Sunday, March 8, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomPerang di Mata Hewan

Perang di Mata Hewan

Perang biasanya kita ceritakan lewat angka. Terlihat sekian ribu korban, sekian kota hancur, sekian tank terbakar. Angka-angka itu berbaris seperti siswa upacara, rapi, tegas, tapi dingin.

Lalu datanglah Sean Penn, aktor sineas aktivis yang kariernya tak pernah puas hanya di karpet merah penghargaan dunia. Ia gemar mengubah momen getir menjadi karya kreatif, seolah setiap ledakan harus punya gema moral.

Dalam film “Animals in War”, karya terbarunya, ia memilih jalur bercerita yang tak biasa. Kali ini bukan manusia sebagai pusat tragedi, melainkan binatang.

Ia merangkai tujuh cerita pendek, tujuh makhluk tanpa paspor, dalam kemasan film yang apik. Tanpa pidato, tanpa akun media sosial, tapi justru paling jujur memantulkan wajah perang modern Ukraina-Rusia.

Film ini diproduksi sineas Ukraina sebagai respons atas invasi Rusia, dan sudah tayang perdana di Tribeca. Secara naratif, ia bukan propaganda berteriak, melainkan semacam doa yang patah-patah.

Setiap episode yang tujuh itu berdiri sendiri. Namun semua disatukan oleh satu kalimat tak tertulis: kemanusiaan diuji bukan saat damai, melainkan saat semua terasa tak masuk akal.

Kisah pertama tentang seorang bocah lelaki yang menuntun seekor sapi keluar dari desa yang diduduki. Ia bisa saja berlari sendirian, lebih cepat, lebih aman. Tapi ia memilih menarik tali tambang nasib bersama si sapi.

Adegan itu sederhana, tapi simboliknya seperti menampar kita pelan. Dalam situasi ekstrem, siapa yang kita selamatkan menunjukkan siapa diri kita yang sejati.

Dalam kacamata aktivisme Sean Penn, ini bukan soal hewan ternak, melainkan tentang kesetiaan pada yang lemah. Aktivisme baginya bukan konferensi pers, melainkan keberanian memanggul beban yang tidak menguntungkan secara politis.

Cerita kedua menghadirkan kelinci putih di tengah reruntuhan kota di Ukraina. Kelinci itu berpindah dari tangan ke tangan, mulai dari anak kecil, relawan, hingga tentara muda. Hewan bermata indah itu menjadi semacam saksi bisu yang tak bisa bersaksi di pengadilan mana pun.

Di sini film bermain antara realisme dan metafora. Kelinci yang tulangnya rapuh namun disayang anak-anak karena mata lucu dan kulit halusnya menjadi kontras brutal dengan suara artileri.

Sean Penn, yang lama dikenal turun langsung ke zona konflik dan bencana, seakan ingin berkata: lihatlah, yang paling tak bersalah justru paling duluan menjadi korban. Dalam logika aktivismenya, simpati harus dimulai dari yang paling tak berdaya.

Kisah ketiga tentang seorang pemuda Kyiv dan kucingnya. Masih di Ukraina. Saat listrik padam, sirene meraung, dan kota berubah menjadi labirin ketakutan, si pemuda tetap menggendong kucingnya saat mengungsi.

Ini bukan romansa sentimental. Ini potret psikologi perang di masa saja di seluruh belahan dunia. Hewan peliharaan sering menjadi jangkar kewarasan di tengah trauma.

Riset psikologi menunjukkan interaksi manusia-hewan dapat menurunkan stres dan menjaga stabilitas emosi. Film ini menjahit fakta itu menjadi narasi yang lembut. Sean Penn memaknainya sebagai bukti bahwa empati bukan kemewahan, melainkan kebutuhan bertahan hidup.

Ada pula cerita tentang seekor serigala bertubuh kekar yang terjebak di hutan terkontaminasi sisa-sisa perang. Hutan, yang biasanya netral, menjadi ladang ranjau.

Episode ini paling ekologis nadanya. Perang bukan hanya menghancurkan kota, tetapi juga ekosistem. Tanah, air, dan satwa liar menanggung konsekuensi yang tak masuk headline utama.

Dalam pola pikir aktivisme Penn, ini memperluas definisi korban yang terdampak perang. Bukan hanya warga sipil, tapi seluruh lanskap kehidupan.

Cerita berikutnya bergerak ke bawah laut,  sebuah dongeng surealis tentang kehidupan bawah air yang terguncang ledakan dan polusi. Ikan-ikan berenang dalam dunia yang tak lagi sunyi.

Adegan-adegan ini nyaris puitis, seperti puisi yang ditulis di atas ombak yang berdarah.

Pesannya jelas: perang modern bukan lagi konflik lokal; ia merembet ke ekologi global. Aktivisme Senn di sini menjadi seruan kesadaran lintas batas, bahwa kerusakan satu wilayah bisa menjadi beban planet.

Ada pula kisah penyelamatan anjing di sebuah kota di Ukraina yang dibombardir, dan cerita tentang hewan ternak yang ditinggalkan di wilayah pendudukan.

Semua disatukan oleh satu benang: warga biasa yang tak pernah berhenti membantu. Mereka bukan pahlawan sinematik dengan musik latar heroik. Mereka orang-orang biasa yang memilih tidak menjadi biasa dalam menghadapi kejahatan.

Sean Penn sendiri menyebut film ini sebagai pernyataan penting tentang bagaimana orang Ukraina, dan pasti juga orang di medan perang mana pun, mempertahankan kemanusiaan di tengah kekerasan dan kehancuran.

Kalimat itu terdengar klise jika dibacakan di seminar, tapi dalam film ini ia terasa organik.

Aktivisme Penn kerap menuai pro dan kontra, namun pola konsistennya jelas. Ia hadir, menyaksikan, dan mengangkat suara yang tertindas ke panggung global.

Secara artistik, film ini memadukan realisme keras dengan citraan puitik. Hewan-hewan menjadi cermin tanpa retorika. Mereka tak tahu geopolitik, tak paham NATO atau Kremlin, tapi tubuh mereka merasakan akibatnya.

Di sinilah film ini cerdas. Ia memindahkan pusat gravitasi empati dari debat politik ke ranah moral.

Kita sering mengira kemanusiaan itu konsep besar yang hanya layak dibahas di forum internasional. Padahal ia kadang tersembunyi dalam tindakan kecil: menggendong kucing, menuntun sapi, memberi makan anjing liar di tengah dentuman.

Film ini mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan bersenjata. Ia bisa berbentuk kesetiaan pada makhluk yang bahkan tak bisa mengucapkan terima kasih.

Perang memang menguji siapa yang paling kuat. Tapi lewat mata hewan-hewan itu, kita diingatkan bahwa ujian sebenarnya adalah siapa yang masih mampu merasa.

Dan mungkin di situlah letak aktivisme sejati yang ingin disampaikan Senn: bukan sekadar mengutuk kegelapan, melainkan menjaga agar hati tidak ikut menjadi reruntuhan.

Karena itu, angka-angka korban perang tetap akan dicatat sejarah. Namun wajah seekor sapi yang dituntun bocah keluar dari desa yang terbakar, atau kelinci putih di antara debu bangunan runtuh, mungkin lebih lama tinggal di ingatan kita.

Dari situlah empati tumbuh. Dan dari empati, tindakan menemukan jalannya.

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular