
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Pemerintah Indonesia terus memperkuat diplomasi bahasa dan budaya sebagai bagian dari strategi memperluas pengaruh dan hubungan antarmasyarakat dengan berbagai negara. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), promosi kebudayaan, serta penguatan jejaring akademik di Australia, Vanuatu, Jepang, Rusia, dan Belarusia.
Strategi tersebut mengemuka dalam Seminar Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) serta Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO yang digelar secara daring pada 1-8 Agustus 2026. Sesi pada Jumat (7/8/2026) diikuti sekitar 80 peserta dan menghadirkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra Prof Yuli Rahmawati, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo Prof Amzul Rifin, serta perwakilan Atdikbud KBRI Moskow Prof Khoirul Rosyadi.
Ketiga narasumber sepakat bahwa bahasa dan budaya merupakan instrumen soft diplomacy yang efektif untuk memperkenalkan identitas Indonesia sekaligus membangun saling pengertian dan kepercayaan dengan masyarakat internasional.
Prof Yuli Rahmawati mengatakan, Bahasa Indonesia telah lama diajarkan di sekolah, perguruan tinggi, program bahasa komunitas, maupun kelas BIPA di Australia. Namun, keberlanjutan pembelajaran masih menghadapi tantangan.
Data menunjukkan jumlah perguruan tinggi Australia yang membuka program Bahasa Indonesia menurun dari 22 universitas pada 1992 menjadi 12 universitas pada 2022. Selain itu, minat pelajar juga cenderung menurun pada jenjang pendidikan menengah atas.
“Tantangannya bukan hanya menarik pembelajar baru, tetapi juga mempertahankan minat mereka dan menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia relevan bagi pendidikan, dunia kerja, serta masa depan hubungan Australia dan Indonesia,” ujar Yuli.
Menurut dia, belajar Bahasa Indonesia bukan sekadar mempelajari bahasa komunikasi, melainkan juga memahami masyarakat, budaya, dan cara pandang Indonesia.
Untuk menjaga minat tersebut, KBRI Canberra mengembangkan berbagai program, antara lain BIPA daring, kunjungan ke sekolah, Indonesia Goes to School, festival film Indonesia, penghargaan bagi guru dan pelajar, serta Australian Congress for Indonesian Language.
Program Indonesian Teaching Assistant (ITA) menjadi salah satu andalan. Sepanjang 2023–2026, sebanyak 138 guru bantu dari berbagai perguruan tinggi Indonesia ditempatkan di sejumlah sekolah Australia guna memperkuat pembelajaran Bahasa Indonesia.
Diplomasi budaya juga diperluas melalui berbagai festival multikultural, kerja sama sekolah kembar, hingga Cultural Immersion Program 2026 yang memberi kesempatan peserta Australia mengenal kehidupan sosial dan tradisi masyarakat Indonesia secara langsung.
Di Vanuatu, pembelajaran Bahasa Indonesia turut mendukung hubungan antarmasyarakat. Pada 2025–2026, sebanyak 22 mahasiswa menerima beasiswa Pemerintah Indonesia melalui Program Kemitraan Negara Berkembang dan The Indonesian AID Scholarship. Pembelajaran BIPA menjadi bekal sebelum mereka menjalani studi di Indonesia.
Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo Prof Amzul Rifin mengatakan meningkatnya hubungan ekonomi, investasi, pendidikan, dan riset antara Indonesia dan Jepang mendorong kebutuhan tenaga kerja maupun akademisi yang menguasai Bahasa Indonesia.
Berdasarkan data Desember 2025, jumlah warga negara Indonesia di Jepang mencapai 266.069 orang. Di sisi lain, semakin banyak perusahaan Jepang yang berinvestasi di Indonesia sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang memahami bahasa dan budaya Indonesia.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Jepang kini berkembang melalui perguruan tinggi, lembaga kursus, kelas privat, serta Kursus Orientasi Indonesia yang diselenggarakan Japan Indonesia Association sejak 1975.
Ekosistem tersebut didukung Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA Jepang, Himpunan Peneliti Indonesia Seluruh Jepang, komunitas Indonesianis, serta sekitar 500 alumni Program Darmasiswa asal Jepang yang kini berkiprah di berbagai sektor.
Dari Rusia dan Belarusia, Prof Khoirul Rosyadi memaparkan strategi diplomasi yang tidak lagi berpusat di Moskow, melainkan diperluas ke berbagai kota melalui kerja sama dengan universitas, pusat bahasa, perpustakaan, dan komunitas budaya.
Program tersebut mencakup Sanggar Gamelan Dadali, komunitas tari Kirana Nusantara, Rumah Nusantara, kelas BIPA di KBRI Moskow maupun Perpustakaan Sastra Asing Rudomino, serta pembelajaran BIPA secara daring.
Pada 2026, jangkauan program diperluas melalui pendirian Pusat Bahasa Indonesia di Kazan Federal University serta penguatan kerja sama dengan ASEAN Center di Pacific National University, Khabarovsk, selain sejumlah universitas dan lembaga kajian di Rusia maupun Belarusia.
Dalam diskusi, peserta menilai pembelajaran Bahasa Indonesia perlu semakin dihubungkan dengan kebutuhan dunia kerja, pendidikan tinggi, pariwisata, bisnis, dan hubungan internasional. Promosi budaya juga dinilai akan lebih efektif apabila melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas lokal, diaspora, alumni penerima beasiswa, serta pelaku seni.
Seminar menyimpulkan bahwa diplomasi bahasa dan budaya memerlukan pendekatan yang kontekstual, kolaboratif, dan berkelanjutan karena setiap negara memiliki karakteristik serta kebutuhan yang berbeda. Melalui sinergi pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat, Bahasa Indonesia diharapkan semakin dikenal sebagai bahasa internasional yang memperkuat hubungan Indonesia dengan dunia.(*)
Editor: Abdel Rafi








