
“Guru bukan hanya penyampai pengetahuan; mereka adalah para penanam ketahanan dan penjaga demokrasi.” – Randi Weingarten(68), Why Fascists Fear Teachers: Public Education and the Future of Democracy (2025)
Setelah sembilan hari Indonesia merayakan Hardiknas, pada 11 Mei 2026 lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin (73) melakukan sebuah gestur yang sarat makna.
Seusai menghadiri Parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah pada 9 Mei -sebuah acara yang menjadi simbol kebanggaan nasional Rusia- ia menjemput mantan gurunya, Vera Dmitriyevna Gurevich, dari sebuah hotel di Moskow dan mengajaknya makan malam di Kremlin.
Dengan mengenakan pakaian santai, membawa bunga, dan memeluk gurunya, Putin memperlihatkan sisi personal yang jarang muncul di panggung politik.
Ia sendiri yang mengantarkan Vera, yang saat itu berusia 88 tahun, dengan mobil Aurus SUV menuju Kremlin.
Vera Gurevich bukan sekadar guru bahasa Jerman di masa sekolah Putin di Leningrad, melainkan sosok yang pernah mendorongnya untuk lebih serius belajar, bahkan sampai mendatangi rumahnya untuk memberi motivasi.
Kehadiran Vera dalam hidup Putin menjadi bagian dari narasi bahwa seorang guru dapat meninggalkan jejak mendalam pada muridnya, bahkan ketika murid itu kelak menjadi pemimpin negara.
Dalam kesempatan itu, Putin berkata, “Guru adalah orang yang membentuk kita sejak awal, mereka memberi kita bukan hanya pengetahuan, tetapi juga arah hidup.”
Ucapan Putin mencerminkan rasa hormat yang ia tunjukkan kepada Vera, sekaligus menegaskan peran guru sebagai fondasi moral dan intelektual bagi generasi muda.
Gestur undangan pertemuan, guru dsn murid, ini tidak hanya menampilkan kedekatan pribadi, tetapi juga membawa pesan politik.
Di tengah isu isolasi internasional dan rumor mengenai penggunaan “body double,” Kremlin menampilkan sisi manusiawi Putin melalui momen yang hangat dan penuh nostalgia.
Dengan mengajak gurunya ke Kremlin, ia seolah ingin menunjukkan bahwa di balik citra keras seorang pemimpin, ada ruang untuk rasa terima kasih dan penghargaan terhadap sosok yang membentuk dirinya sejak remaja.
Peristiwa ini menjadi refleksi lain bahwa hubungan guru dan murid melampaui ruang kelas.
Guru tidak hanya mengajarkan bahasa atau ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang kelak menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan.
Dalam konteks era milenial, kutipan Putin tersebut terasa relevan: guru tetap menjadi figur yang membentuk arah hidup generasi muda, meski tantangan zaman kini berbeda dengan masa lalu.
Untuk memperoleh respon kritis atas tindakan moral Putin, buku Why Fascists Fear Teachers: Public Education and the Future of Democracy (2025) karya Randi Weingarten dapat menajamkan empati dan apresiasi kita terhadap para guru.
Weingarten, yang saat ini berusia 68 tahun dan masih aktif menjabat sebagai Presiden American Federation of Teachers sejak 2008, menulis buku ini sebagai “surat cinta” kepada guru sekaligus peringatan tentang ancaman otoritarianisme.
Buku ini menggambarkan bagaimana guru, melalui tindakan sehari-hari seperti menumbuhkan empati, berpikir kritis, dan pluralisme, menjadi benteng utama demokrasi.
Ia menyoroti sejarah perlawanan guru, misalnya di Norwegia saat pendudukan Nazi, dan mengaitkannya dengan kondisi Amerika saat ini di mana sekolah publik menghadapi pemotongan anggaran, sensor sejarah, serta kampanye politik yang memecah belah masyarakat.
Menurutnya, para otoritarian takut pada warga negara yang terdidik karena mereka mampu membedakan fakta dari propaganda dan menuntut akuntabilitas politik.
Weingarten menekankan bahwa serangan terhadap guru bukan karena kesalahan mereka, melainkan karena peran penting mereka dalam membentuk masyarakat demokratis.
Buku ini mengkritisi upaya sistematis untuk melemahkan sekolah publik melalui privatisasi, homeschooling, dan sekolah berbasis agama atau daring, yang pada akhirnya dapat memecah masyarakat dan meninggalkan siswa paling rentan dengan sumber daya minim.
Namun ia tetap optimis bahwa guru dan sekolah publik dapat menjadi “antidot” terhadap kekerasan politik dan polarisasi, dengan menciptakan ruang aman, pluralistik, dan mendidik generasi muda untuk hidup bersama secara damai.
Relevansi buku ini bersifat global, termasuk bagi Indonesia, karena menyoroti peran guru bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai penjaga nilai demokrasi dan kebebasan.
#coversongs: Lagu “Katyusha” versi Balkaneros Banditos dirilis pada 30 Mei 2024 sebagai bagian dari album So Far So Good: Our Favorite Original, Traditional, and Cover Songs A to Z (Remastered 2024 Deluxe Edition).
Lagu Katyusha pertama kali dipentaskan pada 27 November 1938 oleh penyanyi jazz Valentina Batishcheva di Moskow, dengan lirik karya Mikhail Isakovsky dan musik ciptaan Matvey Blanter.
Lagu ini tetap membawa makna kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya yang berjuang di medan perang, tetapi versi Balkaneros memberi nuansa baru dengan ritme energik khas Balkan.(*)
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








