Airlangga Pribadi Kusman, Pengkaji Politik Indonesia dan Aktivis 1998, Berpulang

in memoriam, Airlangga Pribadi Kusman. (foto: dokumen pribadi)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Kabar duka datang dari Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya. Airlangga Pribadi Kusman PhD, dosen Ilmu Politik UNAIR yang dikenal sebagai pengkaji politik Indonesia dan salah satu aktivis 1998, meninggal dunia di Jakarta, Rabu (9/9/2026) siang.

Airlangga berada di Jakarta dalam rangka persiapan diskusi dan seminar buku terbarunya, Marhenisme Dalil Baru Untuk Gen Z, yang dijadwalkan berlangsung Kamis (10/9/2026) besok. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ia juga sempat bertemu dengan sejumlah tokoh.

Informasi mengenai meninggalnya Airlangga beredar di kalangan alumni Universitas Airlangga. Menurut informasi yang beredar, pada Rabu sekitar pukul 12.00 WIB, Airlangga berada di sebuah kafe di kawasan Gambir, Jakarta.

Saat tengah berbincang dengan sejumlah rekannya, Airlangga tiba-tiba jatuh dari kursi dan tidak sadarkan diri. Beberapa rekannya kemudian memberikan pertolongan dan membawanya ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Airlangga selanjutnya mendapat penanganan di ruang ICU. Dalam pemeriksaan medis, tekanan darahnya disebut mencapai 240. Belum sempat sadar, Airlangga meninggal dunia sekitar pukul 13.35 WIB.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Villa Inti Persada Blok D3 Nomor 4, Pamulang, Tangerang Selatan.

Aktivis 1998 dan Akademisi

Kepergian Airlangga mengakhiri perjalanan seorang intelektual yang selama ini aktif mengkaji dan menulis mengenai politik Indonesia. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi aktivis 1998 yang kemudian meneruskan kiprahnya melalui dunia akademik.

Airlangga menempuh pendidikan doktoral di Asia Research Centre, Murdoch University, Australia. Setelah kembali ke Indonesia, ia aktif mengembangkan kajian mengenai politik Indonesia melalui pengajaran, penelitian, dan penulisan.

Pemikirannya antara lain dituangkan dalam buku The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019.

Tiga tahun kemudian, ia menerbitkan Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia melalui GDN pada 2022. Buku tersebut memperlihatkan perhatian Airlangga terhadap pemikiran Soekarno dan gagasan pembebasan dalam konteks Indonesia.

Menjelang kepergiannya, Airlangga masih aktif menghasilkan karya. Buku terbarunya, Marhenisme Dalil Baru Untuk Gen Z, sedianya dibahas dalam diskusi dan seminar di Jakarta pada Kamis (10/9/2026).

Karya tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Airlangga membawa kembali gagasan marhaenisme ke dalam percakapan generasi yang lebih muda.

Berkiprah di Luar Kampus

Kiprah Airlangga tidak hanya berlangsung di lingkungan perguruan tinggi. Ia pernah dipercaya menjadi anggota Tim Seleksi KPU-Bawaslu RI, yang terlibat dalam proses seleksi calon penyelenggara pemilu.

Ia juga pernah menjadi staf ahli di Kementerian Desa dan Transmigrasi. Pengalaman tersebut melengkapi perjalanan Airlangga sebagai akademisi yang juga terlibat dalam berbagai persoalan kelembagaan dan kebijakan publik.

Sebagai dosen Ilmu Politik UNAIR, Airlangga dikenal aktif meneliti dan menulis mengenai perkembangan politik Indonesia, terutama dinamika politik setelah berakhirnya rezim Orde Baru.

Jejak intelektualnya terekam melalui sejumlah karya yang membahas relasi antara intelektual, kekuasaan, ideologi, dan perubahan politik Indonesia. Ia juga tetap membawa semangat generasi 1998 dalam aktivitas akademik dan intelektualnya.

Airlangga meninggal ketika tengah mempersiapkan pembahasan buku terbarunya. Kepergian itu bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga dan Universitas Airlangga, tetapi juga bagi lingkungan akademik, aktivis, dan jejaring intelektual yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pemikirannya.(*)

Kontributor: Pulung

Editor: Abdel Rafi