Friday, March 6, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (16): Meraih Tiga Keutamaan Puasa Ramadan

Esai Ramadan (16): Meraih Tiga Keutamaan Puasa Ramadan

(foto yang yang diunggah oleh panitia pelaksana Kafe Ramadan Remaja Mesjid Nurul Huda Kampung Ternate Manado)

“Kullu ‘amali ibni Adam lahu illa ash-shaum, fa innahu li wa ana ajzi bihi.”

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya.” — Shahih al-Bukhari(no. 5927) dan Shahih Muslim (no. 1151)

Memasuki sepuluh hari kedua bulan Ramadan, suasana silaturahmi di Kafe Ramadan Kampung Ternate Manado menghadirkan kesempatan untuk merenungkan kembali keutamaan puasa.

Dalam suasana santai, sambil duduk kongkow di salah satu stan, oleh panpel saya didapuk untuk menyampaikan tiga keutamaan Ramadan yang bersumber dari perintah Allah dalam Al-Baqarah ayat 183:

Ya ayyuhallazina amanu kutiba alaikumus shiyam kama kutiba alallazina min qablikum la’allakum tattaqun.

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa ditujukan khusus bagi orang-orang beriman, agar mereka menemukan kembali fitrah sebagai insan bertakwa.

Keistimewaan pertama terletak pada panggilan iman itu sendiri, yang menjadikan puasa bukan sekadar ritual, melainkan jalan menuju ketakwaan.

Keutamaan kedua dan ketiga berpijak pada hadis qudsi yang menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang ganjarannya langsung dari Allah, tanpa dicatat oleh malaikat.

Dari sini lahir tiga keutamaan besar yakni rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka (‘itqum minan nar).

Puasa menjadi ruang spiritual di mana Allah sendiri bertindak sebagai pemberi ganjaran, menjadikannya unik dibandingkan ibadah lain.

Tidak ada agama lain di dunia yang menempatkan Allah sebagai evaluator langsung atas perintahNya sendiri, sehingga Ramadan menjadi momentum yang sangat istimewa.

Keistimewaan berikutnya hadir pada sepuluh malam terakhir, ketika Allah menjanjikan malam qadar.

Dikutip Quran surah Al-Qadr berbunyi, “Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr.
Wa mā adrāka mā lailatul-qadr. Lailatul-qadri khairum min alfi syahr. Tanazzalul-malāikatu war-rūḥu fīhā biidzni rabbihim min kulli amr. Salāmun hiya ḥattā maṭla‘il-fajr.”

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.“

Malam ini turun pada malam-malam ganjil, dan ibadah yang dilakukan di dalamnya setara dengan seribu bulan, atau delapan puluh tiga tahun tanpa jeda.

Inilah fasilitas spiritual yang luar biasa, di mana itikaf di masjid menjadi jalan untuk meraih keberkahan malam qadar.

Dikutip dari Surah Al-Baqarah ayat 187 disebutkan, “…wa lā tubāshirūhunna wa antum ‘ākifūna fil-masājid...”

Artinya, “…dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu) sedang kamu beri‘tikaf dalam masjid…”

Ganjaran yang tak terhingga ini menunjukkan kasih sayang Allah yang Mahaluas, sekaligus mengingatkan manusia akan pentingnya syukur dan kesadaran dalam setiap ibadah.

Refleksi ini sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, yang menekankan keutamaan puasa sebagai sarana penyucian jiwa dan pengingat akan rahmat Allah.

Dikatakan Al Ghazali, “Ash-shaum nisfu ash-shabr, wa ash-shabr nisfu al-iman.”

Artinya:
“Puasa adalah separuh dari kesabaran, dan kesabaran adalah separuh dari iman.”

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan spiritual yang membebaskan manusia dari keburukan, kesalahan, kesesatan dan kelalaian.

Tiga keutamaan ini yakni ketakwaan, rahmat dan ampunan, serta malam qadar, menjadi fondasi bagi mereka yang beriman untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan penuh ganjaran, bulan pembebasan, dan bulan syukur yang mendalam.

#coverlagu: Lagu “Lailatul Qadar” yang dibawakan Hetty Koes Endang bersama Bimbo dirilis pada tahun 1992 di bawah label PT Musica Studios. Karya ini kemudian juga muncul dalam kompilasi kaset dan CD pada 1994. Maknanya adalah refleksi musikal tentang malam Lailatul Qadar, malam penuh keberkahan yang lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Qadr.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular