Hitungan AI dan Matematika Kompak, Argentina Lebih Difavoritkan Juara

Abdul Muis, pakar analisis matematika sepakbola IKA UNAIR cabang Bangkalan dalam ilustrasi berita.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Analisis berbasis akal imitasi atau artificial intelligence (AI) dan model matematika sama-sama mengarah pada satu kesimpulan yakni Argentina memiliki peluang sedikit lebih besar untuk menjuarai laga final melawan Spanyol. Meski demikian, selisih peluang kedua tim sangat tipis sehingga pertandingan diprediksi berlangsung sengit dan berpotensi ditentukan melalui perpanjangan waktu atau adu penalti.

Wakil Sekretaris Ikatan Alumni (IKA) Universitas Airlangga (Unair) Cabang Bangkalan yang juga pemerhati analisis matematika olahraga, Abdul Muis, mengatakan hasil simulasi probabilitas menunjukkan Argentina memiliki peluang menjadi juara sebesar 51,25%, sedangkan Spanyol 48,75%.

“Baik analisis AI maupun model matematika memberikan kecenderungan yang sama, yakni Argentina sedikit lebih diunggulkan. Namun, selisihnya hanya sekitar 2,5 persen sehingga pertandingan diperkirakan berlangsung sangat terbuka,” ujar Abdul Muis pada media ini, Sabtu (18/7/2026).

Menurut dia, simulasi dilakukan menggunakan pendekatan Expected Goals (xG) dan distribusi probabilitas untuk memproyeksikan berbagai kemungkinan hasil pertandingan. Nilai xG kedua tim pun hampir identik, yakni Spanyol 1,6575 dan Argentina 1,6800.

Data tersebut, kata Abdul Muis, menunjukkan kualitas serangan kedua tim relatif seimbang sehingga peluang mencetak gol juga nyaris sama.

Dalam waktu normal, peluang Argentina meraih kemenangan mencapai 39,03%, sedangkan Spanyol 38,09%. Sementara kemungkinan pertandingan berakhir imbang selama 90 menit tercatat 22,88%.

“Hasil yang paling mungkin terjadi pada waktu normal adalah skor 1-1 dengan probabilitas sekitar 9,89 persen. Ini memperlihatkan bahwa laga final berpotensi berlangsung sangat ketat hingga peluit panjang,” katanya.

Apabila pertandingan berlanjut ke babak tambahan, peluang kemenangan kedua tim juga tetap berimbang. Spanyol memiliki peluang menang pada perpanjangan waktu sebesar 27,83%, sedangkan Argentina 28,31%. Adapun kemungkinan laga tetap imbang hingga 120 menit mencapai 43,86%.

Menurut Abdul Muis, jika penentuan juara harus melalui adu penalti, Argentina kembali memiliki sedikit keunggulan. Tim berjuluk La Albiceleste itu memiliki peluang menang melalui adu penalti sebesar 57,22%, sedangkan Spanyol 42,78%.

Ia menegaskan, hasil simulasi tersebut bukanlah ramalan yang memastikan hasil pertandingan, melainkan gambaran ilmiah mengenai peluang berdasarkan data statistik dan model probabilitas yang lazim digunakan dalam analisis sepak bola modern.

“Matematika dan AI tidak menentukan siapa yang pasti menang. Keduanya hanya memotret peluang berdasarkan performa dan data yang tersedia. Di lapangan tetap ada faktor strategi pelatih, kondisi fisik pemain, mental bertanding, hingga momentum yang bisa mengubah hasil akhir,” ujarnya.

Meski demikian, Abdul Muis menilai konsistensi hasil antara simulasi AI dan model matematika memberikan gambaran bahwa Argentina memang sedikit lebih difavoritkan mengangkat trofi. Namun, dengan selisih peluang yang sangat tipis, satu gol, satu penyelamatan kiper, atau satu kesalahan pemain dapat menjadi penentu lahirnya juara dunia.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi