Berita Terpercaya Tajam Terkini

Aktivis 98 Ini Kecam Sistem Penerimaan Siswa Baru Tahun Ajaran 2020

ilustrasi. (foto: istimewa)

 

JAKARTA -Sistem penerimaan siswa baru untuk SMP, SMA dan SMK tahun ajaran baru 2020-2021 banyak dikeluhkan orangtua murid. Pasalnya, mereka menyesalkan anak mereka kalah bersaing untuk masuk sekolah negeri hanya karena faktor usia sementara nilai anaknya lebih bagus dari siswa yang diterima karena umurnya lebih tua.

Maryati (bukan nama sebenarnya), warga kelurahan Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur ini harus menyesalkan nasib putranya yang harus tersingkir hanya karena usia anaknya lebih muda pada sistem pendaftaran siswa baru lewat jalur Afirmasi pemegang KJP/KJP plus.

“Gimana gak sedih anak saya paling tinggi nilainya di sekolah tapi tidak diterima hanya soal umur, sampai anak saya nangis,” ujar Maryati menceritakan kesedihan dia dan anaknya.

Menurut Maryati bukan hanya dia saja yang sedih tapi masih banyak orangtua lain yang sama sedihnya dengan dia saat mengetahui anaknya ditolak masuk sekolah negeri hanya karena faktor usia.

“Makanya bukan saya aja yang sedih tapi banyak orang tua yang kayak saya kok kayak gini… Buat apa belajar, buat apa les kalo ujungnya yang diliat adalah umur,” ungkap Maryati kesal.

Demikian juga Yohana, warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengungkapkan kekesalannya terhadap sistem penerimaan murid baru yang ada saat ini. Buat Yohana sistem penerimaan siswa yang menggunakan parameter usia jauh dari rasa keadilan.

“Anak saya nilainya bagus tapi yang masuk malah temannya yang nilainya lebih rendah dari anak saya karena usianya jauh lebih tua,” cerita Yohana.

Yohana mempertanyakan ukuran umur dijadikan syarat seleksi. Menurutnya untuk masuk jenjang SMP, SMA dan SMK lebih tepat ukurannya adalah nilai bukan umur.

“Anak anak kita itu kan sudah berjuang selama 6 tahun untuk yang di SD dan berjuang selama 3 tahun untuk yang SMP. Mosok giliran mau masuk sekolah negeri nilai prestasi belajar mereka tidak berguna hanya karena kalah tua di umurnya,” kesal Yohana.

Sementara itu, Ketua Relawan Advokasi Pendidikan Indonesia (RAPI INDONESIA) Syah Dinihari, SH dalam siaran persnya juga mengecam syarat seleksi yang menggunakan usia siswa dalam sistem penerimaan siswa baru untuk SMP, SMA dan SMK tahun ini, dalam siaran persnya hari ini, Minggu (21/6/2020) di Jakarta.

Comments are closed.