Monday, March 30, 2026
spot_img
HomePolitikaMuktamar NU ke-35 Diharap Jadi Momentum Rekonsiliasi Nasional dan Lahirkan Kepemimpinan Baru

Muktamar NU ke-35 Diharap Jadi Momentum Rekonsiliasi Nasional dan Lahirkan Kepemimpinan Baru

Tokoh senior NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman saat ditemui di salah satu rumah makan di Surabaya beberapa waktu lalu. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, harapan besar datang dari kalangan warga akar rumput. Forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dinilai sebagai momentum penting untuk mengakhiri konflik internal sekaligus membuka jalan rekonsiliasi nasional.

Tokoh NU senior Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menyatakan rasa syukur atas rencana pelaksanaan Muktamar NU ke-35 dalam waktu dekat. Menurut dia, langkah tersebut menunjukkan kesadaran para petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bahwa konflik berkepanjangan tidak memberikan manfaat bagi organisasi maupun bangsa.

“Sebagai warga NU di akar rumput, kami bersyukur Muktamar segera dilaksanakan. Ini menandakan ada kesadaran bahwa konflik yang terlalu lama tidak menguntungkan bagi jam’iyah, jamaah, maupun bangsa,” ujar Sudarsono, Senin (30/3/2026).

Ia menilai, Muktamar NU ke-35 harus dimaknai lebih dari sekadar agenda pergantian kepemimpinan. Forum tersebut diharapkan menjadi pintu masuk rekonsiliasi nasional di tubuh NU, sekaligus menjadi titik balik untuk memperkuat peran organisasi di masa depan.

Menurut Sudarsono, warga NU menaruh harapan besar agar Muktamar melahirkan pemimpin baru yang tidak sekadar berorientasi pada distribusi kekuasaan, melainkan mampu membawa NU memasuki babak sejarah berikutnya.

“Bukan soal siapa mendapat apa, tetapi bagaimana NU dipimpin oleh sosok yang mampu menentukan arah masa depan organisasi,” kata Ketua PW IPNU Jatim periode 1988-1992 itu.

Ia merinci, setidaknya terdapat tiga harapan utama dari warga NU. Pertama, hadirnya kepemimpinan yang kuat, yang mampu menjaga kesinambungan tradisi dan nilai keilmuan Islam, sekaligus memiliki kemampuan navigasi politik tingkat tinggi.

Kedua, penguatan konsolidasi kelembagaan. Muktamar diharapkan dapat meningkatkan sinergi antara struktur internal NU dengan pemerintah, sehingga organisasi semakin solid dan efektif dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.

Ketiga, lahirnya pemimpin yang berintegritas, memiliki visi jelas, dan mampu menjadikan NU sebagai organisasi yang semakin kuat serta berpengaruh, baik di tingkat nasional maupun global.

Lebih jauh, Sudarsono juga menyinggung sejumlah tokoh yang dinilai memiliki kapasitas membawa perubahan bagi NU ke depan. Dari kalangan kiai sepuh, nama seperti KH. Asep Saifuddin Chalim dan KH. Said Aqil Siroj disebut sebagai figur berpengaruh.

Sementara dari jajaran kiai muda visioner, muncul sejumlah nama seperti KH. Marzuki Mustamar, KH. Zulfa Musthofa, Nasaruddin Umar, Nusron Wahid, serta Syaifullah Yusuf.

Menurut dia, kombinasi antara pengalaman kiai sepuh dan energi kiai muda menjadi modal penting untuk membawa NU menghadapi tantangan zaman. “Muktamar ini harus menjadi momentum lahirnya kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan masa depan, tanpa meninggalkan akar tradisi NU,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Sudarsono menyampaikan harapan agar Muktamar NU ke-35 benar-benar menjadi titik awal kebangkitan baru organisasi. “Selamat bermuktamar ke-35. Semoga membawa angin segar bagi NU ke depan,” kata dia.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular