Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomeGagasanAdakah Politik di Nusantara? (Testimoni untuk Buku "Demokrasi di Sarang Penyamun")

Adakah Politik di Nusantara? (Testimoni untuk Buku “Demokrasi di Sarang Penyamun”)

-j piliang.jpg-201408061330221

Buku karya Anis Kurniawan yang berisi kumpulan tulisan ini sangat menarik bagi siapapun yang ingin melihat carut-marut, centang perenang dan koreng bopeng di dunia politik. Dan buku ini bukan satu-satunya. Hampir setiap hari kalimat-kalimat hujatan, hinaan dan cercaan terhadap dunia politik terpapar di media massa, hadir dalam media sosial, serta terucap di layar televisi dan radio. Hampir tak ada lagi orang yang mampu menjadi pahlawan bagi dunia politik, sekalipun setiap saat kehadiran para pemimpin politik di segala level hadir, baik formal maupun informal.

Setiap kali buku seperti ini hadir, setiap kali juga nisan-nisan kematian politik disiapkan. Hal ini tentu berkebalikan dengan gerakan aktivis mahasiswa era 1980-an yang menuntut kampus dimasuki dunia politik. Penolakan atas depolitisasi dan normalisasi kampus dalam artian hanya sebagai wadah belajar-mengajar terjadi, baik secara terang-terangan ataupun lebih banyak tertutup. Dalam waktu 30 tahun setelah itu, kebanyakan mahasiswa menolak kehadiran politisasi dalam kehidupan kampus, dengan cara menolak diskusi-diskusi politik tertentu dan kehadiran politisi tertentu. Politik tidak lagi dipandang sebagai buah dari kemerdekaan berpikir, pencerahan intelektual dan wahana pembelaan nilai-nilai kemanusiaan. Politik hanya sekadar pertarungan kekuasaan an sich.

Saya tentu memaklumi hal ini. Politik sudah menjadi kusta bagi peradaban dan kolera dalam kebudayaan, khususnya dari sisi ilmu komunikasi, linguistik dan bahkan humaniora. Politik bukan lagi berupa bendera sobek yang terus-menerus berusaha ditegakkan bagi sebuah komunitas, kelompok atau negara yang hendak membebaskan diri. Politik juga bukan kata-kata yang berusaha dibuat dalam grafiti kota, gerbong kereta api ataupun berbentuk huruf-huruf yang ditanam berupa pohon-pohon flamboyan di atas tanah berkarang. Politik justru tempat orang meludah, membuang kotoran, hingga menyampaikan segala bentuk caci-maki yang disambut dengan tepuk tangan.

Jika pelbagai tulisan yang ada dalam buku ini adalah spesies tertentu bagi dunia hewan dan tumbuhan, maka jumlahnya semakin banyak, sebagaimana ubur-ubur yang menyerang banyak samudera guna menutupi unsur oksigen yang berguna bagi ikan dan biota laut lainnya. Daya tumbuh-kembangnya luar biasa, melebihi kecepatan pertumbuhan penduduk dan bahkan kelajuan dari ilmu politik sendiri guna menahan lajunya. Sehingga, setiap orang yang ingin mengatakan bahwa politik itu baik, politik itu mulia, sampai politik itu membebaskan, sungguh akan menghadapi serbuan tomat atau telur busuk ke mukanya sendiri di tengah khalayak ramai.

Saya juga tak akan mengatakan sebaliknya. Bukan saja karena saya belum menemukan banyak kebaikan dalam politik, melainkan akibat proses bunuh diri kelas yang saya lakukan dengan terjun ke dalam politik praktis sejak 6 Agustus 2008 lalu sama sekali belum mendatangkan cahaya yang baik untuk menunjukkan bahwa politik itu bukanlah wadah kegelapan. Saya dihinggapi dengan begitu banyak kekecewaan tentang khianat demi khianat yang dilakukan politisi atas dimensi politik yang hendak diperjuangkan. Manajemen administrasi politik masih amburadul, nyaris tanpa pertanggungjawaban pasti. Kader bukan lagi kekuatan utama, melainkan digantikan oleh kedudukan ataupun uang. Platform sama sekali tak diulas. Filsafat politik hampir tak muncul dari mulut para dedengkot yang bahkan sudah menyatakan dirinya sebagai politisi, terutama dari Angkatan 1966 yang hingga kini masih di puncak piramida kekuasaan.

Entah bagaimana saya menempatkan buku ini. Yang jelas, bagi siapapun yang ingin mencari sparring partner yang tepat tentang dimana ia berada, bagaimana ia berpikir, tujuan apa yang ia ingin capai, apa yang ia ingin tinggalkan, hingga kapan ia berhenti dan bagaimana ia merancang sumbangan berarti di dunia politik, silakan baca buku ini. Bagi yang hanya ingin melihat politik sebagai tontonan pergantian peran dalam panggung demokrasi, silakan lupakan buku ini yang jelas-jelas menempatkan politisi sebagai tabiat para penyamun. Hampir tak ada kepositifan dalam diri penyamun. Hal yang sungguh berbeda ketika Sutan Takdir Alisyahbana menulis novel “Anak Perawan di Sarang Penyamun”pada tahun 1940.

Bagi Sutan Takdir, perawan ataupun penyamun adalah buah dari polemik kebudayaan, antara modernisme versus tradisionalisme, antara masa lalu versus masa depan, antara sesuatu yang dielap-elap dengan sesuatu yang dieja sebagai kemajuan. Di era sekarang, perawan dan penyamun adalah benda fisik yang dicandikan sebagai sesuatu yang tak bisa berubah. Keperawananpun bisa diperiksa, bagi seseorang yang ingin masuk ke dunia kerja kenegaraan. Kepenyamunan adalah bagian dari tabiat memperkaya diri dalam lautan kekayaan negara.

Buku ini layak dibaca di area pemakaman politik. Sebagaimana kita – mungkin termasuk saya – melakukannya setiap hari, ketimbang melakukan upaya yang serius guna menjadikan politik sebagai way of life yang menggairahkann.

INDRA J PILIANG
Chief Of Executive Officer Sang Gerilya Corporation

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular