
SEOUL, CAKRAWARTA.com – Korea Selatan sedang mengalami perubahan yang mungkin sulit dibayangkan satu dekade lalu. Di negara yang selama bertahun-tahun identik dengan budaya minum bersama rekan kerja, pesta soju hingga larut malam, dan tradisi hoesik yang melekat dalam kehidupan sosial, konsumsi alkohol kini justru mengalami penurunan tajam.
Data terbaru pemerintah Korea Selatan menunjukkan pengeluaran rumah tangga untuk minuman beralkohol pada kuartal pertama 2026 turun sekitar 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi penurunan tercepat dalam tujuh tahun terakhir sekaligus memperpanjang tren pelemahan konsumsi alkohol yang telah berlangsung selama beberapa kuartal berturut-turut.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar yakni ada apa dengan Korea Selatan?
Bagi banyak pengamat sosial, jawabannya bukan sekadar soal perubahan pola konsumsi, melainkan pergeseran budaya yang lebih mendasar.
Selama puluhan tahun, alkohol menempati posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Korea Selatan. Minum bersama bukan hanya aktivitas rekreasi, tetapi juga bagian dari etika sosial, sarana membangun jaringan profesional, hingga simbol solidaritas di lingkungan kerja.
Tak sedikit pekerja yang merasa wajib menghadiri acara minum bersama atasan dan kolega setelah jam kerja. Dalam budaya perusahaan tradisional Korea, menolak ajakan tersebut bahkan sering dianggap kurang menghargai hubungan profesional.
Namun, lanskap itu kini mulai berubah.
Generasi Baru, Gaya Hidup Baru
Perubahan paling nyata terlihat pada generasi muda Korea Selatan. Alih-alih menghabiskan malam di bar atau restoran, banyak anak muda kini lebih tertarik pada aktivitas kebugaran, olahraga, komunitas hobi, hingga berbagai kegiatan yang mendukung kesehatan fisik dan mental.
Kesadaran terhadap pentingnya pola hidup sehat meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai tren seperti lari jarak jauh, pusat kebugaran 24 jam, yoga, pilates, hingga pola makan sehat semakin populer di kalangan masyarakat urban.
Bagi generasi muda, menjaga kebugaran tubuh kini dianggap lebih bernilai dibandingkan menghabiskan malam dengan konsumsi alkohol berlebihan.
Perubahan preferensi tersebut turut mendorong lahirnya budaya konsumsi yang lebih moderat. Banyak warga Korea Selatan masih mengonsumsi alkohol, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dan dengan frekuensi yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya.
Sejumlah analis menilai pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik balik penting. Pembatasan sosial yang berlangsung selama beberapa tahun memaksa masyarakat mencari cara baru untuk berinteraksi tanpa harus berkumpul di restoran atau tempat hiburan malam.
Ketika aktivitas ekonomi dan sosial kembali normal, kebiasaan lama ternyata tidak sepenuhnya kembali. Pekerja muda yang telah terbiasa dengan fleksibilitas kerja dan komunikasi digital mulai mempertanyakan relevansi budaya minum bersama yang selama ini dianggap wajib. Dalam banyak kasus, hubungan profesional kini dapat dibangun tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di meja makan dengan botol alkohol.
Penurunan konsumsi alkohol juga mulai dirasakan pelaku industri. Produsen minuman beralkohol menghadapi perubahan selera konsumen yang semakin mengutamakan kesehatan. Di sisi lain, permintaan terhadap minuman rendah alkohol maupun tanpa alkohol menunjukkan peningkatan.
Restoran, bar, dan berbagai bisnis yang selama ini bergantung pada budaya minum juga dituntut beradaptasi dengan perilaku konsumen yang berubah. Di sejumlah kawasan hiburan Seoul, berbagai konsep usaha baru mulai bermunculan, mulai dari kafe tematik, pusat kebugaran, hingga ruang komunitas yang menawarkan alternatif kegiatan sosial tanpa alkohol.
Lebih dari Sekadar Angka
Penurunan konsumsi alkohol di Korea Selatan sesungguhnya mencerminkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar statistik ekonomi. Di balik angka penurunan 9% itu, tersimpan transformasi cara pandang generasi baru terhadap kesehatan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Jika dahulu segelas soju sering dianggap simbol kebersamaan dan kedekatan, kini semakin banyak warga Korea Selatan yang meyakini bahwa hubungan sosial dapat dibangun tanpa tekanan untuk ikut minum.
Perubahan itu mungkin berlangsung perlahan dan nyaris tanpa gejolak. Namun, bagi negara yang selama puluhan tahun dikenal dengan budaya minumnya yang kuat, penurunan konsumsi alkohol ke level terendah dalam tujuh tahun menjadi sinyal bahwa Korea Selatan sedang memasuki babak sosial dan budaya yang baru. Dan bagi banyak orang, perubahan itu baru saja dimulai.(*)
Kontributor: Rika
Editor: Abdel Rafi








