FESyar BI Jadi Etalase Ekonomi Syariah, NU Jatim Punya NUCONOMIC Festival untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Warga

Momen penutupan FESyar Regional Jawa 2026 oleh Wakil Gubernur Jatim Emil E. Dardak di Grand City Convention and Exhibition, Surabaya, Minggu (27/9/2026) malam. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di Grand City Convention and Exhibition, Surabaya, resmi berakhir pada 27 September 2026. Gelaran tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-13 tersebut ditutup Wakil Gubernur Jawa Timur Emil E. Dardak, Minggu (27/9/2026) malam.

Penutupan FESyar Regional Jawa 2026 turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur M. Ibrahim, Anggota DPR RI Indah Kurnia, sejumlah bupati dan wali kota, serta sejumlah undangan.

Dalam laporannya, Ibrahim menyampaikan bahwa Fesyar 2026 berlangsung sukses, ditandai meningkatnya komitmen transaksi selama perhelatan dilaksanakan.

Fesyar 2026 menghadirkan 312 stan pameran yang menampilkan berbagai produk unggulan, mulai dari modest fashion, kriya, wastra, home decor, hingga kuliner halal (halal food & beverage) dari berbagai daerah di Jawa.

Selain pameran, FESyar juga menghadirkan Syariah Forum yang diisi seminar, talkshow, kajian Islami, serta business matching atau coaching untuk mendorong UMKM naik kelas.

“Selain itu, Fesyar 2026 digelar beberapa kompetisi serta aktivitas Pendukung sebagaimana Layanan sertifikasi halal one-stop services, lembaga keuangan sosial syariah, hingga fesyen dan talkshow inspiratif,” ujarnya.

Ibrahim menuturkan, rangkaian pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tersebut akan dilanjutkan melalui forum puncak, yakni Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang akan digelar pada 14-18 Oktober 2026 di JCC Senayan, Jakarta.

Di tengah geliat festival ekonomi syariah yang digagas Bank Indonesia tersebut, terdapat inisiatif lain dari Jawa Timur yang datang dari Nahdlatul Ulama (NU).

PWNU Jawa Timur memiliki agenda bernama NUCONOMIC Festival 2026, yang untuk pertama kalinya digelar di Kampung Coklat, Blitar, pada 5-7 Februari 2026 lalu.

Kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran NU dalam kehidupan warganya, khususnya di bidang ekonomi. Melalui NUCONOMIC Festival, dibangun ekosistem ekonomi NU melalui pemberdayaan UMKM, filantropi, dan pertanian.

NUCONOMIC Festival 2026 mencakup pameran produk pertanian, kehutanan, dan kelautan, pendampingan UMKM, business coaching, talkshow, hingga kompetisi Gen Z.

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Hagus Tarno, mengatakan Nuconomic Festival 2026 bukan sekadar pameran, tetapi diharapkan menjadi rintisan Orkestrasi gerakan pendampingan UMKM NU dan Industri pertanian untuk wujudkan kemaslahatan umat dan nahdliyin.

Wakil Ketua PWNU Jatim, Dr. Hakim Jayli (batik berkopiah hitam, tengah) saat meninjau stan LPPNU Pasuruan dalam momen perhelatan NUCONOMIC Festival 2026 di Kampung Coklat, Kabupaten Blitar, pada Februari 2026. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

“Kami sedang mematangkan konsep dan peta jalan gerakan Nuconomic, dengan mengambil titik berangkat dari hilir usaha pertanian, yakni aspek permintaan dan peluang pasar yang kemudian kita tarik ke belakang ke aspek hulu, yakni produksi usaha pertanian, termasuk Perhutanan Sosial dan pendampingan UMKM, lengkap dengan dukungan filantropi ZISWAF,” ujar guru besar pertanian Universitas Brawijaya ini dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Konsep tersebut menempatkan NUCONOMIC tidak hanya sebagai agenda pameran produk, tetapi sebagai upaya membangun mata rantai ekonomi yang menghubungkan pasar, produksi pertanian, UMKM, pembiayaan, hingga filantropi.

Ke depan, Hagus berharap NUCONOMIC Festival bisa mendapatkan dukungan pemerintah, khususnya Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Perbankan penyedia KUR, hingga lembaga sertifikasi, dunia kampus, hingga media sehingga terbentuk ekosistem pemberdayaan ekonomi warga.

Dukungan serupa juga diharapkan dari beberapa entitas ekonomi dan bisnis, sebagaimana Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), Lazisnu dan BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Himpunan Bisnis Pesantren (Hebitren), Gerakan Wakaf Indonesia (GWI), dan lainnya.

Jika FESyar Regional Jawa menjadi salah satu panggung besar untuk mempertemukan pelaku usaha, lembaga keuangan, pemerintah, dan ekosistem ekonomi syariah, NUCONOMIC Festival membawa gagasan serupa ke ruang pemberdayaan ekonomi warga NU dengan titik tekan pada UMKM, pertanian, filantropi, dan penguatan pasar.

Rintisan tersebut menjadi bagian dari upaya PWNU Jawa Timur mematangkan gerakan ekonomi yang tidak berhenti pada kegiatan festival, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.(*)

Kontributor: Hakim J

Editor: Abdel Rafi