Tuesday, June 18, 2024
spot_img
HomeSosial BudayaAngka Perceraian Di Banyuwangi Tinggi, Ternyata Ini Penyebabnya

Angka Perceraian Di Banyuwangi Tinggi, Ternyata Ini Penyebabnya

Tim Peneliti Unair saat mengambil data di KUA Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi. (foto: istimewa)

SURABAYA – Tim riset asal Unair baru saja menggelar penelitian di Kabupaten Banyuwangi. Kelompok yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tersebut berusaha menggali penyebab tingginya perceraian di wilayah Sunrise of Java itu.

Ketua Tim sekaligus mahasiswa SIKIA, Firrial Eksa Maulidania Putri telah membenarkan hal itu. Ia mengatakan jika tingginya angka perceraian yang merata di wilayah perdesaan dan perkotaan Banyuwangi melatarbelakanginya untuk melaksanakan riset tersebut.

“Kami ingin melihat apakah terdapat konstruksi sosial masyarakat yang berbeda antara kedua wilayah tersebut karena memiliki angka perceraian yang tinggi,” terang Firrial pada media ini.

Dalam riset itu, Firrial menerangkan jika timnya mengambil dua wilayah yang menjadi sampel penelitian. Wilayah pertama ialah Kecamatan Genteng sebagai representasi perkotaan dan yang kedua adalah Kecamatan Muncar sebagai representasi perdesaan.

Menurut Firrial, riset tentang konstruksi sosial masyarakat perdesaan dengan perkotaan terkait perceraian masih belum ada. Akhirnya, di bawah bimbingan Syifa’ul Lailiyah SKM MKes tim tersebut melakukan penelitian dasar itu dengan mengkhususkannya pada Kabupaten Banyuwangi.

Firrial bersama anggota timnya, yakni Ghani Armando, Dimas Ahmad Nurullah Subekti, dan Mohamad Devan Tri Oktavadhan selanjutnya melakukan riset lapangan. Hasilnya, tim tersebut menemukan perbedaan konstruksi sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan Banyuwangi mengenai keluarga berencana terhadap perceraian.

“Di mana stigma masyarakat perdesaan mengenai perceraian cenderung karena adanya praktik patriarki dan pernikahan sebagai fungsi reproduksi. Pada wilayah perkotaan stigma perceraian erat kaitannya dengan masalah finansial,” ungkap Firrial.

Dari risetnya, satu luaran yang mereka bangun dan dapat berdampak positif bagi masyarakat adalah policy brief atau ringkasan kebijakan. Meskipun masyarakat tidak langsung merasakannya, ringkasan tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam mengambil tindakan penyelesaian permasalahan.

“Secara tidak langsung, luaran tambahan berupa policy brief akan memberikan pandangan baru mengenai perceraian. Menerapkan policy brief berpotensi menekan angka kasus perceraian serta dapat meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga,” lanjut Firrial.

Saat ini, hasil penelitian yang mereka kerjakan telah mereka unggah dalam media jurnal ilmiah. Mereka juga telah menyerahkan ringkasan itu pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Genteng dan Muncar dan berlanjut pada pihak-pihak lainnya.

“Untuk saat ini kami telah submit artikel ilmiah di National Public Health Journal yang terindeks SINTA 1. Kami juga telah menyerahkan policy brief kepada pihak KUA Muncar dan Genteng,” kata Firrial

“Untuk rencana tindak lanjut,” sambungnya, “kami akan menyerahkan policy brief kepada pihak Pengadilan Agama Banyuwangi dan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, dan KB Keluarga Berencana Banyuwangi dan menyelesaikan laporan akhir,” pungkas Firrial.

(pkip, mar, bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular