Pesantren Masuk Era Digital, Bumi Sholawat-Al Yasmin Satukan Kekuatan Media Santri

Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Helmy M. Noor menyerahkan cinderamata kepada perwakilan Tim Media Pesantren Progresif Bumi Sholawat seusai pertemuan dan diskusi kedua lembaga di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, Selasa (5/5/2026). (foto: Al-Yasmin untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Transformasi pesantren ke era digital kian nyata. Pesantren Progresif Bumi Sholawat, Sidoarjo, dan Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, mulai menyatukan kekuatan melalui kolaborasi pengembangan media santri dan literasi digital.

Langkah itu ditandai dengan kunjungan Tim Media Pesantren Progresif Bumi Sholawat ke Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Selasa (5/5/2026). Sebanyak 16 ustadz dan ustadzah dari berbagai jenjang pendidikan mulai MI, MTs, MA hingga SMP dan SMA, ikut dalam rombongan tersebut.

Kedatangan mereka disambut oleh Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Helmy M. Noor, bersama jajaran pengelola. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman dalam pengelolaan media berbasis pesantren.

Ketua rombongan, Ustadzah Indah, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat peran pesantren dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi. Menurut dia, pesantren tidak lagi bisa berjalan secara konvensional, melainkan harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Kami ingin memperkenalkan tim media kami sekaligus membangun kolaborasi. Harapannya, pesantren bisa semakin siap menghadapi era digital tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.

Ia menilai Pesantren Digipreneur Al Yasmin telah menunjukkan model integrasi yang kuat antara nilai spiritual, intelektual, dan penguasaan teknologi. Model tersebut, menurutnya, menjadi contoh konkret bagaimana pesantren dapat berkembang secara relevan di tengah arus digitalisasi.

“Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana pesantren mampu memanfaatkannya untuk dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan santri,” kata Indah.

Lebih jauh, ia berharap sinergi ini membuka peluang bagi santri untuk memperdalam kemampuan di bidang media digital dan kewirausahaan. Dengan demikian, lulusan pesantren tidak hanya memiliki bekal keilmuan agama, tetapi juga kompetensi praktis yang dibutuhkan di masyarakat.

Sementara itu, Helmy M. Noor menyambut baik kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat jejaring antarpesantren. Ia menilai, era digital menuntut pesantren untuk saling terhubung dan berbagi sumber daya.

“Kolaborasi seperti ini penting agar pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri. Justru dengan bersinergi, kita bisa melahirkan santri yang lebih adaptif, kreatif, dan kompeten,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan adanya keterkaitan historis antara kedua pesantren, termasuk hubungan sanad keilmuan serta pengalaman pendidikan keluarganya di Bumi Sholawat. Hal itu, menurut dia, menjadi fondasi kuat untuk membangun kerja sama jangka panjang.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga diajak meninjau berbagai fasilitas digital yang dimiliki Pesantren Digipreneur Al Yasmin, mulai dari studio multimedia, ruang podcast, ruang editing, hingga lingkungan asrama santri.

Fasilitas tersebut menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan praktik digital secara langsung. Melalui pendekatan ini, santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu memproduksi konten dan mengelola media secara mandiri.

Kolaborasi antara Bumi Sholawat dan Al Yasmin ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kekuatan baru media santri sebagai sebuah upaya untuk memastikan pesantren tetap relevan dan berdaya saing di tengah percepatan era digital.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi