Berita Terpercaya Tajam Terkini

Banggakan Makro Ekonomi, Trik Politis Menteri Agar Tak Kena Reshuffle?

0
Ketua Umum APT2PHI, Dr. Rahman Sabon Nama tengah berada di perairan Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (17/8/2017) untuk melakukan kunjungan kerja terkait mencari solusi alternatif kisruh garam nasional. NTT dinilai memiliki potensi menjadi alternatif untuk mencapai swasembada garam nasional.
Ketua Umum APT2PHI, Dr. Rahman Sabon Nama tengah berada di perairan Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (17/8/2017) untuk melakukan kunjungan kerja terkait mencari solusi alternatif kisruh garam nasional. NTT dinilai memiliki potensi menjadi alternatif untuk mencapai swasembada garam nasional.

Adonara, Nusa Tenggara Timur – Euforia laporan sektor ekonomi para menteri di Kabinet Kerja dinilai hanya untuk membuat “asal bapak senang” (ABS) saja. Karena faktanya, ekonomi Indonesia bagus itu hanya aspek makronya sedangkan di level mikro belum terjadi seperti yang digaungkan para pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama ini.

Menurut pengamat politik nasional Dr. Rahman Sabon Nama, praktek ABS adalah trik politis para pembantu Presiden di tengah hempasan isu pergantian anggota kabinet (reshuffle).

“Ada euforia para menteri bidang ekonomi ekonomi dan keuangan terkait pertumbuhan ekonomi kita. Padahal sektor riil mikro ekonomi kita masih lesu sampai saat ini,” ujar Rahman Sabon melalui sambungan telepon kepada redaksi cakrawarta.com, Kamis (17/8/2017) pagi.

Oleh karena itu dari Adonara Flores Timur -NTT, Dari lautan kepulauan Solor Watan Lema Flores Timur kami mengirimkan saran dan masukan untuk Bpk Presiden Jokowi agar bisa menyadarkan para pejabat penting pemerintah di bidang ekonomi dan keuangan yang sibuk membanggakan “sukses” dengan kebijakan makro ekonomi yg stabil.

Bagi Rahman Sabon, fakta ekonomi mikro Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan keinginan Jokowi yang mendesak para pejabatnya agar mengambil berbagai langkah kongkrit untuk mendongkrak ekonomi Indonesia antara lain melalui berbagai Paket Kebijakan Ekonomi untuk menerobos kelesuan di sektor riil mikronya.

“Saya saat ini, selaku Ketua Umum APT2PHI sedang melakukan kunjungan menggali potensi kelautan NTT untuk industri garam guna kesejahteran petani dan nelayan dalam mengatasi kelangkaan dan mahalnya harga garam,” imbuh pria yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura Indonesia itu.

Untuk diketahui, ekonomi makro Indonesia sejak 50 tahun terakhir ini praktis stabil kecuali saat terjadi krisis moneter belasan tahun silam. Dengan kecenderungan ekonomi mikro yang memburuk karena jika dulu pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6-7%, sekarang hanya bisa 5%. Cadangan devisa kita memang relatif stabil diukur rationya terhadap impor dan inflasi plus minus sama atau relatif stabil.

Namun rata-rata pertumbuhan kredit perbankan sebelum ini lebih tinggi. IHSG dari BEI dari dulu selalu yang paling menguntungkan di Asia, tetapi hutang negara jelas memburuk, sebab jika dulu hanya hutang kepada IGGI/CGI (era Orba) dengan ratio pembayaran cicilan dan bunganya terhadap APBN yang amat kecil dibandingkan dengan hutang negara saat ini. Karena selain berhutang ke CGI juga berhutang ke pasar bebas yang pemenuhan kewajibannya bisa sampai 25% dari APBN.

“Harus disadari juga bahwa Tax Ratio kita saat ini juga memburuk namun kurs rupiah terhadap valas juga relatif stabil tetapi semasa Orba lebih stabil lagi dengan kebijakan devaluasi. Jadi ekonomi makro kini dianggap baik dan masih oke tetapi perlu diingat, kenyataan sebenarnya terus memburuk,” kata pria kelahiran Adonara NTT itu.

Rahman Sabon yang menyatakan sempat berdiskusi dengan mantan Menteri Keuangan dan Dirut Pajak, Dr Fuad Bawazier ini, mengingatkan apabila kondisi ekonomi mikro ini tidak diantisipasi oleh pejabat otoritas di bidang ekonomi dan keuangan lama-lama bisa ambruk.

“Jadi sebaiknya petinggi ekonomi dan keuangan tidak terlena apalagi membanggakan “sukses” ekonomi makro. Sebab dari dulu ya begitu-begitu saja. Tapi kecenderungan saat ini justru relatif memburuk. Maka sebetulnya tidak ada yang perlu dibanggakan dengan ekonomi makro Indonesia saat ini,” tandas Rahman Sabon.

Sekali lagi, ia menandaskan bahwa euforia soal ekonomi makro hanyalah manuver para Menteri agar tidak terkena reshuffle kabinet. Padahal menurutnya, itu hanya urusan politik.

“Yang harus diperhatikan dan dijadikan ukuran kesuksesan adalah keadaan ekonomi mikro, karena sektor inilah yang betul-betul dirasakan para pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen. Ini poin penting yang harus menjadi fokus Presiden Jokowi. Jangan terjebak pada laporan para pembantunya yang terkesan takut terkena reshuffle,” tegasnya mengakhiri pemaparannya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.