Bangsamoro Berguru ke PWNU Jatim, Pelajari Pesantren hingga Kurikulum Aswaja

Tim BARMM berfoto bersama dengan pengurus PWNU Jatim saat keduanya bertemu dan berdiskusi di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Jumat (24/7/2026). (Foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com –Delegasi Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, berguru ke Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Mereka mempelajari model pendidikan berbasis pesantren, kemandirian lembaga pendidikan, hingga Kurikulum Identitas Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang dikembangkan di lingkungan NU.

Delegasi yang didampingi Divisi Kurikulum Kementerian Pendidikan Filipina itu diterima jajaran PWNU Jawa Timur di Surabaya, Jumat (24/7/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan untuk melihat praktik pendidikan Islam dan pengelolaan pesantren di Jawa Timur.

Sebelum bertandang ke PWNU Jawa Timur, delegasi BARMM mengunjungi sejumlah pesantren dan lembaga pendidikan di Lamongan. Mereka melihat secara langsung bagaimana pesantren mengembangkan pendidikan dengan tetap mempertahankan tradisi keislaman sekaligus beradaptasi dengan sistem pendidikan formal.

Di PWNU Jawa Timur, delegasi diterima Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur Wafiyul Ahdi, Wakil Ketua PW Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jawa Timur Evi Fatimatur Rusdiyah, Sekretaris PW LP Ma’arif NU Jawa Timur M Fakhrul Irfan Syah, serta jajaran PWNU, LP Ma’arif NU, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, dan Aswaja Center.

Wafiyul mengatakan, ekosistem pendidikan NU tidak dapat dilepaskan dari pesantren. Dari lembaga pendidikan tradisional tersebut kemudian berkembang madrasah dan sekolah formal yang tetap mempertahankan nilai serta kultur kepesantrenan.

Menurut dia, perpaduan antara tradisi pesantren dan pendidikan formal menjadi salah satu karakter pendidikan di lingkungan NU.

”Lembaga pendidikan di lingkungan NU berbasis dari pesantren, kemudian berkembang menjadi pendidikan yang memadukan kepesantrenan dengan madrasah atau pendidikan formal,” kata Wafiyul.

Selain sistem pendidikan, ia menjelaskan kepada delegasi Bangsamoro mengenai kemandirian ekonomi yang selama ini menopang sejumlah pesantren dan madrasah.

Menurut Wafiyul, sebagian pesantren mempunyai sumber ekonomi mandiri, antara lain melalui pengelolaan lahan pertanian dan perkebunan. Sementara sejumlah madrasah mengembangkan unit usaha dengan melibatkan komite sekolah.

”Pesantren dan madrasah bersifat independen. Pemimpin pesantren umumnya memiliki sawah atau lahan pertanian dan perkebunan. Madrasah saat ini juga bersinergi dengan komite sekolah untuk membangun minimarket sehingga pesantren dan madrasah bisa berkembang secara mandiri,” ujarnya.

Model tersebut memungkinkan lembaga pendidikan mengembangkan sumber daya dan inovasi tanpa sepenuhnya bergantung pada dukungan pemerintah.

Mengenal Kurikulum Identitas Aswaja

Tak hanya mempelajari pesantren, delegasi Bangsamoro juga diperkenalkan dengan Kurikulum Identitas Aswaja dan Nahdlatul Ulama yang dikembangkan PW LP Ma’arif NU Jawa Timur.

Kurikulum tersebut dirancang untuk mempertemukan pendidikan keislaman, kebangsaan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tantangan yang dihadapi generasi muda.

Wakil Ketua PW LP Ma’arif NU Jawa Timur Evi Fatimatur Rusdiyah mengatakan, pengembangan kurikulum berangkat dari kebutuhan menjaga identitas keislaman dan keindonesiaan di tengah perubahan zaman.

”Kurikulum Identitas Aswaja dan NU kami susun sebagai ikhtiar menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri keislaman dan keindonesiaan,” ujar Evi.

Menurut dia, generasi muda perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan, melainkan juga karakter moderat serta kemampuan berpikir kritis dan beradaptasi dengan perubahan.

”Generasi muda harus memiliki karakter yang moderat, kritis, adaptif, sekaligus tetap kokoh memegang nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah,” katanya.

Dalam pertemuan itu, LP Ma’arif NU Jawa Timur turut memperkenalkan seri bahan ajar inovatif berbasis pendekatan STE(I)M dengan konsep ”MISI”. Model pembelajaran tersebut dirancang agar adaptif terhadap karakter Generasi Z dan Generasi Alpha.

Pendekatan itu mengintegrasikan literasi digital dan pembelajaran kolaboratif sekaligus mendorong kemampuan berpikir kritis serta kreatif peserta didik.

Materi yang diajarkan tidak hanya berkaitan dengan praktik keagamaan. Kurikulum juga membahas strategi dakwah Islam Nusantara dan diskursus hukum Islam, antara lain ijtihad, taklid, dan bahtsul masail.

Peserta didik juga diperkenalkan dengan nilai dan pedoman organisasi NU, mulai dari Khittah Nahdliyah dan Mabadi Khaira Ummah hingga keberadaan berbagai badan otonom NU.

Tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat turut menjadi bagian dari pembelajaran. Di antaranya peringatan Maulid Nabi, Nisfu Sya’ban, tawasul, dan ziarah.

Berbagai materi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan penguatan identitas keagamaan peserta didik.

Dari Jawa Timur untuk Bangsamoro

Menurut Evi, keseluruhan pembelajaran diarahkan untuk melahirkan generasi yang mandiri, kritis, memiliki wawasan kebangsaan, sekaligus mampu menerapkan nilai moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

Kunjungan delegasi Bangsamoro, lanjut Evi, membuka peluang pertukaran pengalaman dan praktik baik dalam pengembangan pendidikan Islam antara Indonesia dan Filipina.

”Kami berharap pengalaman pendidikan yang dikembangkan LP Ma’arif NU Jawa Timur dapat menjadi ruang berbagi praktik baik dengan berbagai negara, termasuk Bangsamoro, sehingga nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin dapat terus berkembang melalui jalur pendidikan,” kata Evi.

Menurut dia, pengalaman pendidikan NU yang mempertemukan tradisi pesantren, pendidikan formal, perkembangan teknologi, dan wawasan kebangsaan dapat menjadi salah satu kontribusi Indonesia dalam pengembangan pendidikan Islam di tingkat internasional.

”Model pendidikan Aswaja An-Nahdliyah menjadi kontribusi Indonesia bagi penguatan pendidikan Islam moderat di tingkat global,” ujarnya.

Kunjungan delegasi Bangsamoro tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai ruang transmisi ilmu-ilmu keislaman. Pesantren juga berkembang menjadi ekosistem pendidikan yang berupaya menjawab perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan kebutuhan generasi baru tanpa meninggalkan akar tradisinya.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi