
“Tubuh adalah instrumen jiwa; kesehatan jasmani memengaruhi kejernihan akal dan kestabilan psikologis.” – Ibnu Sina (980-1037 M) dalam Psikologi Islami (Turos 2022)
Puasa sering dipahami sebagai pendisiplinan ulang tubuh biologis, tetapi ada sisi yang kerap terabaikan yakni dimensi psiko-terapi.
Dari perspektif fisik dan psikis, puasa sebagai terapi psiko-neurobiologi memiliki fondasi evaluasi ilmiah mutakhir yang menyoroti keterkaitan antara tubuh, otak, dan kesehatan mental.
Dalam artikel ilmiah “Psychological and Psychiatric Consequences of Prolonged Fasting: Neurobiological, Clinical, and Therapeutic Perspectives”, yang terbit di jurnal Nutrients pada 23 Desember 2025, dari Vincenzo Bonaccorsi dan Vincenzo Maria Romeo, mengulas pengaruh kejiwaan dari praktik puasa panjang (prolonged fasting).
Vincenzo Bonaccorsi aktif sebagai peneliti di Neurosinc, Catania, Italia, dengan fokus pada neuropsikologi dan kajian interdisipliner tentang puasa serta dampaknya pada otak dan perilaku.
Sementara, Vincenzo Maria Romeo adalah profesor di Universitas Palermo dan juga terlibat di School of Psychoanalytic and Groupanalytic Psychotherapy di Reggio Calabria, Italia.
Ia aktif dalam penelitian dan praktik psikoterapi, khususnya terkait aspek klinis dan psikoanalitik dari puasa berkepanjangan.
Keduanya pun masih aktif sebagai peneliti dan praktisi dalam bidang neuropsikologi serta psikoterapi kelompok.
Mereka mendefinisikan puasa berkepanjangan sebagai abstinensi sukarela dari asupan kalori lebih dari 24 jam.
Kajian mereka menunjukkan bahwa puasa jangka panjang memengaruhi neurotransmiter, sistem dopamin, dan mekanisme stres, sehingga berdampak pada mood, kognisi, dan regulasi emosi.
Secara klinis, puasa dapat meningkatkan kontrol diri, menurunkan gejala depresi ringan, dan memberi efek positif pada metabolisme.
Namun, risiko juga muncul berupa gangguan kecemasan, depresi berat, atau perilaku obsesif bila dilakukan tanpa pengawasan.
Implikasi konseling psikologisnya adalah bahwa puasa bisa digunakan sebagai intervensi perilaku bila dikaitkan dengan terapi, tetapi harus dipantau secara klinis.
Konselor dan psikoterapis perlu menimbang aspek spiritual, motivasi individu, serta kondisi kesehatan mental sebelum merekomendasikan praktik puasa berkepanjangan.
Kajian ini menekankan bahwa puasa bukan hanya fenomena biologis, tetapi juga modulator psikososial yang dapat berperan dalam terapi, dengan syarat dilakukan secara aman dan terintegrasi dalam kerangka konseling profesional.
Perspektif lain datang dari Dave Asprey (52), penulis, pengusaha, dan pembicara yang dikenal sebagai pendiri Bulletproof Nutrition serta tokoh dalam gerakan biohacking.
Dalam bukunya Fast This Way (Harper, 2021), ia menyoroti puasa sebagai strategi kesehatan fisik sekaligus mental.
Asprey menantang pandangan konvensional dengan menggabungkan riset ilmiah dan pengalaman pribadi.
Ia menekankan manfaat fisik puasa dalam membakar lemak, mengurangi peradangan, dan meningkatkan energi.
Dari sisi psikologis, puasa dipandang sebagai latihan pengendalian diri, manajemen stres, dan peningkatan fokus mental.
Asprey menganjurkan pendekatan personal, menyesuaikan puasa dengan kondisi biologis masing-masing orang, termasuk perbedaan gender dan genetik.
Ia juga membahas integrasi gaya hidup mulai dari pola makan, olahraga, hingga tidur, yang memperkuat manfaat puasa.
Selain itu, aspek mental dan spiritual turut disorot, menjadikan puasa sebagai cara melatih kesadaran diri dan membebaskan diri dari ketergantungan pada makanan.
Secara keseluruhan, Fast This Way mengajak pembaca melihat puasa sebagai praktik holistik yang menyentuh tubuh, pikiran, dan jiwa, bukan sekadar metode diet.
Dari kedua perspektif ini, kritik psikologi konseling dapat diacu melalui gagasan G. Hussein Rassool, profesor psikologi Islam di Charles Sturt University, yang masih aktif menulis dan meneliti.
Dalam karyanya Islamic Counselling (2019), Rassool menekankan bahwa konseling Islami harus berlandaskan nilai spiritual, maqasid, dan keseimbangan antara aspek psikologis serta religius.
Ia melihat praktik puasa sebagai bagian dari terapi Islami yang tidak hanya menata tubuh, tetapi juga jiwa.
Kritiknya terhadap konseling modern adalah kecenderungan mengabaikan dimensi spiritual, padahal dalam tradisi Islam, puasa merupakan sarana penyucian diri yang dapat memperkuat proses konseling.
Kerangka paradigma Konseling Islam dari Rassool didasarkan pada:
1. Landasan Tauhid:
Semua proses konseling berpusat pada keyakinan akan keesaan Allah. Tauhid menjadi fondasi dalam memahami diri, masalah, dan solusi.
2. Orientasi Spiritual:
Konseling diarahkan untuk membantu konseli mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat iman, dan menemukan makna hidup melalui ibadah serta nilai-nilai Qur’an dan Sunnah.
3. Model Sirkular/Spiral:
Rassool menekankan bahwa konseling Islami bersifat sirkular, bukan linear. Dengan kata lain, proses konseling berlangsung dinamis, berulang, dan berkembang sesuai kebutuhan konseli, dengan fokus pada pertumbuhan spiritual dan psikologis.
4. Integrasi Psikologi dan Syariah:
Konseling Islami menggabungkan teknik psikologis dengan prinsip syariah. Misalnya, penggunaan teknik refleksi diri (muhasabah), doa, dzikir, dan pembacaan ayat-ayat Qur’an sebagai bagian dari proses terapi.
Konseling Islami bertujuan berikut ini:
– Mengembalikan keseimbangan jiwa (nafs, qalb, ruh, ‘aql).
– Membantu konseli menghadapi masalah dengan sabar dan tawakal.
– Mendorong konseli untuk berperan positif dalam masyarakat.
Dikutip ayat dalam Surah Al-A‘la (87:14–15) yang menganjurkan pemulihan jiwa raga itu sebagai metode konseling berikut, Qad aflaḥa man tazakkā • Wa zakarasma rabbihi fa ṣallaa, yang artinya adalah, “Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri(dari kekafiran dan maksiat), dan dia ingat nama Tuhannya lalu dia shalat.”
Ayat ini menekankan bahwa keberuntungan sejati ada pada penyucian jiwa, mengingat Allah dan menegakkan shalat sebagai bentuk penghambaan (zakarasma rabbihi fa sallā).
Merujuk model praktis Konseling Islam versi Rassool dikenal sebagai mohon petunjuk Tuhan (seeking God’s assitance) dan yang yakin kepada Tuhan (putting trust in God) dengan niat bangkit (awakening intention).
Untuk itu, peran konselir tidak hanya sebagai fasilitator psikologis, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual yang menuntun konseli pada jalan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Paradigma ini menegaskan bahwa konseling Islami bukan sekadar terapi mental, melainkan proses holistik yang menyentuh aspek spiritual, moral, sosial, dan psikologis.
Dengan demikian, puasa sebagai terapi psiko-neurobiologi dapat dipahami sebagai jembatan antara pendekatan ilmiah mutakhir.
Dan konseling berbasis nilai spiritual bisa menghasilkan praktik yang lebih utuh, aman, dan bermakna.
#coversongs: “Music Therapy” dari SUFI Assaf Goren(34) dirilis 15 November 2024 oleh Records DK (via DistroKid). Assaf (Asaf) Goren adalah seorang penari, musisi, dan performer asal Tel Aviv, Israel. Ia masih aktif berkarya di bidang musik dan pertunjukan, selain dikenal dari reality show seperti So You Think You Can Dance dan Are You The One? Album ini direkam secara live bersama band, dengan tujuan menangkap energi kebersamaan dan improvisasi khas musik SUFI. Mereka menekankan koneksi, mendengarkan, dan ruang ekspresi antar musisi.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



