
SUMEDANG, CAKRAWARTA.com –Semangat merawat warisan leluhur menjadi benang merah dalam pertemuan masyarakat adat dari berbagai daerah bersama Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) di kawasan Dayeuh Luhur, Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang, Sabtu (4/7/2027). Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum berbagi gagasan mengenai sejarah, budaya, dan kekayaan Nusantara.
Kegiatan yang berlangsung di Saung Gajebo Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun itu dihadiri perwakilan masyarakat adat dari Bogor, Sukabumi, Bandung, serta sejumlah daerah lainnya. Hadir pula para sesepuh adat dan kuncen atau juru pelihara Makam Keramat Prabu Geusan Ulun yang selama ini menjaga nilai-nilai sejarah dan tradisi setempat.
Dalam suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan, para peserta berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah perubahan zaman. Sejarah Sumedang Larang, nilai-nilai budaya, serta kekayaan tradisi Nusantara menjadi pokok pembahasan yang mengemuka sepanjang pertemuan.
Ketua Majelis Adat Sumedang Larang (MASL), Susane Febriaty, S.H., mengatakan, silaturahmi tersebut menjadi momentum memperkuat jejaring antarmasyarakat adat sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya bangsa.
“Kami ingin Majelis Adat Sumedang Larang menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai komunitas adat. Pertemuan ini bukan sekadar membahas sejarah, melainkan membangun kesadaran bersama untuk menjaga kekayaan budaya Nusantara. Dari Sumedang untuk Indonesia,” ujar Susane saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (5/7/2026).
Menurut dia, kehadiran masyarakat adat dari berbagai daerah menunjukkan bahwa nilai-nilai leluhur masih memiliki daya hidup dan relevansi dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Diskusi semakin dinamis ketika narasumber, Tri, memaparkan materi mengenai kekayaan budaya Nusantara, sejarah peradaban, serta potensi kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa. Paparan tersebut memancing antusiasme peserta yang aktif berdialog dan mengajukan berbagai pertanyaan.
Salah seorang peserta dari Bogor mengaku sengaja datang untuk memperdalam pengetahuan mengenai sejarah dan tradisi yang berkembang di Sumedang Larang.
“Kami datang untuk belajar langsung dari para sesepuh. Pertemuan seperti ini mengingatkan kami pada jati diri, sekaligus memperkuat semangat menjaga tanah, budaya, dan nilai kebersamaan yang diwariskan para leluhur,” ujarnya.
Para sesepuh adat dan kuncen Makam Keramat Prabu Geusan Ulun turut berbagi kisah mengenai perjalanan sejarah Prabu Geusan Ulun, termasuk nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian kepada masyarakat, serta pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Silaturahmi ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Para peserta berharap forum serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan sebagai wadah mempererat persaudaraan antarmasyarakat adat sekaligus memperkuat upaya pelestarian sejarah, budaya, dan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.(*)
Kontributor: Andy Java
Editor: Abdel Rafi








