PWNU Jatim Apresiasi Lompatan Ekonomi NU Bawean, BMT MWC Tambak Tembus Rp 14 Miliar

Tim PWNU Jatim saat turba ke Bawean, Gresik, Jumat (15/5/2026) malam. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

GRESIK, CAKRAWARTA.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengapresiasi perkembangan ekonomi dan pelayanan sosial yang dibangun warga Nahdlatul Ulama di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Salah satu capaian yang menjadi sorotan ialah keberhasilan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tambak mengembangkan Baitul Mal wat Tamwil (BMT) dengan aset menembus Rp 14 miliar.

Apresiasi itu disampaikan saat tim PWNU Jatim melakukan silaturahmi dan turun ke bawah (turba) ke Bawean, Jumat (15/5/2026) malam.

Rombongan PWNU Jatim dipimpin Wakil Rais Syuriah KH Abdul Matin Djawahir dan Wakil Katib Syuriah KH Ahmad Faris Idrisa. Turut hadir Wakil Ketua PWNU Jatim Prof Masykuri Bakri, KH Taufik Jalil, dan Wakil Sekretaris HM Taufik Mukti. Kedatangan mereka disambut Rais Syuriah PCNU Bawean KH Zubaidi Chumaidi, Ketua PCNU Bawean KH Moh Fauzi Rouf, serta jajaran pengurus PCNU dan MWCNU se-Bawean.

Selain berdialog di Kantor PCNU Bawean, rombongan PWNU Jatim juga meninjau langsung Klinik An-Nahdliyah, gedung BMT MWCNU Tambak, hingga kegiatan kaderisasi Ansor dan lembaga pendidikan LP Maarif NU.

Wakil Ketua PWNU Jatim Prof Masykuri Bakri mengatakan, capaian ekonomi yang diraih MWCNU Tambak menunjukkan bahwa NU di daerah kepulauan pun mampu tumbuh mandiri dan menjadi penggerak ekonomi umat.

“MWCNU Tambak ini luar biasa. Mereka tidak hanya bergerak dalam dakwah dan pendidikan, tetapi juga berhasil membangun kekuatan ekonomi umat melalui BMT yang asetnya sudah mencapai lebih dari Rp 14 miliar,” kata Masykuri.

Menurut dia, BMT tersebut baru berdiri sekitar 3,5 tahun lalu, tetapi telah berkembang pesat dengan hasil usaha mencapai sekitar Rp 2,2 miliar.
Selain penguatan ekonomi, MWCNU Tambak juga memiliki Klinik An-Nahdliyah yang menyediakan layanan rumah bersalin dan pengobatan umum dengan jumlah kunjungan pasien sekitar 20 hingga 25 orang per hari.

“PCNU Bawean layak menjadi percontohan karena mampu mengintegrasikan pelayanan keagamaan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Masykuri menilai, capaian tersebut menjadi bukti bahwa NU tidak hanya hadir dalam penguatan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat secara konkret.

Ia menambahkan, memasuki usia satu abad, NU dituntut terus memperkuat khidmah di bidang pendidikan, ekonomi, dan penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), terutama di tengah berkembangnya paham keagamaan transnasional yang cenderung ekstrem.

“NU harus terus hadir dengan wajah Islam yang moderat, toleran, dan menjaga persatuan bangsa. Dakwah digital juga penting diperkuat untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif,” katanya.

Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Bawean KH Zubaidi Chumaidi menegaskan bahwa perjuangan para ulama NU telah meninggalkan warisan besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Ia mencontohkan sikap ulama NU yang pada masa lalu menolak penghancuran situs-situs sejarah Islam di Arab Saudi.

“Kalau para ulama NU waktu itu tidak bersuara, mungkin banyak situs sejarah Islam sudah hilang. Itu menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir,” katanya.

Ketua PCNU Bawean KH Moh Fauzi Rouf mengatakan, PCNU Bawean yang berada di wilayah kepulauan kini memiliki lima MWCNU dan puluhan ranting aktif dengan berbagai kegiatan sosial-keagamaan.

Menurut dia, keberadaan BMT dan Klinik An-Nahdliyah menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian organisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap ada dukungan dari PWNU Jatim agar layanan kesehatan dan penguatan ekonomi umat ini bisa terus berkembang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, PCNU Bawean juga meminta dukungan PWNU Jatim dan pemerintah daerah untuk menertibkan praktik aduan sapi yang dinilai mulai mengarah pada perjudian dan memicu kriminalitas di masyarakat.

Kegiatan turba PWNU Jatim di Bawean ditutup dengan doa dan pemberian ijazah aurad dzikir oleh KH Abdul Matin Djawahir kepada para pengurus yang hadir.(*)

Editor: Abdel Rafi