(foto: diakses dari cover buku Empson di kanal buku Amazon dan diubah atas perbuatan AI)
“Dengan demikian, dalam bahasa sehari-hari, ambiguitas dapat berarti apa saja yang membuka peluang bagi reaksi-reaksi alternatif terhadap ungkapan bahasa yang sama… ambiguitas bukanlah sekadar sebuah kesalahan, melainkan kondisi mendasar dari bahasa kita, serta sebuah kekayaan yang memungkinkan terciptanya puisi.” -William Empson (1906-1986), Seven Types of Ambiguity (1930).
Pada usia relatif muda, mahasiswa Universitas Cambridge, William Empson, bikin heboh dosen dan mahasiswa seangkatannya.
Kehebohan ini tumbuh seiring ia menulis kritik sastra, pada usia 24 tahun, Seven Types of Ambiguity yang hingga kini tetap dianggap relevan.
Secara mendasar, karya ini membedah bagaimana bahasa dalam karya sastra, khususnya puisi, mampu memuat kompleksitas makna yang berlapis-lapis.
Empson mendefinisikan ambiguitas secara luas sebagai segala nuansa verbal -sekecil apa pun itu- untuk memberikan ruang bagi alternatif reaksi terhadap potongan bahasa yang sama.
Melalui pendekatan pembacaan dekat (close reading), buku ini meletakkan fondasi penting bagi aliran New Criticism di dunia akademik modern dengan mengklasifikasikan kerumitan makna teks ke dalam tujuh kategori gradasi.
Dalam ranah kritik sastra, kontribusi terbesar buku ini terletak pada pergeseran cara pandang bahwa ketidakjelasan atau ambiguitas bukanlah sebuah kecacatan bahasa, melainkan alat kreatif yang sengaja dihadirkan untuk memperkaya pengalaman estetika pembaca.
Mengenai esensi utama karya tersebut dalam kritik sastra, William Empson mendefinisikan ruang lingkup dan tujuan sebuah analisis atau kritik sastra yang lebih mutakhir dan komprehensif.
William Empson lahir di Yokefleet, Yorkshire, Inggris, pada 27 September 1906 dan wafat pada 15 April 1984.
Ia adalah seorang kritikus sastra, penyair, dan akademisi terkemuka yang menempuh pendidikan di Universitas Cambridge dengan mengambil spesialisasi matematika sebelum akhirnya beralih ke bidang sastra di bawah bimbingan I. A. Richards(1893-1979).
Karier akademik Empson diwarnai dengan mengajar di berbagai belahan dunia, termasuk di Universitas Tokyo di Jepang dari tahun 1931 hingga 1934, serta di Universitas Peking di Tiongkok selama periode perang antara tahun 1937 dan 1947.
Setelah kembali ke Inggris, ia menjabat sebagai profesor sastra Inggris di Universitas Sheffield dari tahun 1953 hingga pensiun pada tahun 1971.
Satu dekade kemudian, 1979, Empson dianugerahi gelar kesatria(Sir) atas jasanya di bidang kritik sastra.
Sebagai seorang pemikir, namanya sangat melekat pada perkembangan Kritisisme Baru berkat dua publikasi monumentalnya, SevenTypes ofAmbiguity (1930) dan Some Versions of Pastoral (1935).
Melalui karya-karya tersebut, ia merevolusi cara pembacaan teks sastra dengan memfokuskan analisis pada kompleksitas bahasa, ironi, serta makna berlapis dalam karya puisi maupun prosa.
Lantas bagaimana kondisi kritik sastra di Inggris ketika Empson menerbitkan, khusus bukunya Seven Types of Ambiquity?
Kondisi kritik sastra di Inggris pada awal abad ke-20, khususnya ketika William Empson menerbitkan Seven Types of Ambiguity pada tahun 1930, didominasi oleh pendekatan biografis, historis, dan impresionistik.
Kritik sastra saat itu kerap menilai karya sastra berdasarkan latar belakang pengarang, moralitas, atau kesan emosional subjektif pembaca, alih-alih membedah teks itu sendiri secara ketat.
Namun, era tersebut juga menjadi saksi lahirnya transisi penting melalui gagasan “Praktis Kritik” (Practical Criticism) yang dipelopori oleh mentor Empson di Universitas Cambridge, I.A. Richards.
Richards mulai mengajarkan pentingnya menganalisis teks secara mandiri tanpa terikat pada biografi pengarang.
Buku kritik sastra Richards terkenal, Principles of Literary Criticism terbit pada tahun 1924 dan juga hingga kini masih jadi referensi klasik kritik sastra.
Di tengah iklim inilah Empson hadir membawa pendekatan pembacaan dekat (close reading) yang revolusioner.
Kelak, konsep kritik sastra Empson dan gurunya, Richard, menjadi fondasi utama bagi gerakan Kritisisme Baru (New Criticism) yang ikut memengaruhi teori dan kritik sastra, antara lain John Crowe Ransom, Cleanth Brooks & Robert Penn Warren maupun William K. Wimsatt & Monroe Beardsley.
Berikut ketujuh tipe ambiguitas kritik sastra baru dari Empson yang sangat berpengaruh -ketika Empson masih berusia sangat muda- sebagai seorang mahasiswa di Universitas Cambridge.
Secara mendasar, karya ini membedah bagaimana bahasa dalam karya sastra, khususnya puisi, mampu memuat kompleksitas makna yang berlapis-lapis.
