1.230 Akademisi Diterjunkan ke 53 Kawasan Transmigrasi

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat menghadiri pembekalan peserta TEP 2026 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026). (foto: Ardi W)

BOGOR, CAKRAWARTA.com – Kementerian Transmigrasi menerjunkan 1.230 akademisi dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk mempercepat pengembangan potensi ekonomi dan meningkatkan produktivitas di 53 kawasan transmigrasi di Indonesia.

Para anggota TEP yang terdiri atas guru besar, doktor, dan magister itu berasal dari sejumlah perguruan tinggi terkemuka. Sebelum diterjunkan ke lapangan, mereka mengikuti pembekalan di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026).

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan, TEP 2026 tidak sekadar menjalankan misi penelitian. Tim tersebut diharapkan mampu menerjemahkan hasil riset menjadi inovasi dan solusi konkret bagi persoalan yang dihadapi masyarakat di kawasan transmigrasi.

“Program TEP diharapkan mampu menciptakan produktivitas di kawasan transmigrasi,” kata Viva Yoga seusai pembukaan pembekalan TEP 2026 oleh Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Sebanyak 1.230 anggota TEP berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), IPB University, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Mereka akan disebar ke 53 kawasan transmigrasi, meliputi 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan prioritas di Papua.

Selama empat bulan, para akademisi tersebut akan menindaklanjuti rekomendasi TEP 2025 melalui berbagai program inovasi, kreasi, dan pengembangan potensi unggulan daerah.

Sejumlah wilayah yang menjadi lokasi penugasan antara lain Salor di Kabupaten Merauke, Papua Selatan; Selaut di Kabupaten Simeulue, Aceh; Lunang Silaut serta Muara Takung-Kamang Baru di Sumatera Barat; Batu Betumpang di Bangka Belitung; dan Barelang di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Menurut Viva Yoga, pembekalan diperlukan agar setiap anggota TEP memiliki pemahaman yang sama mengenai misi, kondisi lapangan, serta pendekatan yang diperlukan sebelum memasuki kawasan transmigrasi.

“Sebelum dilepas ke berbagai kawasan transmigrasi, anggota TEP diberi pembekalan berbagai materi keilmuan,” ujarnya.

Diseleksi dari 10.359 Pendaftar

Viva Yoga optimistis terhadap kapasitas para anggota TEP. Selain berasal dari berbagai perguruan tinggi unggulan, mereka terpilih melalui proses seleksi dari ribuan pendaftar.

Menurut dia, sebanyak 10.359 orang dari berbagai perguruan tinggi mendaftarkan diri untuk mengikuti TEP 2026. Bahkan, terdapat pendaftar yang berasal dari luar negeri.

“Yang mendaftarkan diri tercatat mencapai 10.359 orang dari berbagai kampus di Tanah Air, bahkan ada yang dari luar negeri. Mereka sosok-sosok yang cerdas dan manusia unggul,” kata Viva Yoga.

Dengan latar belakang tersebut, TEP juga diharapkan menjadi ruang pengabdian sekaligus tempat menempa kepemimpinan generasi muda dan kalangan intelektual Indonesia.

Viva Yoga mengatakan, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara berharap dari program tersebut kelak lahir calon-calon pemimpin Indonesia yang memiliki pengalaman langsung menghadapi persoalan masyarakat.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang akademik. Pengetahuan dan hasil penelitian harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Sebagai cendekiawan dan ilmuwan, apa yang digeluti di kampus harus mampu menjawab persoalan di kawasan transmigrasi,” ujar Iftitah.

Menurut dia, keberhasilan anggota TEP dalam memecahkan persoalan sekaligus menawarkan solusi bagi pengembangan kawasan akan menjadi salah satu pijakan bagi keberlanjutan program tersebut pada periode berikutnya.

Viva Yoga menilai kawasan transmigrasi dapat menjadi laboratorium sosial dan ekonomi dalam skala yang lebih luas bagi para akademisi. Pengalaman riset yang selama ini diperoleh di kampus diharapkan dapat diterapkan langsung untuk mengembangkan potensi wilayah.

“Bila sebelumnya mereka melakukan riset di laboratorium atau dalam lingkup yang lain, sekarang saatnya melakukan riset di kawasan yang lebih besar,” katanya.

Ia optimistis kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat melalui TEP 2026 dapat melahirkan inovasi yang aplikatif, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan transmigrasi.

Dengan demikian, TEP tidak hanya menjadi ekspedisi akademik, tetapi juga instrumen pengabdian yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.(*)

Kontributor: Ardi W

Editor: Abdel Rafi