Thursday, December 1, 2022
HomeGagasanAirlangga-Anies: Aktivis Mahasiswa Kampus UGM Era 80an-90an (Bag. 1)

Airlangga-Anies: Aktivis Mahasiswa Kampus UGM Era 80an-90an (Bag. 1)

 

Disclaimer. Sejak alinia awal. Berharap tulisan ini objektif? Tak perlu diteruskan menulis, apalagi membaca.

Seni itu untuk apa? Apakah seni untuk seni?

Begitu perdebatan tahun pertama mata kuliah–mata kuliah dasar. Mau Dasar-Dasar Ilmu Politik, Dasar-Dasar Ilmu Sosial, Dasar-Dasar Ilmu Budaya, Seni Deklamasi, atau Dasar-Dasar Ilmu Teater.

Apakah politik itu seni? Atau sekadar kalkulasi yang jarang dimasuki ilmuwan-ilmuwan yang lulus Dasar-Dasar Ilmu Kalkulus atau Dasar-Dasar Ilmu Akutansi? Jangan-jangan sekadar prosentase popularitas, kesukaan, dan elektabilitas dalam timbunan hasil survei yang fluktuatif. Sejak metodologi kuantitatif menghegemoni, pendalaman metodologi kualitatif kehabisan peminat. Publik lebih senang angka-angka survei, ketimbang data harian ekonomi mikro.

Rama Pratama seingat saya yang berasal dari jurusan Ilmu Akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) yang masuk kubangan politik. Bahkan sejak politik masih berwujud “politik kampus”. Bisa jadi, Rama lebih diminati, berhubung lahir, sekolah, dan kuliah di Jakarta — tidak seperti saya yang berteman dengan lumpur, lintah, dan beruk. Hanya dua jenis anak-anak Minang yang tak lahir di ranah, yakni keturunan dari kelompok saudagar atau kelompok diplomat. Kehebatan pada masing-masing kelompok, tinggal dibungkus dengan bahasa akademis. Dirgantoro Tarmizi, putra dari Tarmizi Taher, asli urang Kuraitaji, Pariaman, bagi saya juga masuk satu dari dua jenis itu.

Tak percaya?

Jenis yang lain, sedari kecil belajar membuang kerak, kerut, dan kabut alam pikiran yang belum kenal filsafat Yunani. Cek saja berjibun nama dalam catatan sejarah. Tan Malaka, Agus Salim, Mohamad Hatta, hingga Muhammad Yamin dan Muhammad Natsir, lahir di kampung, remaja, dan sekolah menengah. Bermodal tas dari karung terigu, mereka terus kuliah, gadang (besar) dan dewasa di rantau. Mereka lebih basah, berlumpur, bahkan codet di kening terkena pisau lawan main silat, seperti Buya HAMKA, bergelimang miang pemikiran yang penuh mitos, dari zaman alun baralun, dibanding dengan nama-nama lain yang lahir di rantau dengan prediket lebih alkemis, profesional, sekaligus tak holistis.

Airlangga Hartarto, lahir di kota pelabuhan Surabaya, pada 1 Oktober 1962. Bumi Kahuripan. Airlangga bersekolah dari dasar sampai menengah atas di Jakarta, tepatnya Kawasan Menteng. Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius yang bersebelahan dengan Kantor Pengurus Pusat Muhammadiyah itu, Airlangga sempat terpilih menjadi Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). SMA Kanisius, bersama sejumlah sekolah menengah lain, “selamat” dari zaman nasionalisasi yang anti Belanda dan orang asing pada tahun 1950an akhir. Pater J. Drost dikenal para pembaca Majalah PRISMA sebagai ahli pedagogi hebat yang terus mengajar di Kanisius.

Anies Baswedan, lahir di Kawasan perkebunan, Kuningan, pada 7 Mei 1969. Jarak usia Airlangga-Anies, sekitar tujuh tahun tujuh bulan. Anies bersekolah di Sleman dan Yogyakarta. Seperti Airlangga, Anies terpilih sebagai Wakil Ketua OSIS SMA 2 Yogyakarta.

Airlangga sepenuhnya anak kota. Ia bukan bersaing dengan anak lain, tetapi kakaknya sendiri, almarhum Gunadarma. Jangan-jangan, seperti persaingan Afzaal Zapata Abhista dengan Fadha Dang Sati Ababil, dua putra saya yang berjarak usia lima tahun. Gunadarma sudah menjadi aktivis mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), tatkala Airlangga selesai SMA.

Tak mau dikenal sebagai adik Gunadarma, Airlangga memilih kota lain yang tak se sumringah Paris van Java, Yogyakarta. Ia masuk Universitas Gajah Mada (UGM), kampus Wong Ndeso. Jurusan dengan sedikit peminat ia ambil, Teknik Mesin. Tak sekadar kuliah mengapit buku, masuk laboratorium, atau sibuk dengan penelitian yang memberi gairah, Airlangga berorganisasi. Selain terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Mesin, Airlangga terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang pertama dari Teknik Mesin.

Kelompok Studi Mahasiswa yang subur dalam era 1980an itu, tumbuh bak jamur di bawah pohon beringin di Yogyakarta. Sebut saja, Kelompok Studi Dasakung yang menggemparkan publik dengan studi tentang mayoritas pelajar putri Yogyakarta yang tak perawan lagi. Istilah ‘kumpul kebo’, berasal dari kota yang terkenal dengan Jalan Malioboro ini. Banyak kaum ibu yang tak merelakan putri mereka sekolah atau kuliah di Yogya, akibat pemberitaan yang masih tentang itu. Padahal, kelompok studi lain pun bertebaran. Sebut saja Teknosofi pimpinan Taufik Rahzen juga soko guru bagi para aktivis mahasiswa yang ingin jadi think tank. Para penyair dan seniman, bahkan alumni pesantren dengan sebutan anak santri, punya daya tarik sendiri-sendiri. Mereka seolah dewa dan dewi di tahta tertinggi.

Tanah tempat ari-ari Anies dikubur, Kuningan, justru area perkebunan yang –salah satunya– berhubungan dengan perkebunan yang dimiliki keluarga kakek Airlangga, Didi Sukardi. Bermata air penuh kandungan belerang, Kuningan dinaungi oleh perlawanan pendekar hebat, pahlawan rakyat, Jaka Sembung. Hawa panas Cirebon membawa tuan-tuan tanah Belanda, beserta keluarga, bertempat tinggal di Kawasan ini. Istilah “Nyi” atau “Nyai” juga berasal dari sini.

Didi Sukardi, walau berkebun di Kawasan Sukabumi, area pembuangan kaum republiken yang ditawan Belanda, seperti G.S.S.J Ratulangie, punya semangat yang sama dengan Jaka Sembung. Namun, ilmu dan senjata yang digunakan, berbeda. Ratulangie menulis buku hebat, Indonesie in Pacific, di Sukabumi. Dalam alur itu, Didi Sukardi bersama dengan kakek Anies, yakni Abdurrahman Baswedan, adalah sama-sama Perintis Kemerdekaan, sama-sama jurnalis, dan sama-sama republiken. Singkat kata, sama-sama berdarah pejuang. Hikayat Nyi Roro Kidul di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, memagari kekayaan lautan pantai selatan Jawa.

Jalan Raya Anyer-Panarukan yang dibangun Daendels telah membelah Jawa menjadi utara yang keras dan bergegas kontra selatan yang mistis dan erotis. Pulau kecil yang dihuni 65 persen penduduk Indonesia ini, seakan diceraikan untuk kedua kalinya oleh Daendels, setelah fitnah padang rumput sabana Bubat Mahapatih Gajahmada yang ‘jatuh hati’ jelang pensiun kepada tunangan Hayam Wuruk bernama Dyah Pitaloka, lima abad sebelumnya. Jawa versus Sunda ala Padang Bubat dilengkapi Utara versus Selatan ala Daendels. Pulau kecil, rakyat tak bersatu, akibat fitnah dan pembangunan berencana devide et impera.

Anies memilih tetap kuliah di Yogyakarta, tak menjelajah kota lain. Sempat dapat program American Field Service (AFS) di Minwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, membuat masa SMA Anies ditempuh selama empat tahun. Sempat terpilih sebagai Ketua Umum OSIS se-Indonesia dalam sebuah pertemuan para pimpinan OSIS, Anies punya banyak kawan secara horizontal, serta diundang ke Jakarta oleh instansi vertikal. Kemampuan jurnalistik Anies yang diasah di Amerika Serikat, membuat ia hadir sebagai pewawancara tokoh-tokoh nasional dalam Program Tanah Merdeka TVRI Cabang Yogyakarta.

Anies masuk Fakultas Ekonomi UGM, dua tahun setelah Airlangga lulus sebagai Insinyur. Dalam peta bumi pemikir ekonomi Indonesia, terdapat apa yang dikenal sebagai Widjojonomics (UI) yang lebih pro ekonomi pasar liberal dan Mubyartonomics (UGM) yang kadung dilabel pro ekonomi pasar sosial. Organisasi ekstra kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ikut dimasuki, setelah HMI pecah dua, antara HMI Asas Tunggal versus HMI Majelis Penyelamat Organisasi. Kehandalan sebagai organisatoris membuat Anies terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM. Tentu, era 1990an sudah tiba, ketika aktivisme Anies membawanya dalam pertemuan demi pertemuan dengan aktivis Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi lainnya.

Didi Sukardi adalah pemilik koran Oetoesan Indonesia dalam zaman pra kemerdekaan. Para penulis republiken, terutama dari ranah Minang, secara leluasa menyampaikan pemikiran mereka. Plus, tentu saja, honorarium. Sejumlah anak Sukardi, selain jadi tentara, pengusaha, pun tentu jurnalis idealis dan bermartabat.

Berhubungan, atau tidak, Airlangga seperti dicambuk, lantas terjun dalam pers kampus. Akibat Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), pemikiran dan pergerakan mahasiswa dibatasi, termasuk pers mahasiswa yang terkenal sebagai ujung tombak perlawanan pikiran mahasiswa Angkatan 1966, Angkatan 1974 sampai Angkatan 1978 berhadapan dengan developmentalisme. Airlangga memilih aktif dalam pers yang berbasis keilmuan, baik tingkat jurusan, atau fakultas. Sebagai Ketua Senat Mahasiswa FT UGM, Airlangga menjadi penanggungjawab dari pertemuan para aktivis pers mahasiswa Fakultas Teknik se-Indonesia di Bulaksumur. Tuan rumah, Majalah Clapeyzon, dari Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM.

Dalam proses itu, lahir semangat menyuburkan pers mahasiswa. Perjalanan Majalah Balairung UGM yang sangat terkenal itu, berhulu dari seminar para aktivis pers mahasiswa Fakultas Teknik itu.

Tentu, Airlangga “tertaut” dengan penunjukkan ayahnya, Hartarto Sastrosoenarto, dalam Kabinet Pembangunan IV (1983-1988), sebagai Menteri Perindustrian. Airlangga tak bisa menolak, ketika dikenal sebagai anak seorang Menteri yang jalan kaki ke kost-kostan. Anak Surabaya yang kadung dikenal sebagai orang Jakarta yang penyabar dan detil dalam memahami sesuatu itu, ternyata aktivis organisasi mahasiswa intra kampus juga yang bikin pejabat, apalagi menteri, alergi, jeri, dan sakit gigi.

Sebagaimana hubungan Dirgantoro (Diki) Tarmizi dengan Sang Ayah, Tarmizi Taher, ketika terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Minang (IMAMI) Universitas Indonesia, hubungan Ayah-Anak ini berlangsung dalam payung sesama orang dewasa yang dipupuk pola pikir ilmiah. Airlangga bisa saja berkomunikasi dan berkorespondensi dengan Hartarto, sosok bersuara bariton yang menekuni industri kimia dasar yang terkenal dengan Kertas Leces buat buku pelajaran siswa-siswi sekolah dasar itu.

Bagi saya, sebagai pengurus sejumlah organisasi mahasiswa, pilihan berkawan dengan Diki adalah anugrah dari Allah SWT. Minimal, saya ikut makan enak. Walau ada pertalian organisasi sebagai aktivis pers kampus di Majalah Suara Mahasiswa UI, toh tak bisa dibawa ke rumah Diki. Kantong saya terlalu tiris guna membeli nasi Padang. Lidah sudah akrab dengan Warung Tegal, lewat latihan yang lama. Berkumpul dengan alasan rapat di rumah Diki di Jalan Brawijaya, berarti dihidangkan seluruh makanan terenak khas dan rasa Minangkabau. Yang menyiapkan, Ibu dari Diki. Pak Tarmizi, selalu menyempatkan pulang, ketika mahasiswa asal UI masih menyantap hidangan, bersalaman, bercanda.

Kemampuan lobi Airlangga, dalam pemahaman saya, tidak terlepas dari rasa nekatnya juga untuk menembus rantai birokrasi Kementerian Penerangan RI yang dikomandani oleh Harmoko. Tentu tanpa sama sekali menyebut nama belakang yang milik Sang Ayah. Pengetahuan Airlangga yang detil tentang dunia “Atas Langit” Jakarta, jaringan alumni sekolah yang dihuni anak-anak Menteng yang punya IQ di atas rata-rata anak Jakarta, ikut membawa pengamatan Airlangga ke arah sosok yang bisa melepas belenggu yang merantai pikiran mahasiswa lewat pers kampus.

Majalah Balairung, buah perjuangan dari banyak nama aktivis mahasiswa. Sejak seminar yang diadakan Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM pada 29 Oktober 1985, wujud majalah ini dipersiapkan. Perdebatan dengan Rektor UGM kala itu, yakni Teuku Jacob yang ahli tentang teknokultur, peduli manusia, tunduh pada alam, piawai melidik masa depan, lihai menjahit lingkungan geostrategis dan geopolitik, dihadapi para aktivis pers mahasiswa dengan membentuk tim khusus. Bukan tunduk mencatat pergulatan pemikiran ala Socrates sebagaimana murid-murid awalnya – termasuk Plato – di bawah pohon Academia, para aktivis ini bersiap diri beradu argumen.

Majalah Balairung menyeruak kalangan civitas akademika UGM pada 8 Januari 1986. Segera saja, majalah itu bertebaran di kalangan aktivis mahasiswa perguruan tinggi lain, baik intra atau ekstra, baik dalam bentuk asli, atau fotokopian. Majalah ini menandai musim semi kebangkitan pers mahasiswa lain di banyak kampus.

Universitas Indonesia sendiri, baru berhasil menerbitkan Majalah Suara Mahasiswa, lebih dari 8 tahun sesudah itu.

Bersambung…

Jakarta, 13 Oktober 2022

 

INDRA JAYA PILIANG

Sekretaris Jenderal Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Indonesia (1995-1997)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular