
Rasanya saat ini hidup di sebuah negeri di mana aturan-aturan formal dipenuhi, kurikulum dijalankan, tapi nilai-nilai kebaikan terasa seperti barang impor yang jarang dipajang di rak? Itulah kondisi yang ingin saya sebut sebagai “Republik Anomali”, yang menunjukkan gambaran sosial di mana proses mengajar bisa berlangsung lancar, namun proses mendidik justru mandek karena ketiadaan panutan dalam kebaikan. Di sini penulis ingin mengajak pembaca bercermin, mengapa kita bisa mudah memberi pelajaran, tapi susah menumbuhkan karakter; bagaimana panutan, atau ketiadaannya, memainkan peran krusial; dan apa yang bisa kita mulai lakukan bersama.
Mengajar mudah, karena ukurannya jelas. Ada silabus, materi, ujian, dan indikator pencapaian. Guru di kelas bisa membuka buku, menjelaskan konsep matematika, mengajarkan tata bahasa, atau memberi tugas proyek. Sistem pendidikan modern membuat kegiatan mengajar menjadi terstandarisasi; ada pedoman, pelatihan, dan alat penilai. Bahkan di era digital ini, materi bisa diakses lewat platform daring, video, dan aplikasi interaktif. Dengan kata lain, transfer pengetahuan bukan lagi hal yang mustahil karena tinggal ikuti prosedur, dan informasi itu akan sampai ke siswa.
Mendidik, berbeda. Mendidik menyangkut pembentukan hati, karakter, nilai, dan kebiasaan. Proses ini tidak mengenal kurikulum yang kaku; ia bergantung pada contoh hidup yang konsisten, keteladanan, pengulangan nilai, dan suasana lingkungan yang mendukung. Di sinilah masalah muncul. Ketika panutan dalam kebaikan langka, teori-teori tentang karakter anak hanya menjadi kata-kata indah di kertas. Anak belajar menghitung dan menulis rapi, tapi tidak belajar tentang empati yang nyata, tanggung jawab yang tulus, atau kejujuran yang menahun.
Panutan bukan sekadar sosok formal seperti guru atau kepala sekolah. Panutan adalah siapa saja yang memberi contoh konkret dalam keseharian, mulai dari orang tua yang memprioritaskan waktu bersama anak daripada karier semata, tetangga yang bersedia membantu tanpa memandang untung, pemimpin komunitas yang mengakui kesalahan, hingga pegawai kantor yang tetap jujur ketika ada godaan. Di Republik Anomali, banyak figur publik dan institusi menunjukkan perilaku yang bertolak belakang dengan pesan moral yang diajarkan. Ini menimbulkan disonansi belajar dimana anak mendengar ceramah tentang integritas di sekolah, lalu melihat pejabat bersikap sebaliknya di televisi. Apa yang diresapi? Kebingungan, lalu kecenderungan meniru perilaku yang terlihat menguntungkan meski tak beretika.
Fenomena ini juga diperparah oleh ritme hidup modern. Waktu bersama keluarga menyusut karena pekerjaan dan gadget atau gawai. Interaksi tatap muka yang hangat tergantikan oleh komunikasi singkat dan multitasking. Alhasil, contoh-contoh kebaikan yang dulunya ditransmisikan secara alami dari generasi ke generasi kini harus diupayakan sengaja, tetapi upaya itu seringkali terhambat oleh kelelahan, tekanan ekonomi, dan prioritas yang berbeda. Seorang orang tua mungkin ingin mendidik anaknya jujur, tetapi ketika mereka sendiri menganggap “sedikit berbohong putih” sebagai strategi sosial yang lazim, pesan mendidik menjadi samar.
Ada pula faktor teknologi dan informasi yang memengaruhi. Di satu sisi, internet menawarkan akses tak terbatas pada pengetahuan dan kisah inspiratif. Di sisi lain, ia mempercepat penyebaran perilaku negatif juga seperti hoaks, budaya instan, glamorisasi kesuksesan tanpa proses. Anak-anak dan remaja yang tumbuh di zaman layar menghadapi tekanan untuk meniru figur-figur publik yang viral, bukan tokoh panutan yang menempuh jalan panjang dengan integritas. Ketika idola adalah selebritas yang menonjolkan gaya hidup konsumtif atau kontroversial, menanamkan nilai-nilai sederhana seperti kerja keras, kejujuran, dan gotong royong menjadi tantangan besar.
Kita perlu menyadari bahwa mendidik memerlukan ekosistem. Sekolah saja tidak cukup; keluarga, komunitas, media, dan kebijakan publik harus saling menguatkan. Contohnya sederhana bahwa program sekolah yang mengajarkan literasi moral akan lebih berbuah bila orang tua mendukungnya di rumah, bila lingkungan sosial memberikan pengalaman nyata untuk berempati, dan bila pemerintah memberi insentif bagi praktik-praktik baik. Tanpa sinkronisasi ini, program penguatan karakter akan seperti tanaman yang disiram sekali lalu dibiarkan di bawah panas tanpa pelindung.
Lalu, siapa yang harus menjadi panutan? Idealnya tentu banyak pihak. Guru yang menjadi panutan tidak hanya mengajar, tetapi juga konsisten menunjukkan sikap adil, sabar, dan peduli. Orang tua menjadi panutan dengan perilaku sehari-hari seperti meminta maaf ketika salah, menunjukkan kerja keras, menghargai orang lain. Pemimpin komunitas dan pemangku kepentingan publik harus menegakkan etika dan transparansi. Bahkan anak-anak yang lebih tua bisa menjadi panutan bagi yang lebih muda jika diberi ruang untuk memimpin secara bertanggung jawab. Intinya bukan hanya menunggu “tokoh sempurna”, tetapi menciptakan jaringan panutan kecil di setiap lingkungan.
Praktik sederhana yang bisa dimulai di tingkat mikro cukup beragam. Di rumah, misalnya, kita bisa menerapkan rutinitas sederhana mulai makan bersama tanpa gawai, diskusi harian singkat tentang pengalaman kebaikan, memberi anak tugas rumah yang mengajarkan tanggung jawab, dan mencontohkan cara menyelesaikan konflik dengan kepala dingin. Di sekolah, pendekatan pembelajaran berbasis proyek sosial bisa mempertemukan teori dengan praktik seperti siswa bekerja sama menjalankan program kebersihan lingkungan, mengorganisir bakti sosial, atau membuat kampanye anti perundunfan (bullying). Di lingkungan komunitas, membuat kegiatan sukarela rutin seperti kerja bakti, perpustakaan mini, atau kelompok diskusi nilai sehingga membangun kultur kolektif yang menumbuhkan panutan.
Kuncinya adalah konsistensi dan keterhubungan. Ketika panutan hadir secara konsisten dalam berbagai konteks hidup anak, nilai-nilai itu bukan lagi sekadar pelajaran yang dipelajari untuk lulus ujian, melainkan bagian dari identitas. Anak belajar bahwa menjadi jujur tidak hanya soal mendapat nilai baik, tetapi soal membangun kepercayaan yang membuat hubungan dan kariernya kelak bertahan. Mereka melihat bahwa menolong orang lain memberi kebahagiaan yang lebih bertahan daripada sekadar likes di media sosial.
Republik Anomali bukan tak bisa diubah. Ia butuh niat kolektif dan langkah-langkah konkret. Pemerintah bisa mendukung dengan kebijakan yang mempromosikan keteladanan, misalnya transparansi pejabat, program-program kepemudaan yang menekankan pelayanan publik, serta dukungan pada guru dan keluarga melalui pelatihan parenting dan penguatan kesejahteraan. Media bisa mengangkat kisah-kisah panutan lokal dan menurunkan glamorisasi perilaku destruktif. Lembaga pendidikan perlu merancang kurikulum yang tidak hanya menilai kompetensi akademik, tetapi juga perkembangan karakter melalui asesmen yang relevan.
Tentunya, perubahan dimulai dari diri sendiri. Menjadi panutan tidak memerlukan pangkat atau popularitas. Seringkali, tindakan kecil kita sehari-hari yang diulang-ulang lebih berkesan ketimbang pidato besar. Menepati janji kecil, menghargai orang lain, berani mengakui salah, dan konsisten menunjukkan empati adalah bentuk panutan yang paling nyata. Kalau kita, sebagai orang dewasa, memilih untuk mencontoh kebaikan di hadapan anak, di tempat kerja, di lingkungan, maka kita menambal lubang-lubang di Republik Anomali itu satu demi satu.
Jadi, mari mulai dari hal-hal sederhana seperti mematikan telepon saat makan bersama, beri contoh saat marah, terlibat dalam kegiatan komunitas, dan jadilah orang yang mengatakan “maaf” ketika salah. Panutan tak muncul tiba-tiba; ia dibentuk oleh tindakan-tindakan kecil yang berulang, yang suatu hari akan menjadi warisan paling berharga bagi generasi selanjutnya. Republik yang anomali hari ini bisa menjadi republik yang beradab esok, jika kita mau mengajar dan, lebih penting lagi, mendidik melalui teladan. Semoga. (*)
HERY PURNOBASUKI
Guru Besar dan Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga








