Lulusan MA Alif Laam Miim Tembus PTN, Santri Raih Prestasi hingga Level Internasional

Momen purnawiyata MTs dan MA Alif Laam Miim di DBL Arena, Surabaya, Minggu (21/6/2026).  (foto: Mukani)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Madrasah Aliyah (MA) Alif Laam Miim Surabaya kembali mencatatkan capaian akademik. Sebanyak 25 lulusan kelas XII tahun ini telah diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri, sementara dua lainnya masih menanti pengumuman seleksi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Capaian itu disampaikan dalam purnawiyata 59 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan 25 siswa MA Alif Laam Miim di DBL Arena, Surabaya, Minggu (21/6/2026). Acara tersebut dihadiri ratusan wali santri, perwakilan Kementerian Agama Kota Surabaya, serta sejumlah akademisi dari perguruan tinggi di Jawa Timur.

Ketua Yayasan sekaligus Pengasuh Alif Laam Miim, Nyai Hj Ida Rohmah Susiani, mengatakan, para lulusan MA diterima di sejumlah kampus, antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Negeri Malang.

”Dari 25 santri kelas XII, sebagian besar sudah diterima di perguruan tinggi negeri. Dua santri masih menunggu pengumuman. Kami berharap capaian tahun lalu, ketika seluruh lulusan diterima di PTN, dapat dipertahankan,” kata Ida.

Menurut dia, pendidikan di Alif Laam Miim tidak hanya diarahkan pada capaian akademik. Santri juga didorong untuk memaknai proses belajar sebagai jalan membangun kemandirian, karakter, dan keberkahan ilmu melalui khidmah atau pengabdian.

”Belajar bukan hanya tentang mencari ilmu, melainkan juga bagaimana ilmu itu membawa keberkahan bagi diri sendiri dan lingkungan,” ujarnya.

Purnawiyata tidak hanya diisi prosesi pelepasan siswa. Sejumlah santri menampilkan karya dan capaian mereka, termasuk presentasi karya ilmiah remaja. Dalam prosesi wisuda, nama setiap siswa ditampilkan bersama rekam jejak prestasinya selama menempuh pendidikan.

Prestasi para santri datang dari beragam bidang, mulai dari olimpiade sains, musabaqah tilawatil Quran, paskibra, pencak silat, atletik, hingga bulu tangkis. Sejumlah capaian bahkan diraih pada tingkat internasional, nasional, provinsi, dan kota.

Kepala Seksi Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Surabaya Fatkhul Mubin mengapresiasi peran lembaga pendidikan pesantren dalam melahirkan generasi penghafal Al Quran di tengah kehidupan kota metropolitan.

Ia menilai, purnawiyata bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penanda ikhtiar pendidikan dalam menyiapkan generasi muda. Namun, ia mengingatkan pentingnya pendampingan terhadap santri di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.

”Perkembangan digital memiliki banyak manfaat, tetapi juga menyimpan sisi negatif yang perlu diantisipasi bersama. Lembaga pendidikan harus terus mendampingi anak-anak,” katanya.

Puncak acara ditandai dengan doa ubun-ubun oleh KH M Ihya’ Ulumuddin dan Nyai Ida Rohmah Susiani. Para siswa kemudian bersungkeman sebagai simbol penghormatan kepada guru dan orang tua sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Ketua Pembina Yayasan Alif Laam Miim, Prof Dr Masdar Hilmy, berpesan agar para lulusan tidak menjadikan kelulusan sebagai titik akhir. Ia meminta mereka menjaga karakter dan akhlak dalam setiap tahap kehidupan.

”Kelulusan ini bukan tujuan akhir. Ini adalah tujuan antara untuk memasuki episode berikutnya dengan lebih serius dan fokus,” ujar Masdar.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya itu juga mendorong para alumni untuk hadir sebagai pribadi yang memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat.

”Jaga akhlaqul karimah. Berikan warna yang baik bagi keluarga dan lingkungan kalian,” katanya.

Salah seorang wali santri, Hj Ansari, mengaku terharu melihat capaian para lulusan. Ia menilai pendidikan pesantren telah membentuk anaknya menjadi lebih mandiri, sekaligus memperkuat capaian akademik dan keagamaan.

”Awalnya kami hanya merencanakan tiga tahun. Namun, anak saya kerasan hingga enam tahun. Sekarang ia lebih mandiri, akhlaknya baik, dan hafalan Al Qurannya sudah khatam 30 juz,” ujar anggota Komisi VIII DPR itu.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi