Menerawang Masa Depan UNSRAT?

(foto: seorang calon Rektor sedang melihat bangunan rektorat dan patung Sam Ratulangi atas perbuatan AI)

Di tengah gemuruh persaingan global dan gejolak geopolitik, universitas tidak lagi cukup dipahami sebagai tempat orang memperoleh gelar.

Universitas adalah salah satu institusi tempat sebuah bangsa memproduksi pengetahuan, menguji kebenaran, mengembangkan teknologi, membaca masa depan, dan terutama mempertahankan kemerdekaan berpikirnya.

Negara boleh mengalami pergantian pemerintahan, ekonomi boleh memasuki krisis, konfigurasi kekuatan dunia boleh berubah, tetapi universitas seharusnya tetap tegak di atas ideologi yang jauh lebih panjang umur daripada kekuasaan: sains dan riset.

Pertanyaan itu menjadi lebih mendesak ketika diarahkan kepada Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Sebab UNSRAT tidak sekedar menyandang nama seseorang yang kebetulan lahir di Minahasa.

Ia menyandang nama seorang intelektual yang mencoba membaca Indonesia melampaui batas geografis dan zamannya sendiri. G.S.S.J. Sam Ratulangi, alias Sam Ratulangi, nama yang disematkan pada universitas ini. Sebuah nama, kelak jadi pahlawan nasional.

Dan dalam “Indonesia in den Pacific: Kernproblemen van den Aziatischen Pacific (1937)”, ia telah membicarakan posisi strategis Indonesia, dinamika politik dan ekonomi Asia-Pasifik, persaingan kekuatan besar, serta tempat Indonesia di dalam lanskap tersebut.

Artinya, ada sesuatu yang ironis bila universitas yang membawa nama Sam Ratulangi, justru terlalu banyak menghabiskan energi intelektualnya untuk melihat ke dalam pagar kampusnya sendiri.

Sementara, pemikir yang namanya dipasang di gerbang universitas itu sudah delapan dekade lebih lalu tlah memandang jauh melampaui Laut Sulawesi menuju Pasifik. Ratulangi memahami Indonesia bukan sekadar kepulauan yang terletak di antara dua samudra. Posisi geografis mempunyai konsekuensi sejarah. Bahkan bahan ajar yang dikembangkan di UNSRAT sendiri mengenai pemikirannya mengingatkan pandangan Ratulangi.

PIP (Pola Ilmiah Pokok) pernah dikembangkan Rektor Prof. W.J. Waworoentoe (1976-1986), juga ingin mengembangkan bahwa Indonesia dalam ekonomi Asia-Pasifik dapat terjebak dalam tiga posisi pasif, yakni negeri konsumen, sumber bahan mentah, dan tempat penanaman modal.

Bahan ajar itu justru menjadikan pemikiran tersebut sebagai dorongan agar mahasiswa menciptakan inovasi untuk membangun kemampuan bersaing dan bekerja sama di kawasan Pasifik.

Di titik inilah gagasan Ratulangi terasa sangat kontemporer. Bahkan era Rektor Waworoentoe pernah memberi nama Kampus Tumo Tou.

Rektor (1995-2004) Prof. Ir. Jopie Paruntu MSc. PhD. pernah menjuluki Kampus Research & Excellence dan Lima Peduli Kampus.

Terakhir, Rektor (2004-2008) Prof. Dr. Ir. Lucky W. Sondakh, menggagas research university.

Bagi UNSRAT di masa depan muncul pertanyaan yang harus lebih tajam, yakni apakah Manado dan Sulawesi Utara sekadar Pesona dan posisi yang berada di bibir Pasifik, atau mampu berpikir sebagai masyarakat Pasifik? Berada di Pasifik adalah nasib geografis. Berpikir Pasifik adalah pilihan intelektual.

Pertanyaan ini sangat lekat dengan pemikiran yang tertuang dalam Rethinking the Pacific (1990) dari Gerald Segal, seorang spesialis terkemuka kajian Asia asal Inggris.

Karena itu, masa depan UNSRAT semestinya dimulai dengan perubahan imajinasi tentang dirinya sendiri. UNSRAT tidak cukup menganggap dirinya universitas daerah yang sesekali membuat kerja sama internasional. Ia mempunyai kemungkinan menjadi universitas Indonesia yang memandang dunia dari gerbang Pasifik.

Dari Manado, persoalan perubahan iklim, biodiversitas Wallacea, kelautan, perikanan, vulkanologi, kesehatan tropis, pangan kepulauan, mitigasi bencana, migrasi manusia, kebudayaan Austronesia, hingga geopolitik Indo-Pasifik, seharusnya dapat dibaca bukan sebagai kumpulan disiplin yang terpisah, tetapi sebagai sebuah medan besar penelitian.

Itulah cara paling bermartabat untuk mewarisi Ratulangi. Bukan hanya mengabadikan namanya, melainkan meneruskan keberanian intelektualnya menembus dunia.

Namun, sebuah universitas tidak akan menjadi kekuatan pengetahuan hanya karena mempunyai laboratorium, profesor, jurnal, gedung, akreditasi atau anggaran penelitian. Ada infrastruktur yang lebih mendasar dan tidak terlihat secara fisik, yakni kepercayaan.

Di sinilah pemikiran Francis Fukuyama, dalam The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order (1999), relevan untuk melihat transformasi dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi sebagai perubahan.

Ketika pengetahuan semakin menggantikan produksi massal sebagai dasar kekayaan, kekuasaan dan interaksi sosial, mau tak mau universitas apapun harus dapat memahami tatanan ini di tengah guncangan besar.

Tapi, transformasi tersebut juga dapat berjalan bersama penurunan kepercayaan dan menguatnya individualisme atas komunitas. Konsekuensinya sangat relevan bagi universitas. Institusi pengetahuan tidak mungkin hanya dibangun dengan kecerdasan individual. Ia memerlukan penguatan “social capital”(modal sosial) dengan meluaskan relasi dan koneksi dengan dunia luar.

Bagi Fukuyama modal sosial berhubungan dengan nilai atau norma informal yang dimiliki bersama dan memungkinkan anggota suatu kelompok bisa bekerja sama. Ketika orang mengharapkan orang lain berlaku jujur dan dapat dipercaya, kepercayaan memungkinkan kerja sama itu berlangsung. Dengan bahasa yang lebih sederhana bahwa universitas besar membutuhkan apa yang disebut Fukuyama sebagai ‘high trust society* di dalam dirinya.

Dosen harus percaya bahwa prestasi akademik dihargai karena prestasi akademik. Peneliti harus percaya bahwa dana riset dialokasikan berdasarkan mutu. Mahasiswa harus percaya bahwa aturan berlaku sama terhadap semuanya. Profesor harus dapat berbeda pendapat tanpa takut kehilangan akses kelembagaan. Fakultas harus dapat berkolaborasi tanpa terus-menerus mencurigai fakultas lainnya. Dan orang yang kalah dalam suatu kompetisi jabatan harus tetap merasa bahwa universitas juga rumah intelektualnya.

Kepercayaan semacam itu kelihatannya abstrak, padahal ia memiliki konsekuensi sangat konkret terhadap produktivitas ilmu pengetahuan. Jika kepercayaan rendah, sebagian energi institusi habis untuk membangun kubu, membaca kedekatan, mengantisipasi lawan, mencari perlindungan, dan mempertahankan posisi. Jika kepercayaan tinggi, energi yang sama dapat berpindah menuju laboratorium, diskusi ilmiah, publikasi, pengajaran, penemuan dan kolaborasi.

Dengan kata lain, persoalan paling mendasar bagi masa depan UNSRAT bukan sekadar siapa yang menjadi rektor, melainkan apakah UNSRAT dapat membangun dirinya sebagai sebuah “high trust university.”

Pertanyaan ini menjadi sensitif karena sejarah kampus memang tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kompetisi kekuasaan. Namun, kritik terhadap politisasi kampus harus dilakukan secara hati-hati.

Klaim bahwa selama lebih dari separuh sejarah UNSRAT pemilihan rektor selalu sarat politisasi membutuhkan dokumentasi historis yang jauh lebih kuat untuk dinyatakan sebagai fakta. Yang dapat dipastikan saat ini adalah bahwa pada 2026 UNSRAT kembali berada dalam proses pemilihan rektor (Pilrek).

Pada Agustus 2026, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa -merangkap Rektor Unhas- ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Rektor sampai rektor definitif dilantik. Sementara, proses pemilihan dinyatakan tetap menunggu dan mengikuti regulasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Justru di sinilah diperlukan perubahan cara pandang. Pilrek tidak semestinya menjadi pusat gravitasi kehidupan universitas. Rektor penting, tetapi universitas jauh lebih besar dari sekedar memilih seorang rektor.

