerap dihadapi anak-anak dari keluarga miskin. “Kemiskinan bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga tekanan psikologis. Anak-anak sering menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampaknya, meski mereka tak selalu mampu mengungkapkan perasaan,” ujarnya.
Ke depan, Bagong mendorong pemerintah untuk memperkuat pendekatan berbasis komunitas melalui pengembangan community support system. Lembaga sosial lokal, sekolah, dan tokoh masyarakat dinilai perlu dilibatkan secara aktif untuk membangun jejaring perlindungan psikologis anak.
“Negara harus hadir hingga ke lapisan paling pinggir. Dukungan psikososial tidak boleh menjadi barang mewah bagi anak-anak di daerah terpencil,” tuturnya.
Tragedi di Ngada menjadi pengingat pahit bahwa pembangunan manusia tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang merawat jiwa anak-anak Indonesia, di mana pun mereka tumbuh.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



