
PAMEKASAN, CAKRAWARTA.com – Pelatihan Kepemimpinan yang diselenggarakan Pelajar Islam Indonesia (PII) di SDIT Multazam, Pamekasan, Madura, resmi ditutup pada Minggu (28/6/2026). Selama tujuh hari, puluhan pelajar tingkat SMP dan SMA/sederajat mengikuti pembinaan kepemimpinan, penguatan karakter, serta peningkatan kemampuan beradaptasi menghadapi tantangan zaman.
Penutupan kegiatan dihadiri Ketua Pembina Yayasan Keluarga Besar PII Pamekasan Syaifur Rizal, M.Pd., Pelaksana Tugas Direktur RSUD SMART Pamekasan dr. Syaiful Hidayat, jajaran pengurus PII, instruktur, panitia, dan para peserta.
Dalam sambutannya, Syaifur Rizal mengatakan proses kaderisasi merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi pelajar yang memiliki integritas, kapasitas kepemimpinan, serta kepedulian terhadap masyarakat.
“Leadership Training bukan sekadar kegiatan selama tujuh hari. Ini adalah awal perjalanan panjang bagi para pelajar untuk terus belajar, berjuang, dan mengabdi. Bekal ilmu, pengalaman, dan persaudaraan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan menjadi modal menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Syaiful Hidayat menilai pembinaan karakter dan kepemimpinan menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung cepat. Menurut dia, kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi merupakan kompetensi yang perlu terus diasah sejak usia sekolah.
Selama pelatihan, peserta mengikuti berbagai materi, mulai dari penguatan nilai-nilai tauhid, kepemimpinan, kemampuan berbicara di depan umum, diskusi, simulasi pemecahan masalah, kerja sama tim, hingga pengembangan karakter. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelajar dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengalaman dan memperluas jejaring pertemanan.
Mengusung tema “Meneguhkan Mental Adaptif Pelajar dalam Menghadapi Tantangan Kemandirian Hidup Melalui Penanaman Nilai-Nilai Tauhid”, pelatihan ini diarahkan untuk membangun karakter pelajar yang mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Panitia berharap pengalaman yang diperoleh peserta tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Dengan demikian, proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan pelajar yang memiliki kemampuan memimpin, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesiapan menghadapi perubahan.(*)
Kontributor: Inung
Editor: Abdel Rafi








