Hormuz dalam Bayang Tiga Kekuatan

Lereng Gunung Gede Pangrango terasa dingin dan sunyi. Namun, pikiran saya justru bergolak. Di Selat Hormuz, suhu politik sedang mendidih. Perlu diluruskan sejak awal bahwa ini bukan lagi semata urusan Iran melawan Amerika Serikat. Cara pandang seperti itu sudah usang. Kini, China berada di garis depan, hadir dengan kapal perang, rudal, serta kepentingan ekonomi yang sangat besar.

Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 33-50 kilometer. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak dunia melintasi jalur ini, dengan nilai mendekati 600 miliar dolar AS per tahun. China mengimpor sepertiga hingga setengah kebutuhan minyaknya dari jalur tersebut. Sekitar 90% ekspor minyak Iran pun mengalir ke China. Karena itu, wajar jika Beijing tidak dapat tinggal diam.

Pada 13 April 2026, Presiden Donald Trump memerintahkan blokade. Secara formal, hanya kapal yang menuju pelabuhan Iran yang dicegat, sementara kapal transit tetap diperbolehkan melintas. Namun, di laut yang penuh ketegangan dan kecurigaan, aturan di atas kertas kerap tidak berjalan mulus. Beberapa kapal tanker China dilaporkan tertahan.

Iran pun bereaksi. Garda Revolusi mengancam akan mencegah setiap kapal perang yang melintas. Ini bukan sekadar retorika. Menjelang negosiasi di Islamabad, kapal perusak Amerika Serikat berlayar dari Fujairah menuju Hormuz. Iran mengirim peringatan melalui Pakistan yaitu dalam 30 menit, kapal harus berbalik atau menjadi sasaran. Kapal tersebut akhirnya mundur. Tidak ada tembakan, tetapi pesannya tegas bahwa Iran menunjukkan keseriusannya.

China bergerak di dua lini. Di ruang publik, Beijing menyerukan de-eskalasi dan pembukaan jalur pelayaran. Di balik layar, mereka menekan Teheran agar menjamin keselamatan kapal tanker China. Kekhawatiran juga muncul terkait pasokan LNG dari Qatar, mengingat sekitar 30 persen impor LNG China melewati Hormuz.

Indonesia tidak berada di luar pusaran ini. Kapal tanker Pertamina ikut terdampak dan tertahan. Menteri ESDM mengakui bahwa proses evakuasi tidak mudah. Ini bukan sekadar kabar angin, melainkan peringatan bahwa posisi Indonesia dalam peta energi global masih rentan.

Ke depan, setidaknya ada tiga skenario. Pertama, stagnasi yang berkepanjangan. Negosiasi tidak menghasilkan terobosan, blokade berlanjut, dan ketegangan tetap tinggi tanpa konflik terbuka. Tidak ada pihak yang ingin mundur lebih dulu, tetapi semua menyadari bahwa perang terbuka akan sangat mahal.

Kedua, eskalasi terbatas. Kapal perang China dapat saja mengawal tankernya dan memaksa melintas, atau Iran melakukan tindakan militer terbatas terhadap kapal Amerika Serikat. Respons balasan hampir pasti terjadi, berupa serangan terbatas seperti penghancuran ranjau, serangan rudal ke instalasi pantai, atau kontak senjata singkat. Risiko utamanya terletak pada salah hitung di lapangan.

Ketiga, perang terbuka. Kemungkinannya kecil, tetapi tetap ada. Amerika Serikat bisa saja melakukan operasi militer besar, termasuk mengamankan fasilitas nuklir Iran. Sejumlah analis menyebutnya sebagai operasi paling berisiko sejak Perang Dunia II. Namun, tekanan ekonomi global, terutama lonjakan harga minyak, berpotensi menahan langkah tersebut.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia perlu bersikap lebih terukur. Pertama, memperjelas posisi. Prinsip non blok tidak berarti diam, melainkan memiliki sikap mandiri yang tegas. Kedua, mengurangi ketergantungan pada satu jalur energi. Diversifikasi sumber dan rute pasokan menjadi keharusan strategis.

Ketiga, menghidupkan kembali diplomasi aktif di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengalaman Indonesia di Dewan Keamanan dapat menjadi modal untuk mendorong aturan internasional yang lebih adil. Keempat, menjajaki kerja sama pemanfaatan jalur alternatif di kawasan Teluk, seperti pipa minyak menuju Laut Merah dan Teluk Oman. Kelima, memperkuat pertahanan siber, mengingat konflik modern juga berlangsung di ruang digital yang menyasar sektor energi dan pelabuhan.

Dari tempat yang dingin ini, Selat Hormuz tampak bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan panggung uji kekuatan tiga aktor besar yaitu Amerika Serikat dengan superioritas militernya, China dengan kepentingan energinya, dan Iran dengan posisi strategisnya. Ketiganya berada dalam keseimbangan yang rapuh.

Mungkin tidak ada yang dapat memastikan kapan konflik terbuka akan terjadi. Namun, satu hal jelas bahwa ketika kekuatan relatif seimbang, justru kesabaran yang menjadi variabel paling rapuh. Dan di perairan yang memanas itu, kesabaran kian menipis.

Indonesia tidak dapat menghentikan persaingan tersebut. Namun, Indonesia dapat memastikan diri tidak ikut terhanyut ketika kekuatan-kekuatan besar itu saling berhadapan. Semoga. (*)

Gunung Gede Pangrango, 15 April 2026

MAYJEN TNI (PURN) FULAD

Penasihat Militer RI untuk PBB (2017-2019)