
SURABAYA, CAKRAWARTA.com -Belakangan ini, angka perceraian di Indonesia menunjukkan tren yang cukup memprihatinkan. Berbagai alasan menjadi penyebab berakhirnya sebuah pernikahan, mulai dari persoalan ekonomi, perselisihan yang terus-menerus, kekerasan dalam rumah tangga, hingga hilangnya keharmonisan. Tidak sedikit pula pasangan yang memilih berpisah karena persoalan yang sebenarnya masih mungkin diselesaikan apabila keduanya mampu membangun komunikasi yang sehat.
Dalam Islam, perceraian memang merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Namun, kebolehan itu bukan berarti dianjurkan. Pernikahan adalah ikatan suci yang dibangun untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Karena itu, Islam mendorong setiap pasangan untuk berusaha mempertahankan rumah tangga selama masih ada jalan menuju perbaikan dan tidak terdapat kemudaratan yang lebih besar.
Rumah tangga sejatinya bukan tentang mencari siapa yang paling benar, tetapi bagaimana dua orang yang berbeda karakter belajar untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama mencari ridha Allah.
Memahami Pasangan dari Sudut Pandang Laki-laki
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Dalam hadis dijelaskan bahwa tulang rusuk memiliki bentuk yang bengkok. Pesan utama dari hadis ini bukanlah untuk merendahkan perempuan, melainkan mengingatkan laki-laki agar memahami karakter perempuan dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan.
Tulang rusuk memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu melindungi organ-organ vital dalam tubuh. Bentuknya yang melengkung justru menjadi bagian dari kesempurnaan fungsinya. Karena itu, hadis tersebut lebih tepat dipahami sebagai ajakan agar seorang suami tidak memaksakan kehendak kepada istrinya. Sebab apabila sesuatu dipaksakan secara kasar, justru hubungan akan rusak.
Maka, ketika muncul perbedaan pendapat, jalan terbaik adalah berdialog dari hati ke hati. Dengarkan apa yang sebenarnya diinginkan istri. Selama keinginannya tidak bertentangan dengan syariat Allah, sudah semestinya seorang suami berusaha memenuhinya sesuai kemampuan. Jika memang belum mampu, sampaikanlah dengan komunikasi yang baik, jujur, dan penuh kasih sayang.
Bagi suami yang memiliki karakter tegas atau temperamen kuat, seperti tipe koleris, mengendalikan emosi mungkin bukan perkara mudah. Namun di situlah letak ujiannya. Kepemimpinan dalam Islam bukanlah tentang menunjukkan kekuasaan, melainkan kemampuan mengendalikan diri, bersikap adil, dan memperlakukan keluarga dengan kelembutan.
Memahami Suami dari Sudut Pandang Istri
Di sisi lain, seorang istri juga perlu memahami bahwa suaminya adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Tekanan pekerjaan, tanggung jawab mencari nafkah, persoalan ekonomi, dan berbagai beban hidup sering kali memengaruhi kondisi emosinya.
Selama suami masih menjalankan kewajibannya kepada Allah, seperti menjaga sholat lima waktu, serta tidak melakukan tindakan yang melampaui batasan syariat, misalnya berkata kasar secara terus-menerus, melakukan kekerasan tanpa kendali, memukul wajah, merendahkan, atau menghina istri maka kesabaran, doa, dan komunikasi yang baik menjadi ikhtiar yang sangat penting untuk menjaga keutuhan rumah tangga.
Kesabaran bukan berarti membiarkan kezaliman. Islam tidak membenarkan segala bentuk kekerasan dan penghinaan dalam rumah tangga. Namun, apabila persoalan yang terjadi masih berupa konflik sehari-hari yang dapat diperbaiki, maka memperbanyak dialog dan saling menguatkan merupakan pilihan yang lebih baik daripada terburu-buru mengambil keputusan untuk berpisah.
Akar Permasalahan Rumah Tangga
Banyak konflik rumah tangga sebenarnya berawal dari persoalan yang tampak sederhana, tetapi jika dibiarkan akan berkembang menjadi pertengkaran yang semakin besar. Di antaranya adalah Stres akibat tekanan pekerjaan yang terbawa hingga ke rumah, Beban hutang yang membuat kecemasan dan Kebutuhan hidup yang terus meningkat tanpa diimbangi manajemen keuangan yang baik.
Ketiga persoalan tersebut sering kali memicu pertengkaran mengenai nafkah, pola pengasuhan anak, pembagian peran, hingga hilangnya rasa saling menghargai. Masalah yang semula hanya berkaitan dengan ekonomi berubah menjadi konflik emosional yang jauh lebih sulit diselesaikan.
Karena itu, pasangan suami istri perlu menyadari bahwa sering kali yang menjadi musuh bukanlah pasangan mereka, melainkan masalah yang sedang mereka hadapi bersama.
Menekan Ego, Memperkuat Komunikasi
Banyak rumah tangga hancur bukan karena kurang cinta, melainkan karena masing-masing lebih sibuk mempertahankan ego. Suami ingin selalu didengar, istri ingin selalu dimengerti. Keduanya sama-sama menuntut, tetapi mereka lupa untuk saling memahami. Ketika suami dan istri mau duduk bersama, saling mengungkapkan isi hati tanpa saling menyalahkan, banyak persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang bagaimana suami dan istri mampu mengalahkan ego masing-masing demi memenangkan keutuhan keluarga dan meraih ridha Allah. Jika salah satu merasa menang sementara pasangannya terluka, sesungguhnya yang kalah adalah keluarga itu sendiri.
Semoga Alloh melembutkan hati kita untuk bisa saling memahami dan menghargai dan memberikan petunjuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik, Aamiin.(*)
Kontributor: Sule
Editor: Abdel Rafi








