
MAKASSAR, CAKRAWARTA.com – Laut Makassar menjadi ruang belajar yang berbeda bagi 35 santri penghafal Al-Qur’an, Jumat (2/10/2026). Di atas kapal Phinisi.id, mereka tidak hanya menikmati perjalanan menuju Pulau Samalona, tetapi juga membawa pesan tentang dakwah, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi DT Peduli Sulawesi Selatan, JNE Makassar, Phinisi.id, dan Project Dakwah. Sebanyak 35 santri dari dua pondok pesantren mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 15 santriwati Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri dan 20 santri Pondok Pesantren An-Nail.
Ada satu momen yang membuat perjalanan ini berbeda. Setelah kapal meninggalkan kawasan Pantai Losari sekitar pukul 07.00 WITA, para santri membuka perjalanan dengan membaca 10 ayat pertama dan 10 ayat terakhir Surah Al-Kahfi.
Dari atas kapal phinisi, lantunan ayat Al-Qur’an berpadu dengan suasana laut Makassar.
Namun, perjalanan ini bukan semata agenda rekreasi. Salah satu pesan utama yang dibawa adalah menghidupkan kembali aktivitas keagamaan di Pulau Samalona.
Kepala Kantor Perwakilan DT Peduli Sulsel, Hasmirah, mengatakan gagasan kegiatan tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan suasana ibadah di masjid yang selama ini jarang terdengar azan.
“Luar biasanya program berlayar bersama santri dari Phinisi.id ini diawali dari niat menghidupkan shalat Jumat di masjid yang tidak pernah terdengar adzan, alhamdulillah nanti kita akan melaksanakannya di sana. Semoga ini menjadi suatu keberkahan dan semoga Phinisi.id semakin berkembang dan berlayar sesuai visi misinya. Serta kami juga mendoakan semoga usaha JNE semakin berkembang seperti layar phinisi ini sampai ke penjuru dunia,” tutur Hasmirah.
Setibanya di Pulau Samalona, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai permainan kebersamaan. Para santri juga menikmati waktu berenang dan berinteraksi satu sama lain.
Kegiatan sosial turut ditandai dengan penyerahan santunan kepada 15 santriwati Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri.
Setelah menikmati makan siang bersama, para peserta kemudian melaksanakan Shalat Jumat berjamaah di masjid yang berada di Pulau Samalona.
Bagi penyelenggara, momen tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan. Wisata bahari tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas menikmati panorama laut, tetapi juga menjadi medium untuk menghadirkan pengalaman spiritual dan kepedulian sosial.
Perjalanan tersebut sekaligus mempertemukan para santri dengan salah satu identitas penting Sulawesi Selatan, yakni kapal phinisi.
Perwakilan Phinisi.id menjelaskan bahwa kehadiran platform tersebut bermula dari keprihatinan terhadap keberadaan kapal phinisi yang telah dikenal di berbagai negara, tetapi justru dinilai belum cukup dikenal di daerah asalnya sendiri.
“Phinisi.id ini berawal dari keprihatinan saya, karena kapal phinisi ini sudah terkenal sampai ke luar negeri tapi tidak di tempat asalnya. Maka dari itu, 7 pemuda mendirikan Phinisi.id dengan tujuan memajukan pariwisata di Makassar sekaligus melestarikan kapal phinisi di rumahnya sendiri,” ujarnya.
Karena itu, perjalanan bersama para santri juga menjadi cara untuk memperkenalkan warisan maritim tersebut kepada generasi muda melalui pengalaman langsung.
Bukan melalui buku atau cerita, tetapi dengan merasakan sendiri bagaimana berlayar menggunakan kapal phinisi di perairan Makassar.
Kolaborasi tersebut juga memberikan pengalaman berbeda bagi JNE Makassar.
Perwakilan JNE Makassar, Suci Indah Permatasari, mengaku kegiatan di luar lingkungan kantor memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan para penerima manfaat.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Phinisi.id, Project Dakwah, dan tentunya DT Peduli karena sudah dilibatkan dalam kegiatan ini. Ini event yang belum pernah, jujur turun langsung dengan kegiatan seperti ini. Kemarin-kemarin biasanya hanya mengundang adik-adik ke kantor segala macam kemudian membuat acara di kantor. Hari ini saya dilibatkan dan saya suka, akan lebih fun dan lebih ngena ketika banyak event nantinya atau kegiatan yang akan dilakukan di luar dari yang selama ini kita lakukan di kantor,” ungkap Suci.
Menurut dia, pertemuan langsung dengan para santri juga memberikan kesan personal.
“Saya juga bilang ke Ibu Hasmirah, kalau bukan kegiatan hari ini, hari ini mungkin masih di kantor dan tidak kepikiran untuk ke mana-mana. Saya juga merasa, mungkin ini sudah jalannya, momen saya pusing sekali di kantor tapi hari ini ketemu dengan adik-adik hafidz hafizah. Masya Allah saya ingat dengan anak saya, kalau dia ikut bisa menjadi inspirasi untuk dia yang masih SD,” lanjutnya.
Suci berharap kolaborasi semacam itu dapat terus dikembangkan dengan manfaat yang lebih besar.
“Di hari Jumat yang berkah ini mudah-mudahan ke depannya apa yang kami berikan bisa lebih besar dari hari ini,” ujarnya.
Keceriaan tidak berhenti ketika rombongan meninggalkan Samalona. Dalam perjalanan kembali menuju Makassar, tim Phinisi.id menggelar permainan interaktif di atas kapal.
Para santri ditantang menjawab pertanyaan sekaligus menghafalkan ayat yang diminta oleh pembawa acara. Mereka yang berhasil mendapatkan hadiah berupa uang tunai.
Gelak tawa dan antusiasme para santri mengiringi perjalanan pulang.
Bagi Nur Asifa, salah satu santriwati Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang sulit dilupakan. Berlayar menggunakan kapal phinisi untuk pertama kalinya memberikan pengalaman baru di luar rutinitasnya sebagai santri.
Kegiatan ini diikuti langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan DT Peduli Sulsel Hasmirah, Staf Program Fergiawan, serta tim DT Peduli Sulsel. Turut hadir Suci Indah Permatasari bersama tim JNE Makassar, serta tim Phinisi.id dan Project Dakwah.
Kolaborasi tersebut mempertemukan tiga hal dalam satu perjalanan yaitu dakwah, kepedulian sosial, dan pelestarian warisan maritim Makassar. Dari Pantai Losari menuju Samalona, para santri tidak hanya membawa hafalan Al-Qur’an. Mereka juga membawa pulang pengalaman tentang laut, kebersamaan, berbagi, dan bagaimana sebuah perjalanan dapat menjadi ruang untuk menebarkan kebaikan.(*)
Editor: Abdel Rafi








