
“Literasi adalah kebudayaan sunyi. Kebudayaan huruf yang diaktifkan pada scripta manent.” – A. Teeuw (1921-2012), Kelisanan dan Keberaksaraan (1994).
Delapan tahun, 2018, telah berlalu sejak tulisan ini pertama kali saya unggah ke laman Facebook.
Dunia literasi telah berubah, bukan hanya dalam bentuk dan medium, tetapi dalam cara ia dipahami dan dipraktikkan.
Kini, literasi bukan lagi sekadar kebudayaan sunyi seperti yang dikatakan A. Teeuw, melainkan medan pertarungan makna yang semakin kompleks dan terfragmentasi.
Dalam lanskap digital yang terus melaju, literasi telah menjadi produk yang dikomodifikasi, diproses dalam algoritma, dan dipasarkan sebagai konten. Berisi atau kosong, soal lain.
Namun, di balik gemuruh itu, pertanyaan mendasar tetap menggema, apakah literasi masih menjadi ruang pemulihan pengetahuan, atau justru menjadi ladang infodemik yang tak kunjung reda?
Dalam buku Ucinistik dan Ledakan Kebenaran (2018), saya mengajukan gagasan bahwa kebenaran bukanlah entitas tunggal yang bisa diklaim, melainkan ledakan makna yang terus bergerak dalam ruang sosial, politik, dan budaya.
Literasi, dalam konteks ini, bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis.
Tapi juga, tentang bagaimana teks dan konteks saling menyulut, menciptakan percikan pemahaman yang tidak selalu stabil.
Literasi adalah medan ucinistik -medan tafsir yang cair- di mana kebenaran tidak hadir sebagai monolit, tetapi sebagai fragmen yang terus dinegosiasikan.
Kini, ketika institusi literasi tumbuh pesat dan sibuk mengurus proyek dan event, kita justru menyaksikan kemunduran dalam produksi teks yang bermakna.
Apalagi dengan kehadiran AI, Akal Imitasi.
Literasi menjadi ajang performatif, bukan reflektif.
Ia kehilangan kedalaman karena terlalu sibuk dengan permukaan.
Dibekuk dalam produk teks berlimpah di dunia digitalisme dan virtual.
Padahal, seperti yang diungkap oleh Ian F. McNeely dan Lisa Wolverton, dalam Reinventing Knowledge: From Alexandria to the Internet (2008), bahwa pemulihan pengetahuan sejati lahir dari enam institusi warisan: perpustakaan, biara, universitas, republik surat, disiplin ilmu, dan laboratorium.
Namun, dalam era digital, keenam institusi itu telah direduksi menjadi platform, server, dan jaringan yang lebih sibuk mengatur distribusi daripada makna.
Walter J. Ong dalam Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982) menyebut ini sebagai “teknologisasi aksara” merupakan sebuah proses di mana huruf dan kata menjadi teknologi, bukan lagi ekspresi jiwa.
Bahkan Levi-Strauss pun telah lama mengingatkan bahwa pikiran primitif yang total dalam lisan, kini telah digantikan oleh pikiran digital yang total dalam visual.
Namun, jauh sebelumnya, juga telah dikemukakan Franz Boas dalam The Mind of Primitive (1911), bahwa “Tidak ada perbedaan mendasar dalam cara berpikir manusia primitif dan beradab.”
Kita hidup dalam era totalisasi baru, di mana literasi bukan lagi percakapan, melainkan produksi konten yang cepat, instan, dan sering kali tanpa kedalaman.
Sebagai fiksiwan, saya tidak memburu literasi dalam gerakan institusional.
Saya memburunya dalam ruang sunyi antara lisan dan aksara, antara teks dan konteks, antara makna dan noise.
Literasi harus kembali menjadi ruang pencarian, bukan sekadar ruang presentasi.
Ia harus menjadi ledakan kebenaran yang mengganggu, menggugat, dan menghidupkan kembali percakapan yang telah lama hilang.
Karena tanpa percakapan, literasi hanyalah monolog panjang yang tak pernah menyentuh.
Pandemi, misalnya, telah mengajarkan kita bahwa informasi bisa menjadi virus.
Infodemik adalah bentuk mutakhir dari literasi bermasalah -di mana teks tidak lagi membawa makna- yang malah membawa kebingungan.
Maka, tugas kita bukan hanya melipatgandakan produksi teks, tetapi juga memperdalam pemahaman konteks.
Literasi harus menjadi alat untuk menyelaraskan kebudayaan, teknologi, dan sains.
Bukan sekadar menjadi pelengkap algoritma keberaksaraan yang didukung oleh kelisanan
Beberapa tahun berselang -ketika literasi bermalih sebagai deus ex machine AI- saya tetap percaya bahwa literasi bukan cuma soal reproduksi aksara yang dipasok dari mekanika “gaib.”
Tapi, soal keberanian untuk terus mencari makna di tengah kebisingan reproduksi wacana, aksara dan kelisanan.
Now literacy no conversation sebagai buah biomolekuler huruf fonim, morfem hingga sintaks yang disusun dan terstruktur.
Singkatnya, kini seperti bioevolusi yang disingkat sebagai bioliterasi.
Meski demikian, itu fase peringatan yang evolutif. Mirip ditafsir De Wall sebagai filosofi primate.
Bahwa tanpa percakapan lintas fasilitas, manual maupun bukan, literasi akan kehilangan jiwa.
Dan kita, yang tak paham akan kehilangan arah. Nah! (*)
Manado, 17 September 2026
*Ditulis dengan sedikit revisi dari teks artikel sebelumnya
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








