
MALANG, CAKRAWARTA.com – Lembaga Pendidikan Tinggi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LPT PWNU) Jawa Timur merumuskan enam agenda transformasi perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) yang akan direkomendasikan dalam Muktamar ke-35 NU. Agenda tersebut mencakup penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, riset, internasionalisasi, kemahasiswaan, serta tata kelola perguruan tinggi.
Rekomendasi itu dirumuskan melalui sarasehan dan diskusi Pra-Muktamar ke-35 NU yang digelar LPT PWNU Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Islam Malang (Unisma) dan diikuti pimpinan PTNU se-Jawa Timur pada 12 Agustus 2026.
Ketua LPT PWNU Jawa Timur Prof. Dr. Junaidi Mistar, Ph.D., mengatakan rekomendasi tersebut disusun sebagai respons terhadap kebutuhan PTNU memasuki abad kedua NU. Menurut dia, penguatan perguruan tinggi NU tidak cukup dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan ekosistem yang memungkinkan PTNU saling terhubung, berbagi sumber daya, dan mengembangkan keunggulan masing-masing.
“LPTNU Jatim telah merumuskan rekomendasi untuk Muktamar ke-35 NU melalui sarasehan dan diskusi Pra-Muktamar ke-35 NU yang bekerja sama dengan Universitas Islam Malang dan diikuti pimpinan PTNU se-Jatim,” kata Junaidi dalam keterangan di Malang, Jumat (14/8/2026).
Sarasehan bertema “Transformasi PTNU 2045: Membangun Ekosistem Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang Unggul, Mandiri, Berdampak dan Mendunia” tersebut menghadirkan Sekretaris LPT PBNU Dr. rer. pol. M. Faishal Aminuddin dan Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Mukhammad Najib, M.M.
Enam agenda yang dirumuskan mencakup penguatan kelembagaan dan badan hukum penyelenggara, pengembangan sumber daya manusia dan kaderisasi akademik, riset dan inovasi kolaboratif, peningkatan reputasi serta internasionalisasi, penguatan tata kelola kemahasiswaan dan alumni, serta penguatan tata kelola, regulasi, dan penjaminan mutu.
Pada aspek kelembagaan, peserta mendorong penataan struktur organisasi, penguatan Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi (BPP), pengembangan otonomi kampus, serta hubungan yang lebih sinergis antara LPTNU dan pimpinan PTNU.
Sementara itu, dalam bidang tata kelola dan penjaminan mutu, peserta mendorong harmonisasi statuta, penyusunan standar operasional prosedur akademik dan administrasi yang lebih adaptif, serta penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga dinilai perlu terintegrasi dalam tata kelola perguruan tinggi NU.
Agenda berikutnya berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia dan kaderisasi akademik. Fokusnya antara lain mempercepat peningkatan jabatan akademik dosen menuju Lektor Kepala dan Guru Besar, meningkatkan kualifikasi dosen, memperkuat kompetensi tenaga kependidikan, serta membangun sistem rekrutmen dan pembinaan talenta unggul di lingkungan PTNU.
Dalam bidang riset, publikasi, dan inovasi, forum menekankan pentingnya peningkatan mutu penelitian, produktivitas publikasi ilmiah bereputasi, hilirisasi hasil inovasi, serta kolaborasi riset antarkampus PTNU dengan dunia industri.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat dan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Adapun terkait reputasi dan internasionalisasi, peserta membahas strategi meningkatkan posisi PTNU dalam klasterisasi Kemendiktisaintek, memperkuat kinerja SINTA dan Webometrics, meningkatkan sitasi publikasi ilmiah, serta membangun jejaring kemitraan internasional secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pada bidang kemahasiswaan, beasiswa, dan alumni, agenda yang didorong meliputi peningkatan prestasi mahasiswa, pengembangan keterampilan nonakademik, perluasan akses beasiswa, serta kaderisasi mahasiswa berbasis nilai-nilai ke-NU-an. Jejaring alumni juga dipandang perlu diperkuat sebagai mitra strategis dalam pengembangan perguruan tinggi.
Sekretaris LPT PBNU Dr. rer. pol. M. Faishal Aminuddin mengatakan PTNU perlu meninggalkan pola pengembangan yang berjalan sendiri-sendiri. Menurut dia, kekuatan PTNU justru dapat dibangun melalui konektivitas dan kolaborasi antarkampus.
“PTNU perlu bergerak sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan dalam bidang kelembagaan, sumber daya manusia, riset, maupun internasionalisasi,” kata Faishal.
Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek Prof. Dr. Mukhammad Najib mengatakan transformasi perguruan tinggi tidak cukup hanya berfokus pada aspek administratif dan akademik. Perguruan tinggi juga perlu membangun ekosistem yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak.
“Penguatan tata kelola, mutu, serta daya saing menjadi kunci bagi PTNU untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pembangunan bangsa,” ujar Najib.
Menurut dia, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam pengembangan PTNU karena menjadi salah satu wilayah dengan jumlah perguruan tinggi NU yang besar. Kondisi tersebut, kata Najib, dapat menjadi modal untuk membangun jejaring dan kolaborasi yang lebih kuat.
Enam agenda tersebut selanjutnya diharapkan menjadi bagian dari rekomendasi LPTNU Jawa Timur untuk Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Melalui penguatan ekosistem, LPTNU Jatim mendorong PTNU tidak hanya mampu meningkatkan mutu internal, tetapi juga memiliki daya saing, kemandirian, dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat hingga 2045.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