Empson mendefinisikan ambiguitas secara luas sebagai segala nuansa verbal, sekecil apa pun itu, yang memberikan ruang bagi alternatif reaksi terhadap potongan bahasa yang sama.
Melalui pendekatan pembacaan dekat (close reading), buku ini meletakkan fondasi penting bagi aliran Kritisisme Baru (New Criticism) di dunia akademik modern dengan mengklasifikasikan kerumitan makna teks ke dalam tujuh kategori gradasi.
Dalam ranah kritik sastra, kontribusi terbesar buku ini terletak pada pergeseran cara pandang bahwa ketidakjelasan atau ambiguitas bukanlah sebuah kecacatan bahasa, melainkan alat kreatif yang sengaja dihadirkan untuk memperkaya pengalaman estetika pembaca.
Mengenai esensi utama karya tersebut dalam kritik sastra, William Empson mendefinisikannya secara rinci.
Ia adalah seorang kritikus sastra, penyair, dan akademisi terkemuka yang menempuh pendidikan di Universitas Cambridge dengan mengambil spesialisasi matematika sebelum akhirnya beralih ke bidang sastra di bawah bimbingan I. A. Richards.
Kariernya diwarnai dengan mengajar di berbagai belahan dunia, termasuk di Universitas Tokyo di Jepang dari tahun 1931 hingga 1934, serta di Universitas Peking di Tiongkok selama periode perang antara tahun 1937 dan 1947.
Setelah kembali ke Inggris, ia menjabat sebagai profesor sastra Inggris di Universitas Sheffield dari tahun 1953 hingga pensiun pada tahun 1971, dan dianugerahi gelar kesatria pada tahun 1979 atas jasanya di bidang sastra.
Sebagai seorang pemikir, namanya sangat melekat pada perkembangan Kritisisme Baru berkat publikasi monumentalnya Seven Types ofAmbiguity (1930) dan Some Versions of Pastoral (1935).
Bagaimana kondisi kritik sastra di Inggris ketika Empson menerbitkan bukunya Seven Types of Ambiquity?
Kondisi kritik sastra di Inggris pada awal abad ke-20 -khususnya ketika William Empson menerbitkan Seven Types of Ambiguity pada tahun 1930- didominasi oleh pendekatan biografis, historis, dan impresionistik.
Kritik sastra saat itu kerap menilai karya sastra berdasarkan latar belakang pengarang, moralitas, atau kesan emosional subjektif pembaca, alih-alih membedah teks itu sendiri secara ketat.
Namun, era tersebut juga menjadi saksi lahirnya transisi penting melalui gagasan “Praktis Kritik” (Practical Criticism) yang dipelopori oleh mentor Empson di Universitas Cambridge, yaitu I.A. Richards.
Richards mulai mengajarkan pentingnya menganalisis teks secara mandiri tanpa terikat pada biografi pengarang.
Di tengah iklim inilah Empson hadir membawa pendekatan pembacaan dekat (close reading) yang revolusioner, yang kemudian menjadi fondasi utama bagi gerakan Kritisisme Baru (New Criticism).
Dalam buku tersebut, Empson mengklasifikasikan gradasi kerumitan makna dan ambiguitas bahasa dalam puisi menjadi tujuh jenis utama berikut:
1. Metaphor and Simile. Terjadi ketika sebuah detail atau kalimat penjelas mendemonstrasikan beberapa makna sekaligus secara serentak melalui penggunaan metafora.
2. Merged Meanings. Ketika dua atau lebih makna alternatif menyatu padu di bawah satu payung koheren yang dikehendaki oleh pengarang.
3. Puns and Double Meanings. Penggunaan dua makna atau lebih yang tampaknya tidak berhubungan namun termuat dalam satu kata yang sama, seperti permainan kata(puns).
4. Complex State of Mind. Ketika makna-makna alternatif saling berbenturan atau bertentangan, tetapi secara bersama-sama justru mencerminkan kompleksitas suasana hati atau kondisi mental pengarang.
5. Fortunate Confusion/Evolving Simile. Situasi ketika sebuah perumpamaan (simile) setengah matang atau membingungkan membuat pengarang seolah-olah sedang menemukan gagasannya sendiri di tengah proses penulisan.
6. Forced Invention by Reader. Ketika sebuah pernyataan atau kalimat dari pengarang sangat kontradiktif, janggal, atau kosong, sehingga pembaca terpaksa harus menciptakan dan menafsirkan maknanya sendiri.
7. Tipe Ketujuh, Oppositions and Fundamental Division. Tingkat ambiguitas tertinggi ketika dua kata atau konsep yang saling bertolak belakang(binary opposites) hadir secara bersamaan dalam teks, mengekspresikan pertentangan mendasar atau perpecahan mental dalam diri sang pengarang.
Salah satu karya ilmiah menggunakan teori ambiguitas berasal dari buku yang berjudul Die Kultur der Ambiguität: Eine andere Geschichte des Islams (2011), karya Prof. Dr. Thomas Bauer. Prof. Bauer, seorang akademisi dan sejarawan kelahiran tahun 1961. Ia merupakan Guru Besar di bidang Studi Islam dan Arabistik di Westfälische Wilhelms-Universität Münster, Jerman.(*)
#covermusic: Air on the G String dari Johann Sebastian Bach (1685-1750).