
KOLKATA, CAKRAWARTA.com – Ilmuwan politik Indonesia Airlangga Pribadi Kusman meninggal dunia pada usia 49 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Kabar duka itu disampaikan oleh intelektual kaliber internasional Vijay Prashad, Direktur Tricontinental: Institute for Social Research, yang mengenang Airlangga sebagai intelektual muda yang cemerlang, energik, dan dermawan.
Dalam pernyataan yang disampaikan di akun media sosial resmi miliknya setelah kepergian sahabatnya tersebut, Prashad mengaku terkejut kehilangan Airlangga yang disebutnya sebagai sosok dengan energi intelektual dan politik yang besar.
“Ini mengejutkan. Kami kehilangan seorang sahabat yang berbakat, energik, brilian, dan murah hati,” tulis Prashad dalam pernyataannya, Rabu (9/9.2026).
Penegasan itu ia kemukakan pula, saat tim Cakrawarta.com menghubunginya langsung untuk meminta izin mengutip pernyataannya itu, “Tentu saja (saya bersedia dikutip, red.), Kita bersama masih sangat terpukul atas kehilangan ini (berpulangnya Airlangga Pribadi Kusman, red.).” tegasnya, Jumat (11/9/2026).
Airlangga Pribadi Kusman, yang lahir pada 1976, dikenal sebagai ilmuwan politik yang menaruh perhatian besar pada pemikiran politik Indonesia, khususnya warisan pemikiran Presiden pertama Indonesia, Sukarno, serta gagasan Marhaenisme.
Dalam beberapa tahun terakhir, Airlangga aktif menghasilkan karya yang berusaha membawa kembali gagasan politik Sukarno ke dalam percakapan Indonesia kontemporer. Salah satu karyanya adalah Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia, yang terbit pada 2023.
Pada 2026, dua buku karya Airlangga kembali diterbitkan. Salah satunya adalah Biografi Politik Puan Maharani: Digembleng oleh Keadaan, sementara karya lainnya, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z, secara khusus berupaya mempertemukan gagasan Marhaenisme dengan generasi muda Indonesia.
Karya terakhir tersebut mendapat perhatian khusus dari Prashad. Direktur Tricontinental itu bahkan berharap buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan untuk pembaca internasional.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa pemikiran Airlangga tidak hanya dipandang relevan dalam konteks politik Indonesia, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk dibaca dalam percakapan global mengenai sejarah pemikiran politik, sosialisme, pembebasan, dan politik negara-negara Global South.
Hubungan intelektual antara Airlangga dan Prashad sendiri telah berlangsung dalam sejumlah proyek. Airlangga menulis pengantar untuk edisi bahasa Indonesia buku Prashad, Darker Nations, sebuah karya yang membahas sejarah politik negara-negara Dunia Ketiga dan proyek politik negara-negara pascakolonial.
Keduanya juga tengah mengerjakan proyek bersama Bonnie Triyana untuk menghimpun dan menerbitkan karya-karya Sukarno melalui GDN Press.
“Dia menulis pengantar untuk terjemahan bahasa Indonesia Darker Nations dan kami sedang bekerja bersama Bonnie Triyana dalam sebuah kumpulan karya Bung Karno Sukarno untuk GDN Press,” tulis Prashad.
Kenangan Prashad terhadap Airlangga juga tidak semata-mata berkaitan dengan pekerjaan akademik dan penerbitan. Ia mengingat perjalanan bersama Airlangga dan sejumlah kolega melintasi berbagai wilayah Indonesia.
Prashad menyebut dirinya, Atul Chandra, dan Tings Chak baru-baru ini melakukan perjalanan keliling Indonesia bersama Airlangga dan sejumlah orang lainnya. Perjalanan itu, menurut Prashad, menjadi salah satu kenangan indah sebelum kepergian mendadak sang sahabat.
“Kami baru saja mengalami waktu yang luar biasa ketika Atul Chandra, Tings Chak, dan saya melakukan perjalanan melintasi Indonesia bersamanya dan yang lainnya,” katanya.
Kepergian Airlangga pada usia yang relatif muda meninggalkan ruang kosong dalam lingkungan intelektual Indonesia, terutama bagi mereka yang selama ini berupaya membaca kembali sejarah politik Indonesia dari perspektif pemikiran Sukarno dan tradisi politik kerakyatan.
Melalui buku-bukunya, Airlangga tidak sekadar menempatkan Marhaenisme sebagai bagian dari sejarah politik Indonesia. Ia juga berusaha mengajukan pertanyaan tentang bagaimana gagasan tersebut dapat dibaca kembali dalam konteks generasi baru.
Bagi Prashad, kehilangan Airlangga karena itu bukan hanya kehilangan seorang akademisi, melainkan juga kehilangan seorang sahabat dan rekan intelektual yang sedang mengerjakan berbagai proyek lintas batas, antara sejarah dan politik, antara Indonesia dan dunia, serta antara pemikiran Sukarno dan generasi masa kini.
“Selamat jalan, teman,” tulis Prashad menutup pernyataannya.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








