
BANGKALAN, CAKRAWARTA.com – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Saidiyah Aermata, Buduran, Arosbaya, Bangkalan, KH Syarifuddin Damanhuri, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan orang fasik dan orang yang dipandang hina sebagai pemimpin. Menurut dia, salah memilih pemimpin dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan KH Syarifuddin -sapaan akrabnya- pada Senin (24/8/2026) dengan mengutip sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Abdullah bin Al-Mubarak. Dalam riwayat yang dicantumkan dalam kitab Al-Amtsal wal Hikam karya Imam Al-Mawardi, disebutkan peringatan tentang kondisi suatu kaum ketika kepemimpinan berada di tangan orang fasik dan orang yang paling hina di antara mereka.
“Apabila suatu suku dipimpin oleh orang fasik di antara mereka, pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara mereka, dan seseorang dihormati hanya karena takut akan kejahatannya, maka tunggulah datangnya bencana atau cobaan,” demikian kutipan riwayat yang disampaikan KH Syarifuddin.
Menurut KH Syarifuddin, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan sekadar persoalan jabatan atau kekuasaan. Pemimpin memiliki tanggung jawab besar karena keputusan yang diambilnya dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas.
Ia menekankan pentingnya masyarakat mempertimbangkan kualitas moral dan integritas seseorang sebelum memberikan kepercayaan untuk memimpin.
Peringatan tersebut juga menyoroti fenomena ketika seseorang dihormati bukan karena keteladanan, kemampuan, atau integritasnya, melainkan karena masyarakat takut terhadap kekuasaan atau kejahatan yang mungkin dilakukannya.
Dalam riwayat yang dikutip tersebut, kondisi semacam itu disebut sebagai tanda yang patut diwaspadai karena dapat menjadi pintu datangnya “bencana” atau cobaan bagi suatu kaum.
KH Syarifuddin merujuk riwayat tersebut sebagai bagian dari pesan moral kepada masyarakat agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai ukuran utama dalam menentukan pemimpin. Sebaliknya, kepemimpinan semestinya diberikan kepada orang yang memiliki kelayakan moral dan mampu menjalankan amanah.
Pesan itu sekaligus mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah kepemimpinan. Pilihan terhadap seorang pemimpin, karena itu, tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi juga membawa konsekuensi bagi kehidupan bersama.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








