Sawah Depok Kian Menyusut, TK Siti Maryam Ajak Anak Mengenal Petani dari Kebun Sekolah

Siswa-siswi TK Siti Maryam, Depok, saat belajar mengenai dunia tani di Kebun Sekolah mereka, Kamis (24/9/2026). (foto: Bachtiar dj)

DEPOK, CAKRAWARTA.com – Kamis (25/9/2025) pagi, kebun sekolah berubah menjadi ruang belajar terbuka. Anak-anak mengamati cabai, singkong, pisang, mangga, pepaya, hingga kacang. Mereka mengenali bagian tanaman yang tumbuh di atas tanah maupun yang tersembunyi di bawah permukaan.

Setelah mengenal berbagai tanaman, anak-anak diajak menanam singkong dan kacang. Mereka juga belajar bahwa tanaman membutuhkan air, perawatan, dan waktu sebelum akhirnya menghasilkan pangan yang dapat dikonsumsi.

Kegiatan tersebut bukan pengalaman sesaat. TK Siti Maryam telah menjadikan kebun sebagai bagian dari pembelajaran pertanian terpadu. Selain bercocok tanam, anak-anak diperkenalkan pada pemeliharaan ikan lele, ayam, dan maggot. Hasil kegiatan pertanian dan peternakan itu pada kesempatan tertentu dimanfaatkan dalam kegiatan memasak bersama atau cooking class.

Aktivitas berkebun juga dilakukan secara rutin pada pagi hari sebelum pembelajaran di kelas dan sarapan. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mengenal tanaman ketika memperingati Hari Tani Nasional, tetapi juga berkesempatan mengamati pertumbuhannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aprilianti Putri Hermawan, guru Kelompok Bermain sekaligus koordinator kegiatan Hari Tani Nasional, menjelaskan bahwa pembelajaran tersebut tidak berhenti pada pengenalan jenis tanaman.

“Yang ingin kami tanamkan bukan hanya pengetahuan tentang tanaman. Anak-anak belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan proses dan perawatan. Dari sana mereka belajar menghargai makanan, alam, dan orang-orang yang bekerja menghasilkan pangan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut kemudian dihubungkan dengan kebiasaan makan bersama. Saat sarapan, guru mengajak anak-anak memahami bahwa makanan yang tersedia merupakan hasil dari proses panjang, mulai dari penanaman dan perawatan hingga panen dan pengolahan.

Pendidikan lingkungan itu juga melibatkan keluarga. Sebelum peringatan Hari Tani Nasional, anak-anak bersama orang tua mendapat tugas membuat topi petani menggunakan karton atau kardus bekas. Topi tersebut dihias sesuai kreativitas masing-masing dan dikenakan saat kegiatan berlangsung.

Nur Kholisoh Labibah, orang tua M. Nu’man Abdullah, siswa TK A, mengapresiasi pendekatan pembelajaran yang diterapkan sekolah. Menurutnya, kebiasaan berkebun di sekolah turut memengaruhi ketertarikan anak terhadap kegiatan serupa di rumah.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini melalui menanam dan merawat tanaman. Saya melihat anak saya menjadi lebih bersemangat berkebun di rumah. Dari kegiatan seperti ini, anak juga belajar menghargai alam dan mengenal jasa petani,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman tersebut terus berlanjut sehingga anak-anak tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan dan menghargai sumber pangan.

Namun, di balik kegiatan sederhana itu, tersimpan persoalan yang lebih luas. Data BPS dalam publikasi Kota Depok Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa pada 2024, lahan sawah di Depok hanya tercatat di tiga kecamatan, yakni Tapos seluas 50 hektare, Cipayung 7 hektare, dan Sawangan 4 hektare.

Penyusutan lahan tersebut menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan pertanian perkotaan. Pendidikan melalui kebun sekolah dapat membantu anak-anak mengenal asal pangan, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan untuk mempertahankan lahan pertanian yang masih tersedia.

Di sinilah peringatan Hari Tani Nasional memperoleh makna yang lebih luas. Mengajarkan anak menghargai petani merupakan langkah pendidikan yang penting. Namun, penghargaan terhadap petani juga perlu tercermin dalam upaya menjaga keberlanjutan pertanian dan ruang produksi pangan.(*)

Kontributor: Bachtiar dj

Editor: Abdel Rafi