Hadapi TKA 2027, 125 Guru Ma’arif Surabaya Dibekali Strategi Numerasi

Ratusan guru Ma’arif Surabaya saat mengikuti momen pembukaan Workshop TKA di LP Ma’arif NU, Kota Surabaya, Sabtu (3/10/2026). (foto: A Zaini I)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2027 mulai digenjot Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kota Surabaya. Sebanyak sekitar 125 guru kelas 6 SD/MI Ma’arif NU se-Surabaya mengikuti workshop TKA sebagai bagian dari penguatan kesiapan sekolah menghadapi pelaksanaan ujian tersebut.

Workshop digelar di LP Ma’arif NU Kota Surabaya, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan tersebut tidak hanya membekali guru dengan pemahaman mengenai TKA, tetapi juga mendorong agar persiapan akademik siswa tidak dilakukan secara mendadak ketika memasuki kelas 6.

Dosen Matematika UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) sekaligus pengurus LP Ma’arif NU Jawa Timur, Dr. Hanief Ashar, menekankan pentingnya persiapan TKA dilakukan jauh sebelum siswa duduk di kelas 6.

Menurutnya, pembinaan kemampuan siswa idealnya sudah dimulai sejak kelas 4. Dengan demikian, ketika memasuki kelas 6, guru tidak lagi membangun kemampuan siswa dari awal, melainkan melakukan penguatan dan mengingatkan kembali materi yang telah dipelajari.

“Persiapan TKA perlu disiapkan sejak kelas 4. Sehingga jika persiapan telah dilaksanakan sejak kelas 4, maka di kelas 6 tinggal mengingatkan lagi bagi siswa-siswi kita,” ujar Hanief.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam workshop yang diikuti para guru kelas 6 SD/MI Ma’arif NU Surabaya. Strategi menghadapi TKA dipandang perlu ditempatkan sebagai proses pendidikan yang berkelanjutan, bukan sekadar persiapan menjelang ujian.

Ketua LP Ma’arif NU Kota Surabaya, H. Moh. Cholil Amin, M.Pd.I., dalam sambutannya juga mengingatkan para guru agar pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.

Menurut Cholil, pendidikan yang diberikan guru setidaknya memiliki dua dimensi, yakni pendidikan untuk kehidupan dunia dan pendidikan yang memiliki nilai ukhrawi.

Ilmu yang diperoleh siswa, kata dia, diharapkan tidak hanya membuat anak menjadi lebih pintar, tetapi juga menjadi ilmu yang bermanfaat dan diterapkan dalam kehidupan.

“Ilmu yang didapat oleh siswa akan berdampak dalam kehidupan dia di dunia (menjadi pintar) dan juga bernilai ukhrawi (ilmu manfaat),” kata Cholil.

Karena itu, ia mengingatkan para guru Ma’arif agar tidak melihat profesi pendidik hanya dari sisi pendapatan atau bayaran. Menurutnya, nilai keikhlasan tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

“Sebagai Guru hendaknya tertanam dalam dirinya menjadi Guru adalah nilai keikhlasan karena dengan keikhlasan maka ilmu yang diajarkan kepada murid akan tertancap dalam hatinya,” ujarnya.

Cholil menilai ketika nilai keikhlasan dalam proses pendidikan melemah, proses penerimaan pendidikan oleh siswa juga dapat berjalan lebih lambat.

Ia pun mengajak para guru Ma’arif untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan profesional sebagai pendidik dan orientasi pengabdian dalam mendidik generasi.

“Guru Ma’arif saya berharap di samping berpikir pendapatan (bayaran) juga berpikir ukhrawi (ikhlas),” tuturnya.

Selain penguatan nilai pendidikan, workshop tersebut secara khusus diarahkan untuk meningkatkan kesiapan guru kelas 6 dalam menghadapi TKA 2027. LP Ma’arif NU Surabaya berharap peningkatan kapasitas guru dapat berkontribusi terhadap pencapaian hasil belajar siswa SD/MI Ma’arif.

Workshop menghadirkan dua narasumber. Selain Dr. Hanief Ashar yang membawakan materi mengenai numerasi, hadir pula Dr. Titik Hersiati, M.Pd., dosen Universitas Negeri Malang yang merupakan bagian dari tim TKA nasional.

Kehadiran narasumber dari latar belakang akademik dan tim TKA nasional tersebut diharapkan memberikan perspektif yang lebih komprehensif kepada para guru mengenai karakteristik serta strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan TKA.

Bagi LP Ma’arif NU Surabaya, workshop ini menjadi salah satu langkah awal untuk menyiapkan sekolah dan guru menghadapi TKA 2027.

Dengan dimulainya penguatan kompetensi guru sejak jauh hari, persiapan siswa diharapkan tidak lagi bersifat instan ketika mendekati pelaksanaan ujian. Sebaliknya, kemampuan akademik siswa dapat dibangun secara bertahap sejak kelas-kelas sebelumnya.

“Semoga dengan Workshop TKA ini bisa lebih menyiapkan siswa-siswi Ma’arif Surabaya dalam Ujian TKA tahun 2027 yang akan datang,” demikian harapan LP Ma’arif NU Surabaya.(*)

Kontributor: A Zaini I

Editor: Abdel Rafi