Jika setiap empat tahun energi akademik tersedot ke pertanyaan siapa mendukung siapa, kelompok mana menguasai apa dan konfigurasi mana memenangkan jabatan, universitas dapat mengalami sesuatu yang secara analogis menyerupai “great disruption” dalam skala kelembagaannya sendiri.

Modal sosial menurun, kepercayaan menyempit ke dalam kelompok, sementara kerja sama berubah menjadi transaksi. Universitas dalam keadaan demikian mungkin tetap berfungsi secara administratif. Kuliah tetap berlangsung. Wisuda tetap diselenggarakan. Profesor tetap bertambah. Jurnal tetap terbit.

Akan tetapi, secara perlahan universitas kehilangan kemampuan yang jauh lebih menentukan, yakni kemampuan membangun proyek intelektual bersama.

Padahal dunia bergerak dalam arah sebaliknya. Lihatlah Iran, misalnya. Perbandingan ini tentu tidak boleh dibuat secara romantis. Iran mengalami rezim sanksi berlapis dengan sejarah dan intensitas yang berubah-ubah, sehingga menyederhanakannya sebagai “47 tahun diblokade” mungkin kurang tepat.

Namun, apapun dan betapapun sanksi itu memberikan dampak berat terhadap komunitas akademiknya -termasuk hambatan pertukaran ilmiah, komunikasi internasional, pendanaan dan aktivitas penelitian- justru menunjukkan pengalaman universitas di Iran sebagai sesuatu yang pantas diacu dan direnungkan.

Misalnya, kajian mengenai universitas Iran di bawah sanksi menemukan bahwa kebijakan sainsnya pada suatu periode berorientasi pada peningkatan publikasi dan posisi universitas. Kelak, tanpa digembar-gembor bergeser kepada penguatan dampak praktis sains dan kerja sama internasional.

Penelitian tersebut juga memberikan catatan kritis bahwa peningkatan keluaran publikasi tidak otomatis memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pelajarannya bagi UNSRAT bukan bahwa UNSRAT harus meniru Iran, apalagi orientasi pertahanannya. Pelajarannya jauh lebih mendasar bahwa universitas yang serius memandang ilmu pengetahuan sebagai kapasitas strategis.

Sains bukan ornamen universitas. Sains adalah kekuatan. Karena itulah, masa depan UNSRAT seharusnya tidak terutama dibicarakan sebagai pertanyaan tentang gedung baru, jumlah mahasiswa, atau pergantian pejabat rektor dan konconya nanti.

Pertanyaan yang jauh lebih radikal, yakni pengetahuan apakah yang dua puluh tahun dari sekarang, membuat Indonesia membutuhkan UNSRAT? Jika pertanyaan itu tidak dapat dijawab, pembangunan kampus mudah terjebak menjadi pembangunan administratif. Sebaliknya, bila pertanyaan itu dijawab melalui horizon Ratulangi, arah tersebut mulai terlihat.

UNSRAT berada di sebuah titik Indonesia yang menghadap langsung kepada salah satu ruang geopolitik terpenting dunia. Ratulangi dahulu melihat Pasifik sebagai persoalan masa depan. Generasi hari ini justru hidup di dalam masa depan yang pernah dilihatnya. Maka, nama Sam Ratulangi harus diubah dari identitas simbolik menjadi program intelektual.

Bayangkan jika tiga puluh atau lima puluh tahun mendatang? Orang dari Tokyo, Manila, Canberra, Honolulu, Seoul, Jepang atau kota-kota Asia Tenggara mencari riset tentang biodiversitas kepulauan, laut tropis, masyarakat pesisir, kesehatan kawasan Pasifik, pangan pulau kecil atau sejarah dan kebudayaan manusia di kawasan utara Indonesia.

Bisa diprediksi, salah satu institusi yang otomatis mereka pikirkan adalah UNSRAT. Itulah kemenangan universitas. Bukan ketika kandidat tertentu berhasil menjadi rektor.

Tetapi, ketika nama universitas menjadi sinonim dengan suatu bidang pengetahuan. Untuk mencapai keadaan itu, Ratulangi dan Fukuyama bertemu pada sebuah titik yang menarik. Ratulangi menyediakan horizon keluar, Pasifik. Fukuyama menyediakan fondasi ke dalam, kepercayaan (trust). UNSRAT memerlukan keduanya.

Tanpa horizon Pasifik, UNSRAT dapat menjadi universitas yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tanpa “high trust society”, horizon Pasifik hanya menjadi slogan dalam pidato dan dokumen perencanaan. Membangun kepercayaan pun tidak berarti menghilangkan konflik. Universitas tanpa konflik gagasan justru mencurigakan.

Ilmu pengetahuan berkembang karena tesis dibantah, teori dipersoalkan dan otoritas intelektual diuji.
Yang harus dipisahkan dengan tegas adalah konflik gagasan dengan konflik kepentingan. Kampus yang sehat harus keras dalam perdebatan. Namun, aman dalam perbedaan.

Di situlah makna sebuah “high trust university.” Kepercayaan bukan keadaan ketika semua orang sepakat. Kepercayaan adalah keadaan ketika orang dapat tidak sepakat, tetapi tetap mempercayai prosedur, integritas institusi dan kebebasan ilmiah satu sama lain.

Mungkin justru itulah revolusi terpenting yang diperlukan UNSRAT setelah lebih dari setengah abad perjalanannya. Universitas ini perlu keluar dari psikologi perebutan kampus menuju psikologi pembangunan peradaban ilmu. Pemilihan rektor harus dikembalikan ke ukurannya yang wajar sebagai mekanisme menentukan kepemimpinan administratif dan akademik. Dan bukan momentum yang menentukan seluruh pergaulan sosial universitas.

Siapa pun yang memimpin hanya memperoleh kesempatan beberapa tahun. Atau, satu maupun dua periode, hanya setara dengan delapan tahun. Sangat singkat untuk proyeksi masa depan. Institusi ilmu, jika dirawat dengan benar, hidup melampaui beberapa generasi.

Karena itulah, masa depan UNSRAT tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat memenangkan kampus, tetapi oleh apakah kampus mampu memenangkan masa depan. Di sinilah Ratulangi seakan kembali mengajukan pertanyaannya dari masa lalu. Indonesia berada di Pasifik.

Akan tetap, apakah kita mempunyai kapasitas pengetahuan untuk menentukan tempat kita sendiri di dalamnya?

Dan Fukuyama, pemikir geopolitik global, dari arah yang berbeda, mengingatkan bahwa kapasitas itu tidak mungkin dibangun hanya oleh manusia-manusia pintar yang hidup dalam pulau-pulau kecurigaan (islands of suspicion).

Pengetahuan membutuhkan kolaborasi. Kolaborasi membutuhkan modal sosial. Modal sosial membutuhkan kepercayaan. Maka, pekerjaan besar UNSRAT sesungguhnya bukan memilih antara menjadi kampus lokal atau universitas global. Ia harus menjadi global justru karena memahami secara mendalam tempat dari mana ia berpikir.

Manado bukan pinggiran jika dunia dilihat dari Pasifik. Padahal, sejak 1859, Alfred Russel Wallace telah menulis dalam The Malay Archipelago (1869) bahwa Menado is one of the prettiest in the East.

Sulawesi Utara bukan halaman belakang jika peta dibalik menghadap Samudra Pasifik. Dan UNSRAT tidak harus menjadi universitas pinggiran apabila berani mengambil kembali warisan intelektual orang yang namanya disandang. Lebih dari delapan puluh tahun lalu, Sam Ratulangi telah menatap Pasifik dan mencoba membaca dunia yang belum sepenuhnya datang.

Kini, universitas yang menyandang namanya menghadapi ujian yang hampir sama.

Apakah ia sekadar akan hidup di dalam perubahan yang dirancang orang lain, atau menghasilkan sains, gagasan, manusia dan institusi yang ikut merancang perubahan itu? Di sanalah masa depan UNSRAT seharusnya dimulai. Bukan dari kursi rektor. Melainkan dari keberanian untuk kembali menjadi universitas.

Universus adalah unus (satu), vertere (mengarah) yang berarti bahwa universitas adalah magistrorum et scholarium.(*)

#covermusik: Lagu berjudul “University Life” dirilis oleh proyek produsen musik stok dan soundtrack bernama INPLUSMUSIC pada 15 September 2025.

Manado, 28 September 2026

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan Senior dan Alumnus ‘kaleng-kaleng’ UNSRAT Tahun 1978 dan tak terdaftar di register IKA UNSRAT