Gus Lilur Sebut Gus Ipul “Aktor Sejati” soal Polemik Muktamar NU, Singgung Hotel Fatma.

Uncategorized
Beberapa bukti dalam konteks kronologis yang disebutkan Gus Lilur. Gambar ini dan penjelasannya adalah milik Gus LIlur dan bukan milik redaksi. (foto: dokumen Gus Lilur)

Surabaya, – Polemik mengenai dugaan suap dan jual-beli suara dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kembali memanas. HRM Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mengungkapkan percakapannya dengan sejumlah Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang, menurut dia, membahas dugaan pemberian uang muka atau down payment (DP) hingga pelunasan transaksi terkait Muktamar.

Gus Lilur mengatakan, beberapa Ketua PWNU mengundangnya untuk bertemu dan ngopi di sebuah tempat di Jakarta. Undangan tersebut kemudian ia penuhi.

Menurut Gus Lilur, pertemuan berlangsung sekitar empat jam dan membahas sejumlah hal terkait dugaan praktik suap dalam Muktamar NU.

“Kami berbincang empat jam. Kami berbincang tentang suap Muktamar, tentang banyak lokasi DP diberikan dan tentang beberapa tempat pelunasan dilakukan,” kata Gus Lilur dalam pernyataannya, Rabu (7/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Gus Lilur mengaku mendapat informasi mengenai sejumlah lokasi yang disebut digunakan untuk pemberian maupun pelunasan DP.

Ia secara khusus menyebut Hotel Fatma di Jombang sebagai salah satu lokasi yang menurut informasi yang diterimanya digunakan untuk pelunasan DP dalam jumlah besar.

“Tempat pelunasan DP terbanyak dieksekusi di Hotel FATMA Jombang,” ujar Gus Lilur.

Namun, klaim tersebut merupakan pernyataan Gus Lilur dan belum terverifikasi secara independen. Hotel Fatma memang tercatat sebagai hotel yang beralamat di Jalan Urip Sumoharjo, Kepatihan, Jombang, tetapi informasi kepemilikan hotel tersebut oleh Saifullah Yusuf tidak terkonfirmasi dari sumber yang tersedia.

Dari percakapan tersebut, Gus Lilur kemudian menceritakan satu bagian yang menurutnya menjadi bahan tertawaan dalam pertemuan.

Ia mengaku mendapat komentar dari seorang sahabat PWNU dari wilayah Sumatera mengenai sikap Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam menghadapi tudingan mengenai dugaan suap dan jual-beli suara dalam Muktamar NU.

Menurut Gus Lilur, sahabatnya mempertanyakan bagaimana seseorang dapat tampil seolah-olah tidak mengetahui adanya praktik tersebut meski, dalam klaim yang disampaikan kepadanya, justru disebut sebagai pihak yang memiliki peran penting.

Gus Lilur kemudian menyebut ada dua cara untuk menggambarkan sikap yang menurutnya ditunjukkan Gus Ipul.

“Jawaban versi agama maka Ipul munafik terbaik. Jawaban versi drama maka Ipul aktor sejati,” kata Gus Lilur.

Ia kemudian memilih istilah “aktor sejati” untuk menggambarkan pandangannya terhadap sikap Gus Ipul.

Menurut Gus Lilur, seorang aktor mampu memainkan peran dengan baik, menghayati karakter yang dimainkan, dan membuat penonton percaya terhadap peran tersebut.

Dalam konteks polemik Muktamar NU, Gus Lilur menilai Gus Ipul sedang memainkan peran sebagai pihak yang menjaga moral Muktamar.

Namun, tudingan bahwa Gus Ipul merupakan pihak yang mengatur suap atau jual-beli suara merupakan klaim Gus Lilur yang belum terbukti. Gus Ipul sebelumnya membantah tudingan mengenai aliran uang dan dugaan suap tersebut serta menyebutnya sebagai fitnah.

Gus Ipul Tempuh Jalur Hukum

Polemik antara kedua pihak sebelumnya telah berkembang ke ranah hukum.

Pada 30 September 2026, Gus Ipul melalui penasihat hukumnya melayangkan somasi kepada tiga orang terkait pernyataan mengenai dugaan aliran uang, suap atau risywah, operasi uang dalam Muktamar NU, hingga pengaitan dengan uang hasil korupsi. Salah satu pihak yang disomasi diketahui adalah Gus Lilur.

Gus Lilur saat itu menyatakan tidak gentar menghadapi somasi tersebut dan mengatakan dirinya siap menghadapi proses hukum apabila perkara tersebut berlanjut.

Perkembangan terbaru, Gus Ipul pada 6 Oktober 2026 menyatakan akan menindaklanjuti somasi tersebut melalui laporan kepolisian setelah lima hari tidak mendapatkan jawaban dari pihak yang disomasi. Ia meminta tudingan yang telah disampaikan dibuktikan.

Situasi itu membuat polemik dugaan suap dalam Muktamar NU tidak lagi berhenti pada perang pernyataan di ruang publik, tetapi mulai bergeser ke jalur hukum.

Dalam pernyataannya, Gus Lilur tetap mempertahankan tudingannya terhadap Gus Ipul.

Ia bahkan menggunakan istilah “aktor utama” dan “penulis skenario” untuk menggambarkan tuduhan yang dialamatkannya kepada Gus Ipul.

Namun, istilah dan tudingan tersebut merupakan penilaian Gus Lilur sendiri dan bukan kesimpulan yang telah dibuktikan secara hukum.

Gus Lilur juga mengkritik sikap Gus Ipul yang menurutnya tetap tampil sebagai pihak yang menjaga moral Muktamar meski tudingan mengenai praktik jual-beli suara telah berkembang menjadi polemik nasional.

Di bagian akhir pernyataannya, Gus Lilur menyampaikan seruan keras kepada Gus Ipul.

“Buka dulu topengmu. Pensiun. Kami sudah muak dengan akting murahanmu!” kata Gus Lilur.

Polemik ini kini memasuki babak baru. Di satu sisi, Gus Lilur mempertahankan tudingan dan informasi yang menurutnya ia peroleh dari berbagai pihak. Di sisi lain, Gus Ipul membantah tudingan tersebut dan telah mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap menyampaikan tuduhan serius tanpa bukti.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi