Micro Sleep Bukan Semata Kesalahan Driver

Alhamdulillah, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, menakdirkan penulis pernah bekerja di berbagai posisi. Mulai dari pekerjaan “atas” hingga “bawah”, dari back office sampai menjadi orang lapangan. Pengalaman itu membuat penulis belajar melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dan lebih berempati kepada saudara-saudara kita yang bekerja di jalan.

Saat ini saya memilih fokus menjadi supir. Bukan karena tidak punya pilihan lain, tetapi di usia sekarang saya merasa sudah tidak bisa lagi coba-coba. Cash flow keluarga harus tetap berjalan.

Belakangan ini kita sering mendengar kecelakaan yang disebabkan oleh micro sleep. Sayangnya, ketika kecelakaan terjadi, yang paling sering disalahkan adalah driver alias sopir. Padahal menurut hemat penulis, masalah ini jauh lebih kompleks. Ada tiga pihak yang sama-sama perlu melakukan introspeksi yaitu driver, pemilik usaha rental, dan tentu saja customer.

1. Driver

Memang ada sebagian driver yang lalai. Misalnya sudah disediakan kamar hotel untuk beristirahat, tetapi justru begadang, bermain ponsel, atau sekadar nongkrong.

Ada juga kebiasaan yang cukup berbahaya. Ketika mengantuk, sebagian driver justru menambah kecepatan agar rasa kantuk hilang. Padahal saat tubuh sudah sangat lelah, otak bisa saja memerintahkan tangan untuk membelokkan setir, tetapi respons tubuh terlambat. Di situlah risiko kecelakaan menjadi sangat besar.

Namun, kita juga perlu memahami kondisi mereka.

Untuk perjalanan dalam kota, rata-rata fee yang diterima sekitar Rp150.000. Luar kota dalam satu provinsi (di bawah 400 km pulang-pergi) sekitar Rp200.000, sedangkan luar provinsi sekitar Rp300.000. Untuk kendaraan besar memang ada tambahan sekitar Rp100.000-Rp150.000.

Dengan penghasilan seperti itu, banyak driver merasa harus terus mengambil order agar kebutuhan keluarga terpenuhi, apalagi jika istri tidak bekerja. Akibatnya, bekerja 20 hingga bahkan 30 hari dalam sebulan menjadi hal yang biasa.

Padahal pekerjaan mereka tidak dimulai saat mobil berangkat. Mereka harus bersiap sekitar dua jam sebelumnya. Jika keberangkatan pukul 04.00, berarti mereka sudah bangun pukul 02.00. Sebelum itu pun sering kali mereka harus menunggu unit datang, mencuci kendaraan, dan baru bisa pulang sekitar pukul 23.00 pada hari sebelumnya. Waktu istirahat menjadi sangat minim.

“Kalau mengantuk, kenapa tidak minta istirahat saja?”

Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul dari netizen.

Secara teori memang terdengar mudah. Tinggal bilang, “Pak, saya mengantuk. Saya izin istirahat sebentar.”

Namun, kondisi di lapangan sering kali tidak sesederhana itu. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut tidak sederhana.

a. Sungkan atau malu

Tidak semua driver berasal dari kalangan profesional yang berani menyampaikan ke penumpang untuk bisa berhenti sejenak. Apalagi jika driver tersebut adalah santri. Karakter mereka cenderung sungkan dan tidak enakan kepada penumpang.

Akibatnya, meskipun tubuh sudah sangat lelah, mereka memilih tetap menjalankan mobil daripada merasa merepotkan penumpang.

b. Itinerary yang terlalu padat

Tidak sedikit customer menyusun jadwal perjalanan hanya berdasarkan estimasi Google Maps.

Padahal, Google Maps hanya menghitung waktu kendaraan berjalan. Ia tidak memperhitungkan waktu berhenti untuk mengisi BBM, makan, salat, ke toilet, istirahat, ataupun kondisi kemacetan yang berubah-ubah.

Akibatnya, jadwal menjadi sangat rapat dan driver dituntut untuk selalu tepat waktu.

Penulis sendiri pernah mengalami kondisi seperti ini. Sejak awal perjalanan penulis sudah dikejar-kejar waktu karena agenda customer sangat padat, dan tujuan terakhir adalah bandara.

Dalam kondisi seperti itu, jika penulis berhenti untuk beristirahat, ada kemungkinan customer tertinggal pesawat. Sebaliknya, jika saya memaksakan diri terus mengemudi, keselamatan menjadi taruhannya.

Ada juga customer yang membuat jadwal sangat mepet dengan batas akhir pengembalian mobil. Misalnya menurut Google Maps kendaraan diperkirakan tiba pukul 23.30, padahal batas pengembalian pukul 24.00.

Driver akhirnya tertekan untuk terus mengejar waktu karena khawatir dianggap terlambat. Bukan tidak mungkin customer menolak membayar biaya tambahan apabila terjadi kelebihan waktu sewa. Dalam kondisi seperti itu, banyak driver memilih memaksakan diri tetap berjalan.

2. Pemilik Rental

Karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM), terkadang seorang driver yang esok paginya harus berangkat masih diminta mengambil unit atau mencuci mobil pada malam harinya.

Selain itu, penjadwalan juga perlu lebih memperhatikan kondisi fisik driver. Misalnya, setelah menempuh perjalanan jauh hari ini, sebaiknya keesokan harinya diberikan rute yang lebih ringan, bukan langsung kembali menempuh perjalanan panjang.

Target bisnis memang penting, tetapi keselamatan jauh lebih penting.

3. Customer

Customer juga memiliki peran besar dalam menjaga keselamatan perjalanan.

Memberikan waktu istirahat yang cukup kepada driver bukan berarti pelayanan menjadi buruk. Justru itu adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan semua penumpang.

Jika memungkinkan, sediakan waktu jeda dalam itinerary dan berikan tempat istirahat yang layak apabila perjalanan berlangsung beberapa hari.

Tahukah Anda siapa yang sering kali harus menanggung biaya ketika mobil mengalami ‘baret’ atau kecelakaan?

Yup, yang mengganti biaya perbaikannya adalah driver.

Karena itu, menurut hemat penulis, keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab driver. Memang driver harus disiplin mengatur waktu istirahat. Tetapi, pihak rental kendaraan harus membuat penjadwalan yang lebih manusiawi. Customer juga perlu menyusun jadwal yang realistis serta memberikan kesempatan kepada driver untuk beristirahat.

Karena, di balik kemudi ada seorang manusia yang memiliki batas kemampuan fisik.

Jangan menunggu kecelakaan terjadi baru kita menyadari bahwa *micro sleep* bukanlah kesalahan satu pihak, melainkan akibat dari sebuah sistem yang perlu diperbaiki bersama.

Menurut penulis, penutup “micro sleep bukanlah kesalahan satu pihak, melainkan akibat dari sebuah sistem yang perlu diperbaiki bersama” menjadi inti pesan tulisan ini. Kalimat tersebut tidak membebaskan driver dari tanggung jawab, tetapi juga mengajak pemilik rental dan customer untuk ikut berintrospeksi. Semoga. (*)

SULAIMAN RHOSYID

Pengurus IKA FST UNAIR dan Wiraswasta Muda