Thursday, February 9, 2023
HomeEkonomikaBank Indonesia Naikkan Suku Bunga, Pakar Unair: Untuk Redam Capital Outflow!

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga, Pakar Unair: Untuk Redam Capital Outflow!

ilustrasi. (foto: himawan l. nugraha/bisnis)

SURABAYA – Bank Indonesia akhirnya menaikkan suku bunga sebesar 0,25% dari 5,25% menjadi 5,55%. Pakar Ekonomi Rossanto Dwi Handoyo, Ph.D mengatakan bahwa kebijakan tersebut akan memberikan dampak luar biasa bagi perekonomian nasional karena berkaitan erat dengan moneter dan perbankan.

“Naiknya suku bunga yang ditetapkan bank sentral dalam hal ini Bank Indonesia sangat penting sebagai strategi investasi,’’ ujar Rossanto pada media ini, Senin (2/1/2023).

Menurut Rossanto, interest rate atau suku bunga mencerminkan harga pinjaman di suatu negara. Apabila suku bunga mahal, maka pinjaman mahal dan begitupun sebaliknya.

“Hal ini untuk mengurangi gelembung ekonomi. Sebab misalnya ketika pemerintah menurunkan suku bunga, maka nasabah ingin meminjam dana dari bank kemudian tidak jarang untuk  berperilaku konsumtif,’’ imbuhnya.

Selain itu, menurut Rossanto, suku bunga juga berpengaruh terhadap KPR atau kredit yang diberikan bank kepada seorang yang hendak membeli rumah dengan mencicil. Karena suku bunga Bank Indonesia naik sebesar 0,25% maka ketika seseorang yang sebelumnya mendapatkan suku bunga KPR  sebesar 11% dengan kebijakan Bank Indonesia tersebut suku bunga KPRnya akan naik menjadi 11,25%.

“Tetapi bank mencari interest margin paling gede. Mereka akan untung jika ada selisih antara suku bunga pinjaman dan tabungan,’’ papar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tersebut.

Rossanto menjelaskan bahwa indikasi adanya lonjakan kenaikan suku bunga di beberapa negara maju  juga sebagai alarm bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah karena beban utang pemerintah berpotensi meningkat. Sebab banyaknya utang pemerintah dalam bentuk mata uang asing.

“Inflasi telah naik 10%, untungnya inflasi itu diredam oleh bank sentral dengan menaikkan suku bunga, sehingga uang di pasar atau masyarakat diserap oleh bank sentral. Inflasi di atas 4% ini sudah dekat dengan target. Dulu Indonesia masih 3% sehingga perlu diredam dengan menaikan suku bunga dan menjaga harga permintaan pasar,’’ paparnya.

Menurut Rossanto, kenaikan suku bunga bank sentral di negara maju seperti Amerika Serikat akan berpengaruh pada aliran modal keluar asing (capital outflow) di tengah depresiasi rupiah.

“Saat suku bunga di Indonesia meningkat, sementara Amerika Serikat sedang  rendah. Maka dana akan masuk ke bursa saham Indonesia sehingga banyak investor luar masuk Indonesia. Begitu pun sebaliknya. Misal Amerika melakukan kenaikan suku bunga, maka akan ada perpindahan dana dari Indonesia  ke Amerika tersebut. Inilah yang disebut capital outflow. Inilah alasan Bank Indonesia menaikkan suku bunga yaitu meredam adanya capital outflow terus-menerus ke luar Indonesia,’’ tukasnya mengakhiri keterangan.

(mar/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular