
Penasbihan Muhammad
Saat masuki tempt berkhalwat
Sang Agung, Tak Tertukarkan: Malaikat
menyala benderang, suci, tegak tegap,
Muhammad tak meminta. Berharapboleh tetap menjadi si pedagang,
meski perjalanan niaga kacaukan jiwa.
membaca, ia tak pernah – kini dipaksa
mengeja firman, bagi cendekia pun tak gampang.Tegas menuntut, Sang Malaikat tak lelah-lelah
sodorkan tulisan, seperti tuan pada hambanya,
tak kenal ampun dan tegas menuntun: Bacalah!la pun menyatu dengan bacaan,
bisa dan ada dalam membaca. Dan firman
pun diwujudkan. Malaikat keder, takjub, terdiam.
(Paris, 1907). – Rainer Maria Rilke (1875-1926), dalam Der Neuen Gedichte anderer Teil dari Kedalaman, Terarah Padamu (2020), Editor dan Penerjemah: Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono.
Dalam buku From Goethe to Rilke: The Conception of Prophethood and the Image of the Prophet Muhammad in Western Poetry (2016), Senail Özkan(71) yang merupakan akademisi di Istanbul Turki dan alumnus S3 Sastra Jerman Universitas Bonn, menyoroti bagaimana Rainer Maria Rilke memandang konsep kenabian (profetologi) Muhammad sebagai figur universal yang melampaui batas agama.
Özkan menekankan bahwa bagi Rilke, kenabian bukan sekadar institusi religius, melainkan pengalaman eksistensial yang menyingkap kedalaman manusia.
Nabi Muhammad digambarkan sebagai “a voice that carries eternity,” sebuah frase yang Özkan kutip untuk menunjukkan bagaimana Rilke melihat kenabian sebagai jembatan antara dunia fana dan transendensi.
Rilke, dalam puisinya, sering menekankan keterhubungan manusia dengan wahyu dan keheningan batin.
Özkan mengaitkan hal ini dengan cara Rilke menempatkan Muhammad sebagai simbol penyatuan antara kata dan jiwa.
Salah satu kutipan yang relevan dari puisi Rilke adalah, “Who speaks of victory? To endure is all.”
Özkan membaca baris ini sebagai resonansi dengan ketabahan profetik Muhammad, yang tidak sekadar menang secara historis, tetapi menanggung beban spiritual demi umat manusia.
Lebih jauh, Özkan menafsirkan bahwa bagi Rilke, kenabian Muhammad adalah model keberanian eksistensial.
Dengan kata lain, menerima wahyu berarti menerima keterasingan, penderitaan, dan tanggung jawab besar.
Dalam kerangka ini, Nabi Muhammad tampil bukan hanya sebagai tokoh Islam, tetapi sebagai figur universal (iswatun hasanah) yang menegaskan bahwa kenabian adalah panggilan untuk menanggung “the weight of the word“ demi “rahmatan lil alamin.“
Özkan menulis bahwa Rilke melihat kenabian sebagai “a solitude filled with divine presence,” yang mencerminkan pengalaman Muhammad di gua Hira.
Dengan demikian, ulasan Özkan menunjukkan bahwa Rilke memandang Muhammad sebagai simbol kenabian yang menyingkap dimensi terdalam manusia yaitu keberanian untuk mendengar, menanggung, dan menyampaikan suara transendensi.
Lain halnya, Berthold Damshäuser, Indonesianis dari Universitas Bonn, Jerman yang akrab disapa Pak Trum.
Sebagai seorang indonesianis sekaligus penerjemah puisi Jerman-Indonesia, vice versa, memaknai puisi Rilke, Mohammeds Berufung, dengan kepekaan ganda yakni kepekaan filologis terhadap bahasa Jerman dan kepekaan kultural terhadap resonansi Islam di Indonesia.
Dalam tanggapannya, ia menekankan bahwa Rilke berhasil menangkap momen profetik Muhammad dengan intensitas dramatik yang jarang ditemukan dalam puisi Barat.
Baris “Der Engel aber, herrisch, wies und wies/ihm, was geschrieben stand auf seinem Blatte,/und gab nicht nach und wollte wieder: Lies.”
Menurut Pak Trum, ada titik (Stimmunglyrik) yang disebut “Nachdichtung”, di mana bahasa Jerman ikut menggetarkan gema wahyu Qur’ani, khususnya perintah Iqra’ yang dihadirkan Rilke.
Selengkapnya adalah sebagai berikut:
Mohammeds Berufung
Rainer Maria Rilke
Da aber als in sein Versteck der Hohe,
sofort Erkennbare: der Engel, trat,
aufrecht, der lautere und lichterlohe:
da tat er allen Anspruch ab und bat
bleiben zu dürfen der von seinen Reisen
innen verwirrte Kaufmann, der er war;
er hatte nie gelesen – und nun gar
ein solches Wort, zu viel für einen Weisen.
Der Engel aber, herrisch, wies und wies
ihm, was geschrieben stand auf seinem Blatte,
und gab nicht nach und wollte wieder: Lies.
Da las er: so, dass sich der Engel bog.
Und war schon einer, der gelesen hatte
und konnte und gehorchte und vollzog.
Sebagai penerjemah, Pak Trum akan menyoroti bagaimana Rilke menempatkan Muhammad bukan sekadar sebagai figur sejarah, melainkan sebagai simbol universal tentang panggilan kenabian (Berufung des Prophet).
Ia mungkin menekankan bahwa frase “bleiben zu dürfen der von seinen Reisen/innen verwirrte Kaufmann” mengandung paradoks yang indah.
Gagasan intinya, Nabi yang ingin tetap menjadi pedagang biasa, justru dipanggil (Berufung) untuk menanggung beban kata(ayat) Allah.
Dalam bahasa Indonesia, nuansa ini bisa diterjemahkan sebagai “pedagang yang kebingungan oleh perjalanan batinnya,” sebuah gambaran yang dekat dengan pengalaman spiritual Nusantara: eling.
Pak Trum akan melihat puisi ini sebagai jembatan antara tradisi Jerman dan Islam, di mana Rilke, dengan lirisisme khasnya, menyingkap universalitas kenabian Muhammad.
Ia akan menekankan bahwa momen ketika Nabi akhirnya membaca -“Da las er: so, dass sich der Engel bog”- adalah klimaks yang memperlihatkan bagaimana wahyu bukan hanya mengubah manusia, tetapi juga membuat malaikat tunduk hormat.
Bagi Pak Trum, inilah kekuatan puisi Rilke bahwa ia tidak sekadar mengisahkan.
Akan tetapi, ikut menghidupkan kembali getaran profetik dalam bahasa yang asing namun tetap menyentuh.
Sebagai sedikit catatan kritis, perspektif profetologi Islam diacu dari cendekiawan asal Pakistan yang hijrah ke Amerika, tepatnya, di universitas Chicago dan McGill.
Dalam perspektif Fazlur Rahman, sebagaimana ia uraikan dalam Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958), kenabian Muhammad dipahami sebagai fenomena moral dan intelektual yang berakar pada pengalaman manusia, bukan sekadar peristiwa supranatural.
Jika pandangan ini dipakai untuk membaca puisi Rilke Mohammeds Berufung, maka momen profetik yang digambarkan Rilke yaitu ketika Nabi awalnya menolak dan memohon untuk tetap menjadi “pedagang yang kebingungan” (verwirrte Kaufmann), dapat ditafsirkan sebagai ekspresi keraguan manusiawi yang kemudian ditransformasi oleh wahyu menjadi kekuatan moral.
Rahman menekankan bahwa wahyu adalah “divine guidance embodied in human consciousness,” sebuah bimbingan ilahi yang menyatu dengan kesadaran manusia.
Hal ini selaras dengan baris Rilke, “Da las er: so, dass sich der Engel bog.”
Membaca di sini, Iqra (اقرأه) bukan hanya tindakan literal, melainkan simbol transformasi eksistensial.
Cakupannya, Nabi yang tadinya tidak bisa membaca, kini menjadi pembawa kata ilahi -“la ayah tili ulul albab“- sehingga bahkan malaikat pun tunduk hormat.
Dengan demikian, dari sudut pandang Fazlur Rahman, puisi Rilke tentang panggilan Muhammad tidak hanya menggambarkan peristiwa religius, tetapi juga menyingkap inti profetologi.
Dengan demikian, kenabian sebagai proses internalisasi wahyu ke dalam kesadaran manusia, yang menjadikan Nabi bukan sekadar penerima pesan, melainkan teladan moral universal atau uswatun hasanah dan raḥmatanlil-‘ālamīn. (*)
#coverlagu: Lagu “Rindu Rasul” karya Bimbo pertama kali populer di era 1980-an sebagai salah satu lagu religi ikonik Indonesia. Kelak, dirilis ulang dalam berbagai versi termasuk kolaborasi dengan Iin Parlina serta versi terbaru oleh Sam Bimbo pada 2 April 2024 dan film Rindu Kami padaMu (2004) oleh Garin Nugroho.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








