
“Yang penting, motivasi intrinsik tampaknya merupakan jenis motivasi yang lebih ampuh, karena, bisa dibilang, imbalannya berasal dari dalam otak kita sendiri.” — Dean Burnett (44) dalam Happy Brain: Where Happiness Comes From, and Why (2018)
Bisakah pikiran dipuasakan? Meski tampak relevan, jawaban atas pertanyaan ini memang tidak sederhana.
Karena puasa, biasanya dipahami sebagai penghentian aktivitas biologis seperti makan, minum, dan nafsu, untuk jangka waktu tertentu.
Sementara, pikiran sendiri bukanlah organ psiko-biologis yang bisa dihentikan begitu saja.
Pikiran merupakan aktivitas psikis yang terus berlangsung selama otak bekerja dan sepanjang nafas berhembus.
Karena itu, gagasan “memuasakan pikiran” lebih tepat dipahami sebagai upaya mengendalikan arus mental, menata gejala psikis, dan membatasi dorongan yang membentuk pengetahuan serta perilaku berpotensi destruktif.
Diacu dari Daniel Dennett (1942-2024), filsuf kognitif, dalam Ragam Akal Budi (2020), menegaskan bahwa pikiran tidak bisa dilepaskan dari tubuh.
Pikiran adalah hasil evolusi yang tercipta dari interaksi kompleks antara otak, tubuh, dan lingkungan, biosfer maupun nousfer.
Dengan demikian, “puasa pikiran” bukan berarti menghentikan kerja mental. Tapi, bagaimana menata dan mengendalikannya.
Atau pun, bagaimana mengatur cara pikiran beroperasi agar tidak terjebak dalam ilusi atau bias, serangan hoaks (infodemik) dan waham digital yang marak.
Sementara, Richard Brodie, lahir 1959 dan masih aktif sebagai penulis, dalam Virus Akalbudi (2005) menjelaskan bagaimana pikiran berperilaku seperti sistem biologis yang bisa terinfeksi “virus budaya.”
Dalam bukunya ini, Brodie menyebut di antaranya bahwa memetika agama dan ideologi sebagai bentuk penyebaran virus mental paling masif.
Dalam konteks ini, memuasakan pikiran berarti menahan diri dari arus ide yang merusak dan meluas begitu cergas dan cepat.
Di lain hal juga, membatasi konsumsi informasi dan menyaring gagasan agar tidak menjadi parasit dalam proses berkesadaran (councious mind).
Berikut ini, perspektif neurosains yang memberi kritik lebih tajam yang di antaranya berasal dari dua neurosaintis mutakhir.
Pertama, Antonio Damasio (81), neurolog dan profesor neurosains, psikologi, filsafat, dan neurologi di University of Southern California, sekaligus memimpin Brain and Creativity Institute.
Dalam Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain (1994), Damasio menunjukkan bahwa pikiran tidak bisa dipisahkan dari emosi.
Rasionalitas murni, menurutnya, adalah ilusi. Karena keputusan manusia selalu melibatkan perasaan yang hadir menyertai.
Memuasakan pikiran, dalam pandangan Damasio, berarti melatih kesadaran emosional agar tidak mendominasi secara destruktif, melainkan menyatu dengan praksis nalar.
Kedua, Donald B. Calne (89), lahir pada 4 Mei 1936 di London, Inggris, dan kini memasuki usia 89 tahun.
Ia adalah seorang ahli neurologi Kanada yang dikenal sebagai salah satu peneliti terkemuka dalam bidang penyakit Parkinson.
Calne pernah menjabat sebagai Direktur Neurodegenerative Disorders Centre di University of British Columbia (1981–2001) dan profesor neurologi di sana.
Saat ini ia sudah pensiun sebagai profesor emeritus, tetapi masih aktif dalam kapasitas akademik dan ilmiah, misalnya sebagai anggota National Parkinson Foundation’s Scientific Advisory Board.
Dalam Within Reason (Batas Nalar, 2004), Calne menandaskan bahwa nalar atau pikiran manusia memiliki batas.
Pikiran tidak bisa menjangkau segalanya, dan justru dengan keterbatasan itu, ia memberi ruang bagi kebijaksanaan untuk dikedepankan.
Memuasakan pikiran berarti menerima keterbatasan nalar, menahan dorongan untuk menguasai segalanya, dan memberi ruang bagi keheningan mental.
Dengan demikian, memuasakan pikiran bukanlah menghentikan aktivitas psikis, melainkan menata arus mental agar tidak dikuasai oleh hasrat biologis, virus budaya, atau ilusi rasionalitas.
Lebih jauh, memuasakan pikiran merupakan disiplin batin yang menggabungkan filsafat, psikologi, neurosains, dan tentu spiritualitas.
Dalam arti lain, pemuasaan pikiran merupakan sebuah latihan(learning exercises) untuk mengendalikan, menyaring, dan menyeimbangkan pikiran dalam menghadapi kompleksitas hidup.(*)
#coversongs: Album Wishful Thinking dirilis tahun 1984, direkam pada Oktober-November 1983 dan diproduseri oleh Earl Klugh sendiri bersama Roland Wilson dengan label Capitol Records. Album ini dianggap sebagai “summation” atau rangkuman gaya Earl Klugh sebagai gitaris dan komposer. Ia memadukan berbagai nuansa musik: pop, klasik, jazz, blues, reggae, hingga funk.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



